just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Selasa, 04 Oktober 2011

COKEK l Gusblero




DARAH DAGING

  

Kantor periklanan itu terletak di gedung paling atas dari bangunan bertingkat lima yang masih terletak di wilayah segitiga emas ibukota. Tepatnya dalam sebuah ruangan berukuran delapan kali delapan meter persegi yang baru bisa dicapai sesudah menaiki lift, berbelok-belok melewati tiga gang yang di kiri kanannya penuh dinding kaca, lalu dari jarak sekitar tiga meter baru akan nampak sebuah pintu yang di sampingnya tertulis “Director’s Room”.

Cokek tercenung. Ia duduk bersandar di kursi dengan kaki terjulur, wajahnya terangkat ke arah dinding tempat sebuah lukisan tentang pemandangan alam pedesaan tergantung. Gambar dua pegunungan terhampar di cakrawala dengan sungai berkelok-kelok di suatu pagi penuh embun yang nyaris tersaput terbitnya sang surya sungguh menjadi kilas nostalgia yang tak mungkin dilupakannya. Ia tersenyum.

Alunan musik ruangan yang mengalun dari Windows Media Player yang terletak di sebelahnya membuatnya sejenak terlupa dengan agenda kerja yang telah disusun oleh sekretarisnya.





Gling gling! Gling gling! Theee…eettt….!

Kereta api melaju dari arah Purwokerto menuju Jakarta. Bunyi suara lokomotif memecah kesunyian di lembah-lembah dan sabana. Siang hari, matahari tepat di titik kulminasi. Panasnya yang nyalang membuat atap gerbong sepanas tungku.

Beberapa anak muda yang berada dalam satu rombongan bernyanyi-nyanyi diringi gitar. Barangkali mereka adalah remaja-remaja kota yang baru saja menghabiskan lebaran di salah satu kampung halaman temannya. Tentu saja mereka belum mengerti betapa akan kerasnya kehidupan yang harus mereka hadapi nanti ataupun beban orang tua yang harus ditanggung hingga mereka bisa menikmati hidup ini sambil tetap terus bersenda-gurau dan bernyanyi-nyanyi.

“Di mana Cokek?” Tanya Willy kepada Hendra yang baru datang dari gerbong sebelah.
“Tadi sih duduk di atas atap.” Jawab Hendra sambil mencari posisi di dekat Willy.
“Memangnya kamu darimana?”
“Jalan-jalan di gerbong. Cuci mata.”
“Dapat?”
“Apanya?”
“Obat matanya?”
“Nggak. Nggak ada sih.”
“Masa iya?”
“Nggak ada!”
“Atau kamu yang buta?” Willy tertawa.
“Sebetulnya ada…”
“Tapi…?”
“Mereka penginnya kerja. Jadi maunya dapat juragan.”
“Nah loh. Menyerah?”
“Habisnya mau ngapain?” Jawab Hendra sambil membuang udara ke samping.
“Hahaha….!”

Cokek adalah seorang laki-laki blasteran peranakan Cina dan Jawa. Keluarganya aslinya berasal dari Purworejo. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan bunting yang baru 12 tahun kemudian memberitahukan kepadanya siapa sebenarnya ayah kandungnya. Ia adalah anak seorang perempuan desa yang bekerja sebagai buruh rumah tangga pada sebuah keluarga Tionghoa. Ibunya yang bernama Juwarni pulang kembali ke dusun dua belas bulan sesudah ia mulai bekerja dengan membawa kandungan berisi janin yang telah berusia tujuh bulan di dalam perutnya.

Kepulangan Juwarni yang disertai kehamilan itu tentu saja membuat geger seisi dusun, karena sejauh ini semua orang tahu selama ini Juwarni belum menikah dengan siapapun. Kondisi ini tak pelak membuat kehadiran Juwarni kemudian menjadi bulan-bulanan bahan gunjingan dan cercaan, sampai-sampai ia harus melahirkan Cokek secara sembunyi-sembunyi. Begitulah riwayat Cokek, sedari kecil ia telah tumbuh dalam tempaan hidup yang sangat keras.

