just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Senin, 24 Oktober 2011

COKEK l Gusblero




ROMANCE D'AMOUR

“Apakah kita sudah terlambat?” Tanya Om Surya.
“Nampaknya belum, Om. Kalau pun iya, apa sih sukarnya bagi Om membuat semacam pesta kecil-kecilan lagi?” Ujar Cokek seraya memicingkan sebelah matanya.

Keduanya kembali tertawa. Seorang waitress yang berpakaian rok mini bergegas menyambut Om Surya dan Cokek, lalu mempersilakan keduanya segera bergabung dengan tamu undangan lain yang telah hadir dalam ruangan itu.

“Ramai juga ya….” Komentar Om Surya begitu melihat begitu banyaknya tamu undangan yang hadir.
“Jakarta, Om. Apalagi malam tahun baru.” Cokek menimpalinya. Ia melambaikan sebelah tangannya untuk memanggil salah seorang pelayan yang nampak membawa nampan berisi minuman.

Cahaya lampu dalam ruangan itu bersinar warna-warni. Pohon-pohon buatan dengan aneka warna bunga yang masih nampak segar disusun berjajar rapi di sepanjang dinding dengan kerlap-kerlip lampu Natal menghiasi tangkainya.

Di atas kaso-kaso yang tinggi bergantungan balon-balon beraneka warna terikat dalam satu rangkaian kombinasi pita yang memikat. Beberapa lampion yang berwarna merah menyala juga tidak ketinggalan terpancang di beberapa sudut ruangan. Dekorasi dalam pesta menyambut tahun baru itu mirip hiasan pesta warga Tionghoa. Namun siapa pula yang akan peduli soal dekorasi?

Orang-orang yang hadir di malam itu semuanya hanya perlu relaks dari sekadar belenggu rutinitas yang telah menciptakan satu siklus kehidupan yang monoton dari hari ke hari, dari setumpuk pekerjaan yang satu ke pekerjaan-pekerjaan berikutnya, dari client job yang satu menuju client target berikutnya.

Delapan buah speaker berukuran besar-besar menumpuk di salah satu sisi ruangan, dibagi dua di letakkan di sebelah kiri dan kanan stage yang tingginya kira-kira hanya dua puluh lima centimeter dari lantai. Lalu di depan seperangkat sound system yang tertata rapi di atas panggung seorang Disc Jockey menggoyang-goyangkan tubuhnya seraya mengeja beberapa kalimat dari bait-bait lagu yang terdengar patah-patah. Dengan matanya yang terpejam seakan mengeja lagu demi lagu dengan penuh penghayatan, kedua tangannya yang kurus terus menari-nari dan bergerak dengan lincahnya memenceti piringan hitam yang terus berputar satu-persatu.

Mata Cokek menyapu seisi ruangan. Dan ketika ia kembali menoleh, dilihatnya Om Surya tengah melihat ke arahnya sambil tersenyum.

“Ayo, tunggu apalagi?” Tanya Om Surya kepada Cokek.

Cokek sebetulnya ingin menyampaikan sesuatu. Namun sejauh ini ia merasa cukup puas hanya dengan menonton beberapa pasangan dansa yang tengah asyik menari sambil menyampaikan beberapa salam pendek dengan ucapan yang cukup keras kepada orang-orang yang dikenalnya.

“Kamu tidak perlu sungkan-sungkan. Ini acara bebas kok. Oh iya, ayo aku kenalin kamu ke beberapa kolega.” Tiba-tiba Om Surya berkata, lalu tanpa menunggu jawaban ia telah merangkul bahu Cokek menuju ke sisi ruangan lainnya.

Keduanya kemudian berjalan melewati beberapa pasangan yang tengah menari dua-dua. Sementara dalam jarak yang hanya sekitar sepuluh meter jauhnya nampak dua orang laki-laki serta seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan tengah asyik berbincang-bincang  sendiri.

“William…..!” Terdengar Om Surya memanggil.
“Surya….! Ni hau ma, apa kabar?” orang yang dipanggil William oleh Om Surya itu segera mendekat seraya melebarkan kedua lengannya untuk merangkul pundak Om Surya.
Heng hau, sangat baik. Kamu masih sempat juga kongkow-kongkow, Bill.” Ucap Om Surya lagi.
“Kapan lagi mesin tua begini bisa brain washing kalau bukan pada saat-saat seperti sekarang ini. Hahaha….!” Jawab William.
“Oh iya, kenalkan ini Dino teman baru kita.” Lanjut William seraya memperkenalkan laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
Tui pu chi, maaf, saya juga sampai lupa. Pemuda ini namanya Cokek, sekutu baru. Saya sedang bertaruh apa ia bisa memegang Surya Agency suatu hari nanti.” Balas Om Surya. Dengan sedikit menekan punggung Cokek ia seakan memberikan kode kepada Cokek untuk berdiri sedikit maju. Mereka kemudian saling tertawa.
Ahai, bagi kaum perempuan sudah tidak ada lagi tempat di sini nampaknya?!” Perempuan yang sedari tadi berdiri di belakang William tiba-tiba ikut-ikutan bersuara. Dengan menggeser tiga langkah ke depan ia pun segera bergabung dalam kerumunan rombongan Om Surya.
Ai ai, hahaha..! Perkenalkan, ini Nona Febrina, Cokek. Bagaimana kita semua bisa silap dengan perempuan muda yang terus berjaya walau di jaman resesi seperti sekarang ini. Hahaha…! Tui pu chi tui pu chi, maaf…maaf.” Kembali Om Surya menoleh ke arah Cokek untuk memperkenalkan perempuan yang berdiri di hadapan mereka.