Di dalam darah mudanya Cokek merasa ada sesuatu yang terus menggelegak menuntut jawaban. Ia adalah anak alam, yang dibesarkan dan diasuh oleh nalurinya sendiri untuk mempertahankan kehidupan. Ia adalah sosok seorang anak manusia yang tidak pernah mengenali kasih sayang orang tua. Cokek tak pernah tahu kepada siapa ia wajib memanggil ayah, sementara ibu yang telah melahirkannya pun hanya membekalinya dengan ‘hidup’, sudah itu tak pernah perduli ia mau berbuat apa.

Pemberontakan untuk mencari jawaban atas keresahan jiwanya selama ini tak pernah memuaskan. Ia terus mencari dan terus saja mencari, terlibat dalam pergulatan hidup yang penuh kehampaan tanpa pernah tahu sesungguhnya seberapa batas sesuatu itu bisa disebut baik atau buruk, benar atau salah. Repotnya lagi ia juga tidak pernah tahu sampai seberapa jauh seharusnya ia boleh melakukan sesuatu, ataupun juga sampai kapan seharusnya ia berhenti melakukan sesuatu.

Cokek tidak pernah merasa puas dengan jawaban dari orang-orang karena sejauh ini ia tidak pernah merasa pasti bisa mendapatkan gambaran bagaimana suatu hal bisa dikatakan bagus, demikian pula halnya bagaimana sesuatu itu bisa dikatakan buruk atau melenceng.

Dua belas tahun sesudah ia dilahirkan Cokek baru mengetahui siapa sebenarnya ayahnya. Sialnya, karakter hidupnya yang tumbuh secara liar tak memberikan kepada Cokek sedikit pun pendidikan bagaimana seharusnya bersikap bilamana nanti ia bertemu ayahnya. Cokek betul-betul anak alam.

Ia hanya diam tak bergeming ketika juragan cengkeh yang bernama Kwan Tje Leng itu mencoba merengkuhnya. Ia justru memandang jijik dan berapi-api kepada laki-laki yang telah menelantarkan ibunya tersebut.

“Jadi…?! Kamu anaknya Warni?” Tanya juragan Cina berumur enam puluhan itu.
“Ya.”
“Kamu…?!”
“Ya!”
“Siapa namamu?”
“Bah!”

Cokek meludah. Bahkan terhadap darah dagingnya sendiri ada seorang laki-laki yang tidak mengetahui nama keturunannya. Mata Cokek terasa panas. Baru kali ini ia merasa begitu menderita dilahirkan ke dunia ini.

“Kamu…. bajingan!” Suara Cokek terdengar parau dan terbata-bata. Bulu kuduk semua orang yang melihat drama itu merinding. Namun Cokek tak peduli. Ia hanya memandang ke arah wajah Kwan Tje Leng sekilas sekali lagi, lalu menendang dengan kerasnya sebuah keranjang berisi cengkeh yang terletak di hadapannya hingga tumpah ruah dan berantakan. Cokek mendengus. Bersama Willy kemudian ia langsung membalikkan badan dan pergi tanpa mengucapkan permisi.


***





Hari itu juga Cokek, Hendra dan Willy berangkat menuju Jakarta. Itu adalah lebaran di hari yang ke sepuluh. Seperti biasa tradisi arus balik penumpang menuju kota-kota besar selalu diiringi dengan migrasi besar-besaran orang-orang dari daerah untuk mencoba mengadu peruntungan. Biasanya mereka terpancing karena cerita para tetangga mereka sendiri yang ketika mudik menceritakan betapa meriahnya kehidupan di kota-kota besar yang konon gampang memberi nilai lebih untuk membayar keringat mereka daripada cuma menjadi petani di sawah atau tukang bangunan lokal.