Cokek tidak menjawab. Ia tengah menatap kedua bola mata Febrina yang dihiasi warna biru kelabu di sekitar irisnya. Kebetulan Febrina juga tengah menatapnya.

          “Cokek.” Cokek mengulurkan tangannya. Berhubungan dengan yang namanya perempuan sebetulnya sudah bukan barang yang asing lagi baginya. Namun entah kenapa berhadapan dengan sosok seorang perempuan yang tampil begitu elegan di hadapannya seperti Febrina tak urung membuat hatinya sedikit bergetar juga. Dengan menyunggingkan senyum Cokek berusaha untuk tetap menguasai keadaan.

“Febrina.” Perempuan itu menjawab. Suaranya yang sedikit mendesah terdengar begitu sensual di telinga Cokek hingga membuatnya sedikit menahan nafas. Selepas itu diam. Cokek mencoba mengalihkan getaran the first shock of shaking hand dengan memandang sekilas ke arah gaun penuh renda-renda yang membalut tubuh putih Febrina. Mawar merah di atas…..

“Ini pesta yang sungguh-sungguh meriah!” Ucap William tiba-tiba.
“Betul, tunggu apalagi? Kamu sudah menyiapkan pasangan untuk kita dansa khan, Bill?”  Tanya Om Surya kepada William.
“Masa saya disuruh yang begituan. Tapi buat kamu pasti ada, Surya.” Jawab William sambil mengerdipkan sebelah matanya.
“Febrina?!”
“Kamu mau minta perusahaan kamu dilikuidasi ya? Hahaha….!” William tertawa terbahak-bahak.
”Kalau begitu biar Cokek saja yang nemenin.” Cokek ingin angkat bicara, namun sebelum ia sempat mengeluarkan kata-kata Om Surya telah berbisik ke telinganya.
Ssstt……kalau bisa kamu tempel terus Febrina. Walau perempuan dia itu pemegang otorita pendayagunaan BUMN di negeri ini.”

Ups! Wajah Cokek tiba-tiba sedikit menegang. Mendadak ia merasa tak ubahnya anak kecil yang masih saja harus dijelaskan segala sesuatunya sebelum mengambil langkah. Beruntung suasana pesta pada malam itu sangatlah meriah, hingga ia bisa menyembunyikan kejengahan yang terpancar di wajahnya.

“Iya lah Om, kita lihat saja nanti.” Jawabnya pendek.

Om Surya dan William sama-sama tertawa. Keduanya kemudian berjalan menuju ruang yang ada di sebelahnya bersama Dino. Sementara pesta terus berlanjut. Musik dalam ruangan kian menyalak-nyalak dan membahana.





“Pestanya sangat ramai.” Cokek membuka percakapan setelah ia dan Febrina tinggal berhadap-hadapan berdua.
“Iya.” Jawab Febrina.
“Anda tampak sangat cantik eh….maksud saya sangat serasi dengan pakaian yang anda kenakan.” Cokek merasa sedikit kelepasan omong, dan nyaris ia menyalahkan kelakuan mulutnya sendiri.
“Tidak usah pake formil-formilan lah, nggak perlu pake anda atau saya segala. Bilang saja aku, atau kamu.” Ucap Febrina, nampaknya serius. Ia tersenyum ke arah Cokek yang tampak merasa bersalah telah memberikan sedikit komentar yang kebablasan dalam pertemuan mereka yang masih sangat dini.
“Ini……”  Tatapan mata Cokek menyelidik.
“Kita jadi berteman tidak?” Febrina justru balik bertanya.
“Baiklah, kalau itu mau kamu.” Akhirnya Cokek sedikit bernafas lega. Sebuah beban yang sangat berat sepertinya telah lenyap begitu saja.

“Kamu datang ke sini sendirian atau…?” Cokek mencoba sedikit lebih berani.
“Sama teman sih, tapi tujuannya ya sendiri-sendiri.” Jawab Febrina.
“Tidak sama someone?”
“Tidak.”
“Punya pacar?”
“Tidak.”
“Pernah punya pacar?”
“Pernah.”
“Lantas?”
“Ia mengalami kecelakaan di laut.”
“Maaf.” Kali ini Cokek betul-betul merasa bersalah. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya di wajah.
“Tidak apa-apa. Itu sudah cukup lama.” Kata-kata yang keluar dari bibir Febrina terasa sedikit bergetar. Selebihnya sunyi. Masing-masing mencoba menerka isi hati, masing-masing mencoba untuk menjaga diri.

“Jadi…sampai sekarang masih sendiri?” Cokek kembali membuka percakapan.
“Iya.”
“Belum punya pacar?”
“Belum.” Jawab Febrina lirih. Suaranya lebih menyerupai bisikan. Ia menatap ke arah Cokek dan memperhatikan pemuda berambut ikal yang terlihat tampan dengan jas warna abu-abu dan celana panjang casualnya itu. Selebihnya kembali sunyi. Masing-masing mencoba menjajagi perasaan hati, masing-masing mencoba bertahan untuk tidak mendahului.

Pesta terus berlanjut. Kian mendekati saat pergantian tahun jumlah para pengunjung kian membludak. Dalam sekejap pengunjung yang berdatangan kian bertambah dan berlipat ganda meliputi berbagai macam usia. Gelas-gelas minuman pun tergeletak di mana-mana karena para pelayannya pun ternyata ikut larut dan mabuk terhanyutkan pesta. 

Semua orang bersuka ria dan suasana pesta menjadi cenderung berubah mengerikan. Seorang perempuan muda dengan rambut disemir warna magenta mencoba berdiri di atas meja dan mencoba menari-nari di sana. Namun tubuhnya yang agak subur terlihat oleng, entah karena mabuk atau karena saking gembiranya. Ia segera terjatuh dalam pelukan seorang laki-laki yang barangkali kekasih atau teman kencannya.

“Lalu…?” Cokek memandang ke arah Febrina.
“Ada apa?” Jawab Febrina tidak mengerti.
“Sampai kapan kita akan menunggu?” Tanya Cokek.
“Menunggu?!” Balas Febrina tetap belum paham.
“Iya, sampai kapan kita akan menunggu?”
“Aku tidak mengerti maksud kamu?”
“Aku ingin mengajakmu berdansa.” Cokek menatap tajam ke arah Febrina yang tiba-tiba saja pipinya jadi berubah kemerahan.
“Apakah kamu…?” Cokek berhenti bertanya. Ia menunggu reaksi dari Febrina. Udara dalam ruangan itu kian terasa hangat, namun Febrina belum juga menjawab.
“Atau kamu….ahh maafkan aku.” Cokek menunduk. Ia meniupkan udara melalui mulutnya ke arah samping.
“Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma tidak pandai berdansa.” Akhirnya Febrina bersuara.
“Hahaha….!”
“Kenapa tertawa?”
“Aku juga tidak pandai berdansa.”
“Lalu?!”
So what, mana ada urus, mari kita belajar berdansa bersama.” Ujar Cokek sambil tertawa. Ia segera merengkuh sebelah tangan Febrina yang membiarkan saja dirinya dibimbing Cokek memasuki arena yang penuh sesak dengan para pedansa.

Dengan riangnya Cokek segera menarik kedua tangan Febrina untuk ikut menari-nari mengikuti irama. Sepertinya itu adalah tarian dari sepasang pedansa amatir yang terlihat paling gila-gilaan dan merupakan hal terlucu sepanjang hidup mereka, baik bagi Cokek maupun Febrina. Namun tak ada yang peduli. Semua orang larut dalam kegembiraannya masing-masing. Orang-orang mengangkat toast, orang-orang yang lapar dan haus akan hiburan yang bebas dan seadanya.




Cokek menggenggam tangan kiri Febrina dengan tangan kanannya, sementara tangan yang satunya lagi menempel lekat di punggung Febrina, begitu pun sebaliknya. Romance d’Amours, Cokek merasakan udara yang terhirup di antara bulir-bulir halus rambut Febrina menyeruak hidung begitu harumnya. Ia merasakan satu eksotika yang tandas mengalir dari jari jemari Febrina yang tajam menancap di punggungnya.

“I’m goin’ down!” Cokek melenguh. Ia merutuki hasratnya sendiri yang gampang tersulut ledakan-ledakan gairah yang memancar dari kehangatan tubuh Febrina hanya dalam sekejapan mata.


***
bersambung........
___________________________________________________________
COKEK©Gusblero, 2006

COKEK l Gusblero



JATI DIRI

Susan Wong masuk ke sebuah taksi. Bagian dalam taksi itu berbau wangi, namun samar-samar tercium juga bau apek keringat. Susan Wong mengeluarkan saputangan dari dalam tas kecilnya. Ia nampak mengucek-ucek matanya lalu mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Bunga-bunga terompet terlihat merah menyala di beberapa ruas pembatas jalan raya. Rumput-rumputan dan pepohonan hijau berjajar rapi dengan eloknya, namun cuma sebagai penghias jalan raya. Kota besar yang aneh.

“Mau kemana?” Tanya sopir taksi itu, orangnya sudah agak tua. Penampilannya seperti pelawak ibukota yang beken dengan lagaknya yang suka kebolot-bolotan.
“Surya Inc.”
“Ok. Jalan biasa atau by pass?” Tanya sopir itu lagi sambil memindai versnelling.
Ihh, Bapak. Bukannya itu salah satu service para sopir taksi?” Jawab Susan balik bertanya.
“Hahaha…..! Namanya juga coba-coba ngelaba. Mbak.”
“Iya sih. Tapi mana bisa ngelaba sama orang yang baru mau nyari pekerjaan.”
“Mbak baru di Jakarta?” Ia mencoba beramah-ramah lagi kepada Susan.
“Enggak juga sih. Dulu sempat kerja, tapi nganggur lagi. Belum juga ada satu tahun perusahaan tempat saya kerja sudah gulung tikar.”
Krismon?”
“Bukan. Krisman.”
Krisman?!”
“Iya. Krisis Manusia. Habis kena demo sih.”
“Hahaha…..! Rata-rata begitu, Mbak.”
“Semoga saja yang kali ini tidak, Pak.”
“Bapak ikut berdoa lah. Jadi Mbak ini mau ngelamar pekerjaan?”
“Interview.”
Yeah, semoga berhasil ya.”
“Terima kasih, Pak.”

Susan melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam delapan pagi lewat empat puluh menit. Kemarin pagi Leoni telah mengabari Susan  melalui telepon bahwa Big Boss of Surya Inc ingin bertemu dengannya. Big Boss. Bukan sekadar Pak Willy yang seharusnya menjadi palang pintu bagian personalia penerimaan pegawai baru. Leoni bilang Susan harus siap menghadap di kantor  Mr. CK pagi ini sambil mempersiapkan segala sesuatunya.

Fuihh! Susan mendengus. Dengan cara apapun aku harus mendapatkan pekerjaan ini. Ia bersumpah. Ia tidak akan mengecewakan bantuan sahabatnya itu, meski ia pun menyadari kemungkinan lain bahwa ia pasti akan menghadapi interview yang bisa saja tidak mudah, sedikit alot, dan bertele-tele. Ia tidak peduli. Sudah tiba pada saatnya ia harus bisa menentukan jati diri, bahwa kehormatan seorang manusia di jaman ini diukur dengan reputasi dan buah dari pekerjaannya.