Lalu yang muda-muda juga tidak ketinggalan membius kerabat maupun teman-teman mereka sendiri dengan berbagai cerita dan pengalamannya berbaur dengan budaya metropolitan yang gemerlap dan menakjubkan. Tidak perduli apakah itu sekedar gambaran dari sebuah halusinasi atau kenyataan yang sebenarnya sungguh-sungguh membingungkan seperti yang selama ini sering nampak di layar kaca televisi.

Gling gling! Gling gling! Theee…eettt….!

Kereta api masih melaju menuju Jakarta. Di beberapa stasiun kecil yang dilewatinya sesekali berhenti untuk menaikkan para penumpang. Tak perduli apakah tempatnya masih cukup memadai untuk ditambahi atau tidak, di tiap-tiap stasiun pemberhentian mereka selalu menaikkan penumpang.

“Di Jakarta kamu harus hati-hati Sus, meskipun kamu tinggal di rumah Om sendiri tapi Om Chandra kan tidak bisa menjagamu setiap hari.” Ujar seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan kepada seorang gadis yang duduk di depannya.
“Iya Sus. Apalagi kesibukan Om kamu sebagai salah satu karyawan di perusahaan swasta tentu saja tak bisa ditanyakan lagi. Tantemu sering bercerita kalau Om kamu itu kadang bahkan sampai nggak pulang saking sibuknya ngurusi tugas-tugas kantoran.” Timpal perempuan yang nampaknya ibu dari gadis itu.
“Iya Ma, iya Pa, Susan pasti akan selalu ingat-ingat pesan mama dan papa.” Jawab gadis itu mantap seraya memandang wajah kedua orang tuanya.

 
Gadis itu bernama Susan Wong. Ia adalah anak tertua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Usianya dua puluh dua tahun. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan program D3 jurusan publisistik. Lalu dengan bekal rekomendasi dari Om Chandra ia mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga lapangan di perusahaan yang sama tempat dimana Om Chandra bekerja.

Tentu saja Om Chandra tidak asal-asalan begitu saja memberikan rekomendasi. Diluar wajah Susan yang memang cantik dan terasa menarik bagi siapapun yang melihatnya, Om Chandra juga bisa melihat potensi serta kecakapan dalam diri keponakannya itu. Kurang lebih setahun yang lalu ia telah berkunjung ke rumah keluarga itu, dan saat itu ia juga melihat sendiri prestasi keponakannya itu baik dalam menekuni pelajaran di kampus maupun ketika mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra.

Gling gling! Gling gling! Theee…eettt….!

Cokek tersenyum-senyum sendiri sambil memandang di kejauhan. Rumpun-rumpun padi yang siap dipanen nampak bersinar keemasan membentang di sepanjang perjalanan. Ia berdiri mematung di dekat pintu gerbong, matanya sesekali melirik ke arah Susan. Dalam hati Cokek mengagumi kecantikan paras Susan yang walau terlihat lelah namun wajahnya masih tetap menampilkan sudut-sudut garis kecantikan yang sangat tegas. Selain itu dari sikap duduk serta cara bicaranya terhadap orang tua juga menunjukkan Susan mempunyai kepribadian seorang gadis yang tidak murahan. Ahh….

Membayangkan gadis seperti itu suatu saat akan bisa dikenalnya sungguh membuat Cokek menjadi merasa lebih bersemangat lagi untuk menjadi orang yang sukses dimasa depan. Cokek kembali tersenyum-senyum. Ketika ia menoleh ke arah rombongan keluarga Susan, gadis itu kebetulan juga tengah menatap ke arahnya. Jantung Cokek tergetar, gadis itu terlihat agak kaget, lalu seperti hendak berusaha menutupi kecanggungannya ia segera berpaling ke arah jendela menatap pemandangan alam yang terhampar di luar kereta.


***

 


Kereta api mencengkeram kuat-kuat pada lajur pemberhentian di stasiun Jatinegara. Bunyi suara rem menderit keras mengoyak kesunyian malam jelang waktu masuk di azan Isya. Cokek, Willy, Hendra dan juga para penumpang lainnya turun dari kereta. Udara di luar agak basah, Jakarta habis diguyur hujan.