Dua kilometer sebelum nanti akan segera terlihat sebuah gedung tinggi dengan tulisan Surya Inc mencolok di atasnya Susan merasa jantungnya sedikit berdebar-debar. Bagaimana pun ia tidak bisa mengenyahkan begitu saja komentar Leoni perihal bosnya yang konon sangat jantan. Susan tersenyum. Bayangan wajah Leoni yang culun seakan melintas di matanya.

Leoni adalah sobat karib, sahabat yang lebih dari sekadar seorang sahabat. Ia mengenal Leoni semenjak menjadi kakak kelas semasa kuliah dulu. Sophisticated, ia adalah seorang sahabat yang banyak mengajarinya tentang tata cara berpenampilan yang up to date.

“Sejak semester pertama kuliahku aku sudah bekerja paro waktu.” Begitu Leoni pernah bercerita. Saat itu Susan baru menempati tempat indekostnya yang baru, awal ia bertemu Leoni.
“Aku menjaga satu rental komputer bergantian dengan salah seorang temanku.” Lanjutnya lagi.
“Ibuku ingin aku mulai bisa menabung sendiri untuk membiayai kuliahku. Menurutnya itu akan lebih baik daripada sekedar menunggu kiriman uang dari ayahku yang kadang tidak selalu bisa dijagakan.” Leoni yang baik. Ia selalu banyak memberikan pengertian tentang hidup sembari mengunyah permen karet di mulutnya.
“Aku pikir sih memang sebaiknya begitu. Sekaligus untuk memupuk rasa tanggung-jawabku.” Ia bergerak ke sudut kamar. Kamar kost yang cukup mewah untuk ukuran seorang mahasiswi. Ukurannya tiga kali empat meter persegi, dengan sebuah televisi empat belas inchi di dalamnya. Sambil merebahkan badannya Leoni menyalakan televisi dengan remote control yang dipegangnya.

“Untung saja hari ini tidak ada demo.” Tiba-tiba sopir taksi berbicara.
“Eh…iya, Pak.” Jawab Susan agak menggeragap. Sungguh memalukan, ia berkata pada dirinya sendiri, sepagi ini sudah melamun. Dengan menggeserkan sedikit badannya Susan mencoba mencuri kesempatan untuk bercermin melalui kaca spion yang terletak di atas kepala sopir.

Jakarta, meski hari masih pagi namun panasnya sungguh minta ampun. Syukurlah AC di dalam taksi bisa berfungsi dengan sempurna, hingga Susan tidak perlu khawatir saat wawancara nanti ia akan tampil dengan keringat yang basah kuyup membasahi sekujur tubuhnya.

“Dengan segala kebebasan yang aku miliki bisa saja aku merasa free untuk melakukan apapun yang aku suka. Namun semua tidak bisa begitu. Ini juga penting buat kamu, Susan. Banyak komentar orang berbicara minor tentang mahasiswi-mahasiswi yang hidup di kota besar. Mangkanya kamu juga harus hati-hati.” Leoni terus saja nyerocos bercerita panjang lebar. Kalau ditilik usianya yang cuma beda sedikit dengannya, Susan jadi tertawa cekikikan membanding-bandingkan semua omongan Leoni dengan kata-kata ibunya acapkali memberikan nasehat kepadanya.

“Kenapa kamu tertawa?” Tanya Leoni kepada Susan.
“Habis kamu mirip ibu aku sih. Hahaha……!” Jawab Susan tambah ngakak.
“Sialan!”
“Iya memang begitu kok.” Lanjut Susan lagi.
“Kalau penginnya cuma sekedar having fun sih sebenarnya banyak sekali kesempatan.” Leoni mencongkel bantal guling yang ada di sudut tempat tidur dengan kakinya. Ia memandang ke arah langit-langit kamar.
“Ada pesta semi formal antara mahasiswa, baik yang yunior maupun senior. Biasanya sih pengikutnya terbatas hanya untuk mereka-mereka yang sudah masuk dalam satu club. Aku juga pernah ikutan. Sebenarnya asyik juga sih, cuma lama-lama bosan. Acaranya itu-itu juga.” Leoni melirik ke arah Susan yang hanya diam menyimak seluruh ceritanya. Sementara di beranda angin terlihat sedikit memporak-porandakan tanaman bunga. Nampaknya hujan segera tiba. Susan mendesah.

Kenyataan bahwa sejauh ini hidupnya selalu dalam pantauan dan pendiktean dari keluarga dan familinya, rasa-rasanya apa pun petualangan yang telah dialami Leoni terasa lebih baik. Membayangkan kondisi dirinya saat itu yang begitu lugu dan terbatasnya dalam pergaulan sehari-hari membuat wajah Susan tak terasa memerah sedikit malu. Dalam hati ia merasa begitu beruntungnya ia saat ini memiliki seorang sahabat seperti Leoni yang tidak sungkan-sungkan untuk diminta berbagi pengalaman.


***

Cokek memarkir mobilnya tepat di samping parkiran hotel. Dengan cekatan ia melangkah keluar pintu memutari depan mobil lalu bergerak ke samping membukakan pintu yang ada di sebelahnya.

“Semoga kamu tidak bosan melakukannya.” Om Surya berkata sembari tersenyum. Ia memandang sejenak ke arah Cokek sebelum kakinya benar-benar keluar dari mobil.
Pu khe chi. Tidak apa-apa, Om.”  Jawab Cokek.

Om Surya adalah ayah dari Salim, teman Cokek semasa sekolah dulu. Ia adalah pemilik Publicity Agent PT. Surya. Beruntung bagi Cokek, Willy dan Hendra, pertemanan semasa sekolah bersama Salim dulu bisa menolong keberadaan mereka di Jakarta. Tanpa adanya seorang teman seperti Salim di Jakarta, entah apa jadinya nasib Cokek. Pada hari ketiga masa luntang-lantungnya di kota metropolis ini saja Cokek sudah menghadapi berbagai peristiwa yang tidak mengenakkan.

“Apakah kamu Cina?” Tanya seorang laki-laki berpenampilan sangar di depan sebuah gang tatkala Cokek bertiga tengah berusaha mencari alamat Salim.
“Saya orang Indonesia.” Jawab Cokek dengan sopan.
“Tapi kamu Cina khan?” Tanya laki-laki itu lagi. Melihat dari sipit-sipitnya, sebetulnya Cokek tidak sangsi lagi bahwa laki-laki yang mencegatnya kali ini sebetulnya juga orang Cina.
“Saya orang Jawa.” Jawab Cokek tidak kurang tegasnya. Ia tidak merasa ada yang salah dengan jawabannya. Walau pun ia memang mempunyai darah keturunan dari Cina, namun ia enggan mengakuinya, apalagi ketika kemudian ia mengetahui laki-laki yang telah menghamili ibunya itu tidak mau menunjukkan tanggung-jawabnya sedikitpun.
“Kamu seperti orang Cina.” Laki-laki itu mendengus, namun tak lama kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah sedikit sempoyongan.
“Dasar Cina mabuk.” Ujar Cokek sambil membenahi tasnya.

Begitulah perbedaan etnis kadangkala menjadi sesuatu yang krusial dalam perilaku hidup kemasyarakatan di Jakarta. Walau pun itu tidak murni betul, karena gesekan-gesekan yang kemudian meletup menjadi satu konflik horizontal tidak menutup kemungkinan pada awalnya justru dipantik oleh sekawanan kelompok sesama etnis yang kebetulan saling mempunyai muatan kepentingan yang sama di dalam memperebutkan lahan atau wilayah perekonomian.

“Nampaknya kamu suka sekali dengan pesta ya?” Tanya Om Surya sebelum keduanya melangkah. Mendengar perkataan Om Surya, Cokek hanya tersenyum. Hidup yang sungguh menyenangkan, baru juga tujuh bulan hidup di Jakarta sudah memiliki jabatan. Cokek saat ini menjadi asisten unit produksi, Willy membantu di bidang property, dan Hendra menjadi fotografer agen Surya. Keajaiban hidup yang sepertinya tak gampang ditukar dengan nilai apapun. Barangkali itu pulalah yang menyebabkan Cokek menaruh rasa hormat yang sangat mendalam terhadap Om Surya yang usianya telah menginjak kepala tujuh. Sementara itu Salim putra Om Surya sendiri tengah sibuk menekuni pendidikan yang lebih tinggi lagi di Amerika.

Jakarta di malam pergantian tahun. Sejenak keduanya berdiri di muka pintu hotel. Om Surya membetulkan letak jas, Cokek memperhatikannya sekejap. Keduanya lantas saling memandang, lalu tertawa. Wajah keduanya nampak riang ketika berjalan memasuki pintu hotel.


bersambung........
___________________________________________________________
COKEK©Gusblero, 2006

Rabu, 19 Oktober 2011

THE KHIDR CODE

SEE NO MAN

See No Man, Si Nona Manis itu terlentang begitu saja di hadapanku. Remang petang di sebuah kafe taman yang terletak di pinggiran kota Bogor yang hangat. Dari tempat ini suara kendaraan yang melintasi jalan raya masih cukup jelas terdengar menderu menjauh di antara kesiur batang-batang bambu kecil yang saling bergesekan.

“Gue ngerasa capek diomongin terus sama orang tua. Gue pan sudah bukan anak kecil lagi, gue udah cukup dewasa. Gue juga berhak milih-milih dan melakukan apapun yang ingin gue lakukan. Gue bosan ngedengerin ceramah nyang itu-itu saja, gue punya kehidupan sendiri.”

Si Nona Manis itu terus ‘nyerocos’ begitu saja. Asap sigaret bergulung bergumpal-gumpal keluar dari bibirnya yang mungil. Ia mengarahkan tubuhnya ke samping, sambil sesekali mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir kepulan asap yang mengganggu di kedua matanya.

“Gue anak orang kaya, tapi itu nggak ngejamin hidup gue bahagia. Apa-apa yang gue alami bisa jadi cerita. Nyokap dan bokap gue jarang di rumah, jarang sekali gue ketemu sama mereka. Apalagi bokap, dalam seminggu bisa ketemu sekali dengan bokap saja bisa diitung. Mustinya sih itu bisa, karena bokap pada hari Sabtu dan Minggu enggak kerja. Tapi nyatanya itu jarang sekali terjadi, ia selalu punya acara-acara lainnya.”

Yaa Allaahu. Kulit yang putih mulus dan lembut dengan bulu roma menghias di tengkuknya itu sudah tentu pasti Engkau yang mencipta. Bibir yang merah ranum seakan mengalahkan strawberry Australia itu tentu pula Engkau yang mengkreasikannya. Namun siapa pula yang mengajarkan kata-kata yang ‘polos dan gamblang’ itu meluncur dari mulutnya?

“Dua kali gue pernah pacaran, tapi gagal. Pacar pertama gue sukanya hura-hura, sebetulnya gue suka, tapinya dia juga suka namparin gue. Ya udah kita lalu putus, itu juga mesti pake ngumpet-ngumpet. Soalnya dia itu gila, maniak banget, dia itu sempet ngejar-ngejar di manapun persembunyian gue. Kacau. Pacar gue yang kedua orangnya rumahan, tapi gue juga enggak bertahan lama dengannya. Dia prĂ©cis banget ortu gue, maunya ngomongin gue melulu. Ya udah, gue jadi empet dibuatnya.”

Kakinya yang jenjang itu, Yaa Allaahu, tentu tak gampang bagi siapapun memalingkan diri untuk tidak menatapnya. Tubuhnya yang sintal dan selalu bergerak seperti ‘si lumba-lumba’ itu tentu juga tak mungkin bisa menyurutkan langkah siapapun untuk mendekatinya. Gunung yang tinggi menjulang dengan lekuk-lekuk panorama di sekitarnya, sungguhlah gambaran sebuah keindahan yang ‘luhur dan sentausa’.

“Ini bukan yang pertama kali gue pergi dengan laki-laki, yang bukan pacar gue maksudnya. Gue enggak mau tahu, gue ingin orang yang mau mengerti dan bisa menyayangi. Sebodo amat orang mau bilang apa, hidup gue ya hidup gue. Gue punya kehidupan sendiri, terserah gue mau ngejalaninya bagaimana. Eh, tolong minumnya ditambah lagi dong!”

Si Nona Manis itu minta tambah minum lagi. Jus strawberry, strawberry di atas strawberry. Ketika aku katakan aku juga suka jus strawberry, ia tertawa. Dari mulutnya keluar harum aroma gula. Yaa Allaahu, aku terjebak dalam bahaya. Cinta menyelinap dalam kalbu membuatku terlunta-lunta.

“Damai sekali gue bisa nyantai begini. Tapi gue juga bukan tipe orang pemalas, suatu saat gue juga ingin bekerja, asal yang enggak formil-formil amat. Mungkin mau juga sih kerja di kantoran, asal tim kerjanya kayak gue. Prinsip gue orang boleh ngelakukan apa saja asal kerjaannya beres. Tapi ada enggak ya kerja kantoran yang seperti itu?”

Busyeet. Kerja kantor seperti itu? Kantor apa ya? Kantor pengacara? Yaa Allaahu, barangkali ia tengah membayangkan film Ally Mc Beal, atau mungkin ia terlalu lama kecanduan nonton film Baywatch? Ada-ada saja. Ia bisa menemukan seorang laki-laki di antara seratus juta laki-laki normal Indonesia yang tidak terburu-buru dan tergopoh-gopoh untuk mengajaknya main cinta saja itu sudah satu prestasi serta kelangkaan yang tak terkira.

“Hidup gue memang begini, tapi gue juga punya otak bo. Elo tahu enggak, temen-temen gue juga banyak yang dipacarin sama pejabat-pejabat lho? Tapi gue enggak suka. Mereka kalo udah seneng maunya juga main proteksi. Enggak boleh gini enggak boleh gitu, enggak boleh gaul dengan si ini enggak boleh gaul dengan si itu, padahal mereka juga punya simpanan di mana-mana. Lhah, giliran kita butuh, garing deh!”

Amboii…dia juga nggunjingin pejabat, Cing! Apa dia enggak tahu kalau pejabat itu uangnya banyak? Apa dia juga enggak sadar kalau pejabat itu tiba-tiba bete dengan omongannya barusan maka bisa-bisa akan mengurungnya dalam hotel selama berminggu-minggu? Ahh, Si Nona Manis yang lucu, kamu seperti Barbie bagi laki-laki dewasa.

“Nomor HP gue ini nih baru seminggu lalu gue ganti. Repot kalo punya nomor diapalin banyak orang, hidup gue jadi enggak bebas. Gue enggak mau seperti itu. Enakan juga begini, mau pergi kemana kek, mau berbuat apa saja juga enggak ada yang ngatur. Hihihi…..dari tadi kok diam saja sih, Mas enggak suka ya sama gue?”

Ups, Si Nona Manis yang nakal. Apa dia enggak menyadari sedari tadi jantungku sungguh sudah sangat-sangat merasa tersiksa sekonyong-konyong koder tak karuan? Yaa Allaahu, hatiku dikalahkan gairah yang kukuh, yang menjadikanku nista karena mengharap godaannya.

“Santai saja, Mas. Bagi gue bullshit dengan segala macam status. Orang boleh saja ngomong banyak-banyak soal aturan, itu persoalan mereka sendiri. Orang juga bisa ngomong-ngomong ngasih banyak komentar, tapi coba kalo mereka ngalami sendiri? Sepanjang gue enggak merasa merugikan pihak-pihak lain ya kenapa enggak gue lakukan. Iya kan?”

Kan? Iya kan? Aku meras takjub dan tak tahu dengan apa yang harus aku lakukan. Petang ini aku merasa was-was, jangan-jangan aku tak akan bisa lagi menghindar dengan apa-apa yang telah diucapkan dan dimaksudkan oleh Si Nona Manis itu sebagai ‘kan’. Ini sungguh bisa berarti banyak, karena ‘kan’ yang dimaksud ini bisa dimaknai sebagai sebuah ‘penawaran yang tak terbatas’. Astaga, tiba-tiba aku merasa mendapatkan ‘pencerahan’ untuk mengartikan ‘kan’ ini sebagai seribu satu macam hujjah yang bisa dihalalkan.

Ampuni aku, Yaa Allaahu, petang ini aku merasa malam terlalu gelap bagiku untuk bisa menemukan lagi jalan untuk kembali. ***

Bekasi, 10 Januari 2006

NOTE : Diambil dari The Khidr Code l Gusblero l Taheyya l Yogyakarta l 2008

HUMANITY

SAYA PERNAH DATANG DAN SAYA SANGAT PENURUT

Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah "saya pernah datang dan saya sangat penurut". Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa saya ingin mati".

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini". Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik". Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati". Yu Yuan kemudia berkata : "Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati". Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya."

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. "Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh". Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………" demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat patuh".

NOTE : catatan ini di-audopsi dari catatan milik deep light

DUNIASIANA

Evenue of the Dead (Jalan Raya Akhirat)

Kota kuno yang terkenal di benua Amerika yaitu Teotihuacan, ada sebuah jalan raya yang luas membujur dari utara ke selatan, disebut sebagai 'jalan raya akhirat' yang lebih dikenal dengan Evenue of the Dead.

Ia memiliki nama yang demikian aneh, adalah karena ketika pada abad ke-10 bangsa yang paling dulu datang di tempat itu yakni bangsa Aztec, ketika menelusuri jalan raya dan memasuki kota kuno itu, mendapati segenap kota tidak ada seorang pun, mereka mengira bahwa bangunan di kedua sisi jalan raya adalah makam para dewa, maka mereka memberinya nama tersebut.

Tahun 1974, dalam rapat internasional bangsa Amerika yang diadakan di Mexico, seorang yang bernama Sir Harriston mengatakan, bahwa di Teotihuacan ia menemukan sebuah satuan pengukuran yang cocok untuk semua bangunan dan jalan raya.

Melalui perhitungan dengan menggunakan komputer elektrik, panjang satuan tersebut adalah 1059 M. Seperti misalnya, Kuil Bulu Ular, Piramida Rembulan dan Piramida Matahari di kota Teotihuacan, tinggi masing-masing adalah 21, 42, dan 63 satuan, perbandingannya adalah 1:2:3.

Harriston memakai 'satuan' tersebut mengukur tempat peninggalan piramid dan kuil dewa yang berbeda di kedua sisi jalan raya akhirat, menemukan suatu hal yang lebih menakjubkan, jarak bekas-bekas peninggalan di atas jalan raya akhirat itu, persis menandakan data orbit planet sistem tata surya.

Di dalam bekas reruntuhan Kuil Dewa Kota, jarak bumi dan matahari adalah 96 satuan, dengan bintang Mercuri 36 satuan, bintang Venus 72 satuan, dan bintang Mars 144 satuan.

Di belakang kastil terdapat sebuah terusan yang digali bangsa Teotihuacan, garis sumbu pada kastil terusan adalah 288 satuan, persis merupakan jarak jalur planet kecil antara bintang Mars dan bintang Jupiter.

Di satuan 520 garis sumbu ada sebidang reruntuhan kuil dewa yang tidak bernama, dan itu setara dengan jarak dari Matahari ke bintang Mars.

Melalui 945 satuan lagi, ada lagi sebuah bekas peninggalan kuil dewa, itu adalah jarak dari bintang Saturnus ke Matahari, melewati lagi 1.845 satuan maka tibalah di ujung jalan raya akhirat di pusat piramid rembulan, dan itu persis adalah data lintasan bintang Uranus.

Jika garis lurus jalan raya akhirat diperpanjang lagi, maka tibalah di puncak gunung Sailoketuo, di sana ada sebuah kuil kecil dan sebuah menara, fondasi menara masih ada. Jaraknya masing-masing adalah 2.880 dan 3.780 satuan, tepat merupakan jarak orbit bintang Neptunus dan planet Pluto.

Jika semua ini adalah suatu yang kebetulan, jelas membuat orang sulit untuk meyakininya. Jika ini merupakan rencana yang disadari oleh para pembangun, maka jalan raya akhirat jelas dibangun menurut contoh sistem tata surya, dan dipastikan para desain Teotihuacan sejak awal telah memahami seluruh kondisi peredaran planet sistem tata surya, sekaligus memahami data orbit antar-Matahari dengan setiap planet.

Namun, manusia baru menemukan bintang Uranus pada tahun 1781, pada tahun 1845 baru menemukan bintang Neptunus, dan pada tahun 1930 menemukan planet Pluto.

Kalau begitu, pada zaman prasejarah, di mana saat bumi baru saja terpisah dari surga alam semesta mulai berkembang dari keadaan kacau balau, tangan manakah yang tidak terlihat itu, telah memberi petunjuk ke semuanya ini pada orang-orang untuk membangun Teotihuacan???!!

******************************************************************* 

KERAJAAN ROMAWI DIBANGUN DALAM SEHARI...???

Menurut laporan sebuah situs Amerika, bahwa arkeolog menemukan misteri yang mengejutkan, di mana bukti terbaru akhirnya membuktikan bahwasannya kerajaan Romawi kuno mulai dibangun pada tanggal 13 Agustus tahun 625 SM dan selesai dirampungkan sebelum Matahari terbenam.

Ketika wartawan menanyakan kepada mereka di mana mendapatkan bukti-bukti itu, para arkeolog mengeluarkan satu gulungan, yaitu sebuah dokumen dan kontrak yang ditandatangani sendiri oleh Julius Caesar. Sebagian di dalam kontrak yang berbahasa Latin itu jika diterjemahkan adalah sebagai berikut: “Kami dari perusahaan developer Aljeida Babylon setuju, bahwasannya pada tanggal 13 Agustus tahun 625 SM ini akan mulai bekerja dan merampungkan bangunan kerajaan Romawi, jika kami tidak dapat menyelesaikannya dalam waktu yang ditentukan kerajaan, kemaharajaan Caesar boleh memenggal kepala kami dan berikan kepada singa sebagai santapan.”

Menurut para arkeolog, bahwa bukti ini mutlak berlaku, dan para pekerja ahli pasti dalam waktu satu hari menyelesaikan pembangunan kota Roma, sebab mereka tidak menemukan apa pun sisa fosil kepala yang dipenggal. Pada kenyataannya, dokumen kemaharajaan Caesar ini sama persis dengan kain pembungkus mayat, bisa dipercaya namun juga meragukan. Dan saat ini, ilmuwan sedang menaksir usia sebenarnya isi gulungan itu yang menggunakan cara penentuan tahun dengan karbon.

Orang-orang mengetahui dari mata pelajaran di sekolah, bahwa wilayah kerajaan Romawi seluas 280 ribu meter persegi, dan di dalamnya termasuk sejumlah kota, kota kecil, beberapa sungai, sejumlah gunung, dan beberapa gedung teater, banyak sekali saluran pipa air, saluran pembuangan air, gerbang lengkung, museum, gereja katedral bersepuh emas, dan pondok piza dan lain sebagainya, yang mana kesemuanya itu harus dalam satu hari, artinya mesti diselesaikan dalam waktu 12 jam, sama sekali di luar imajinasi.

Arsitek bernama Flayter mengatakan, “Dalam waktu satu hari, tim proyek pembangunan saya bahkan tidak bisa menyelesaikan sebuah tembok pembatas kota. Di lihat dari gambar maket kota Roma ini, perusahaan saya harus menghabiskan waktu ratusan tahun baru bisa menyelesaikan seluruh proyek pembangunan kerajaan Roma.”

Jika kondisi yang dilukiskan dokumen tersebut itu benar, maka ilmuwan dan arsitek sekarang akan terperosok lagi ke labirin yang baru, mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana orang-orang pada masa itu dapat menyelesaikan pembangunan kerajaan Roma yang luasnya 280 ribu meter persegi itu hanya dalam waktu 12 jam.

SEJARAWAN ROGYES BERPENDAPAT, BAHWA SEMUA INI SAMA SEPERTI BANGUNAN PIRAMIDA, ADALAH MISTERI SEPANJANG MASA, HANYA BISA MEMBAYANGKAN BAHWA SEJUMLAH BENDA-BENDA YANG DIKUASAI ORANG-ORANG DI MASA ITU TELAH HILANG TAK TERWARISKAN, DAN TEKNOLOGI KITA SEKARANG TIDAK BISA BERSAING DENGANNYA. Pertama-tama mereka membangun piramida, berikutnya mereka membuat patung muka singa berbadan manusia, dan belakangan mereka membangun menara dsb, serta bangunan misterius dan unik yang tak terhitung banyaknya.

**********************************************

TERNYATA KITA PUNYA KEMBARAN DI DUNIA....

Ini tips2nya kalo mau liat kembaran kita.....manusia tuh ada KEMBARANNYA ....
persis .. plek ... suaranya juga sama, tingginya ya sama, ketawanya ya sama ...
Yang jelas ini bukan Ngaca, apalagi ngaco....

caranya :

1. Cabut 7 helai rambut kepala..
2. Ambil 7 potongan kuku tangan/kaki..
3. Klo udah taruh letakkan di sepotong helai kain putih (apa saja, yang penting warna terbanyak putih)
4. Gulung kemudian....
5. Tetesin jeruk purut, 1 buah aja dan peras sampai habis..
6. Tetesinnya di kain itu..
7. Terus, letakkan kain yang berisi rambut & kuku itu di taman/halaman rumah, dimana aja asal dekat pagar. Kalo bisa ndak ketahuan orang lain. Ndak perlu ditanam, cukup diletakkan didekat tumbuhan. Sembunyikan diantaranya..
8. Tunggu 7 hari. Ndak perlu puasa. Makan-minum seperti biasa aja...

Menurut sohib gw, kembaran itu akan hadir tepat selesainya 7 malam dan belum sampai ke malam kedelapan...Jadi dia akan hadir dimana aja.. Mau nongol dikamar mandi pas kita lagi mandi atau pub, mau nongol lagi bobok-2an ditempat tidur, dimana aja maunya si kembaran itu. Tapi dia ndak nggangu, cuman sekedar nongol sepintas barang 7 menit katanya..

Wuiiih, lamanya Guys ! Jadi kalo yg mau coba jangan KAGET! si kembaran itu akan menirukan apa yang pernah kita lakukan atau yang sedang kita kerjakan. Dia ndak bisa dilihat orang lain cuman kita
aja....

Serem gw... Ada yg brani nyobain ga?
"TERNYATA KITA PUNYA KEMBARAN di dunia!!! Believed Or No Believed

Note: gw lupa darimana sumbernya, tapi klo elo ngeyel buktiin aja.....

******************************************************************


Selasa, 18 Oktober 2011

INTERMEZONG

BUKAN HANYA SULE BISA BEGINI.....

Menjadi profesional itu ternyata tak gampang....orang juga kudu nyiapin improvisasi klo-klo zaman keemasannya udah mulai meredup....mo tahu bagaimana kiprah para selebritis manca dalam tetap mempertahankan ratingnya? Ini beberapa diantaranya........


Jason Marz ngamen di kereta....

Keanu Reeves ngojek di Tenabang....

David Becham mangkal di pos ojekan Haji Saikin....

Miley Cirus narik becak di Tangerang....

Shahrukh Khan jualan cendol....

Jacky Chan kluyuran di Harco....

Stephen Chow malah ke-gep jualan VCD bokep bajakan....

Stephen Chow di TKP....

Rowan Atkinson (Mr. Bean) jualan pulsa di Ancol...

J-Lo buka warteg di Grogol....

bahkan Shakira masih ngobyek saweran di hajatan kampung.....