Cokek masih berdiri di antara bangku-bangku ruang tunggu para penumpang. Nampaknya ia masih menunggu seseorang yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya, berkali-kali wajahnya melongok-longok. Sementara itu kedua orang temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Cokek.

“Ayo, tunggu apa lagi, Kek?” Tanya Willy tak sabar.
“Nanti dulu, bentar dikit kenapa sih?” Jawab Cokek masih sembari celingukan.
“Hei….!”
“Pake mata dong….!”
Ngehe’ lu!” Seorang laki-laki muda yang secara tiba-tiba tidak sengaja menabrak tubuh Cokek mengumpat. Ia mengumbar makian dengan sumpah serapah trade merk Jakarta yang sangat amburadul.
“Salah kamu juga sih, Kek.” Ujar Hendra menyadarkan.
“Iya, tapi dia kan juga punya mata.” Jawab Cokek tak mau kalah.
“Ya udah. Kita jalan lagi yuk.” Ucap Willy.
“Baiklah. Kalau jodoh juga nggak akan kemana.” Kata-kata yang meluncur dari mulut Cokek itu nampaknya lebih tepat ditujukan untuk menghibur diri karena kegagalannya melihat lagi wajah Susan.
Cokek mendesah. Ia baru saja tengah bersiap-siap mengangkat tas ranselnya, ketika tiba-tiba ia merasa ada yang tidak beres dengan dompet di saku celananya.
“Dompetku….?!”
“Ada apalagi, Kek?” Tanya Willy.
“Laki-laki itu?!” Cokek tidak menjawab pertanyaan Willy. Matanya jelalatan menatap ke arah pintu peron.

“Copeeee….eeetttttt!”

Tiba-tiba Cokek berteriak seraya berlari mengejar laki-laki yang tadi menabraknya. Hendra dan Willy pun segera bergegas mengejar di belakangnya.

Mendengar teriakan Cokek, laki-laki yang tadi menabrak Cokek itu urung melewati pintu peron. Ia segera berlari menyusuri rel kereta. Wajahnya terlihat pias karena banyak juga orang-orang yang kemudian melihat ke arahnya.

Cokek terus mengejarnya. Laki-laki itu terus berlari menyusuri jalan di pinggiran rel yang gelap. Pada sebuah tanah yang cukup tinggi laki-laki itu melompati pagar berduri, copet itu masuk perkampungan. Cokek tidak menyerah. Jakarta di satu sudut perkampungan, jalan-jalannya terlihat becek, sumpek dan berbau apek.

Laki-laki itu menerobos taman sebuah halaman. Buntu. Laki-laki itu kembali melompati pagar, ia menuju sebuah gang. Cahaya malam remang-remang. Ia nyaris bertabrakan dengan dua orang pejalan. Terdengar suara perempuan menjerit. Laki-laki itu mendelik, ia mengacungkan belati. Dua orang perempuan itu menyingkir. Copet itu kembali berlari.

Melewati sebuah jembatan yang terbuat dari bambu copet itu hendak menyeberang, namun terjatuh. Ia nyaris tercebur ke dalam sungai. Tengah ia mencoba bangun, Cokek sudah berada di dekatnya. Terlambat. Sebuah tinju tiba-tiba melayang di kepalanya.

Ia memohon ampun, namun sebuah tendangan kembali bersarang di perutnya. Ia mengaduh, ia ingin memohon ampun, namun tak sempat karena Cokek bertiga segera menghujaninya dengan pukulan demi pukulan.

Jakarta di waktu malam. Ada kriminalitas, namun tak menjadi catatan apa-apa, karena kriminalitas sudah menjadi menu wajah buram metropolitan sehari-hari.


***


bersambung........

___________________________________________________________
COKEK©Gusblero, 2006
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar