just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Jumat, 07 Oktober 2011

DAUN GUGUR DI MANGGARAI

DAUN GUGUR DI MANGGARAI (Dua) l Gusblero

rain...



Jelang pukul dua dinihari. Dengan mengendarai sedan Cadillac tua Rain mengantar Swan pulang. Angin dari arah pelabuhan malam itu bertiup begitu kencang dan dinginnya. Swan merapatkan syalnya. Bukan karena naik mobil dengan kap terbuka di tengah malam gulita itu benar yang membuatnya merasa menggigil dan terguncang. Pemandangan semalam tadi di Eldorado betul-betul telah mengubah persepsinya tentang budaya dan perilaku masyarakat kelas atas di wilayah metropolitan.

"Bagaimana perasaanmu?" Rain membuka dialog.
"Aneh saja," jawab Swan.
"Aneh? Apanya yang aneh?" desak Rain.
"Ah, tidak," jawab Swan sambil melempar pandangan ke samping jalan.
"Kok begitu?!" ucap Rain.

Swan mendesah. Terasa ada yang hendak diucapkan namun semuanya tersekat di tenggorokan, terasa banyak apa yang ingin ditanyakan namun tak sepatah kata pun berhasil diungkapkan.

"Apa setiap malam kamu selalu begitu?" tanya Swan.
"Maksud kamu?" Rain balik bertanya.
"Dunia kamu. Di club seperti tadi."
"Oh itu, tidak juga. Hanya weekend party, yang seperti itu tadi hanya sekali dalam seminggu. Kalau hari-hari biasa paling hanya live music biasa."
"Tiap hari kamu di sana?"
"Tiap hari? SATPAM 'ngkali? Begitu maksud kamu?"
"Ya maen musik. Atau hahaha...jual tampang?!"

Sudut mata Rain terasa basah. Angin malam yang kering menampar-nampar wajahnya. Rain menoleh ke arah Swan. Gadis itu masih nampak cekikikan, polos dan wajar. Rain terhanyut dalam buaian perasaan senang yang terasa melambung, namun tidak membuatnya berani bertindak kurang ajar.

"Stop! Stop! Depan kiri!" teriakan Swan yang mendadak membuyarkan sekejap lamunan di awang tadi. Fuihh...! Untung saja jalanan sepi, kalau tidak sungguh bisa berabe.

Melihat wajah Rain yang pias pucat belum hilang dari rasa kagetnya Swan justru tertawa. Udara dingin sedikit mengepulkan hawa yang keluar dari dalam mulutnya.

"Kenapa tertawa?" tanya Rain.
"Hahaha...kamu bilang kamu juga tahu rumahku?" tukas Swan.
"lya aku tahu, cuma tadi pas ngelamun aja."
"Lhah, sopir ngelamun? Kamu gila ya?!"
"Hahaha....!"
"Kok malah tertawa?"
"Kamu lucu...!"
"Hahaha….!”
"Hahaha….!”

Rain dan Swan sama-sama tertawa. Cukup lama keduanya terbahak-bahak bersama. Lalu perlahan-lahan angin kembali menyilir wajah-wajah mereka. Tawa terhenti. Udara pada malam hari itu kira-kira dua puluh derajat celcius.

"Ya sudah," ucap Swan.
"Ya," jawab Rain.
"Thanks.. . for all. "
"Ya, aku juga begitu."
"Sorry..."
"Tidak apa-apa, lain kali mungkin aku boleh mampir?"

Swan tidak menjawab. Bayangan dari bangunan apartemennya untung saja mampu menyembunyikan kedua pipinya yang sedikit memerah. Swan mengulurkan tangan ke arah Rain.

"Thanks, sekali lagi."
"Yeah, night!”
“Night... !"

Swan menggigit bibir. Angin malam memburaikan syal panjangnya yang berwarna merah. Swan merasa sebuah petualangan baru pada akhirnya akan dicatat, seiring laju deru mobil Cadillac Rain yang kian menghilang ditelan sunyi malam.□
................................................................................................................

hilang dalam cahaya....


Swan tinggal di sebuah rumah perkampungan yang ada di salah satu sudut kota Jakarta. Rumah itu milik budhenya, seorang janda yang asli dari Yogyakarta. Di rumah itu selain budhenya juga tinggal salah satu keponakannya yang saat ini masih duduk di bangku SMA. Sudah nyaris sebulan ini Swan tinggal di situ, segala keperluannya soal bersih-bersih sudah diurusi oleh Tinah pembantu keluarga itu yang sudah bekerja hampir delapan tahun lamanya.

Tinah mulai bekerja pada keluarga itu sejak umur enam belas tahun. Walaupun ia cerewet namun sebenarnya ia sangat perhatian terhadap perintah majikannya. Delapan tahun mengabdi, Tinah seperti¬nya sudah menjadi bagian dari keluarga itu sendiri.

"Sayuuurrr sayuuurrr... !"

Mata budhe melirik ke arah Tinah. Saat-saat begini Swan selalu tersenyum geli melihat kelakuan Tinah yang jadi salah tingkah. Maklumlah, Kunthing si penjual sayur itu sudah menjadi rahasia umum mengidap cinta pada Tinah yang walaupun sudah tinggal lama di Jakarta namun gayanya masih seperti tinggal di kampung saja.

"Gosip lagi! Gosip lagi!" Tinah nyeletuk.
"Gosip gimana? Cabe di rumah kan memang sudah habis to Tinah?" ujar budhe.
"Lagian mana enak masakan kamu kalau tidak dibumbui dengan getar-getar asmara Tinah?" Swan menimpali.
"Keroyokan! Keroyokan!" Tinah menggerutu, membuat seisi ruangan jadi tertawa.
"Beli sekalian lima kilo aja ya Bu, biar tidak cepet habis?"ujar Tinah.
"Apa nggak perlu sekalian bakulnya?" jawab budhe kalem.
"Diirit-irit Tinah, biar sering-sering ketemunya,'' timpal Swan.
"Ah bosen Mbak."
"Bosen gimana? Bosen kok cuma begitu-begitu saja? Sudah kepingin ya?"
Gelak tawa pecah lagi dalam ruangan itu. Selesai memberesi piring di atas meja Tinah segera bangkit dari duduknya.
"Uangnya, Bu?"
"Kumpulin saja ntar sekalian bayar."
"Lhah, kemaren-kemaren kan sudah ngutang?"
"Alaah, itung-itung panjar lamaran."
"Hahaha.... !"
"Ntar kalau dia bangkrut?"
"Trus gimana?"
"Ya dia nggak bisa lagi jualan?"
"Trus?"
"Dia nggak punya alesan ngapelin lagi dong?"
"Hahaha...!"
"Ya sudah...sudah! Kamu ambil saja tuh di meja kamar Ibu. Sekalian bayar kurangan yang kemaren."
"Hahaha...!"

"Sayuuurrrr...! Sayuuuurrrr...!"

Tinah keluar dari dalam rumah dengan jalan melenggang. Kunthing yang sudah menunggu sedari tadi memandangnya sambil tersenyum.

"Kamu itu mbok jalannya yang biasa saja to Dik Tin," komentar Kunthing sambil membenahi dagangannya.
"Biarin, ini sudah bawaan bayi kok. Emang kamu nggak suka Mas?" jawab Tinah.
"Ya bukannya begitu. Ngomong kok bawa-bawa bayi segala, emangnya kamu sedang mengandung Dik Tin?"
"Bayi sayur kangkung? Lhah Mas kan tahu sendiri aku ini masih singgel, mana bisa punya bayi?"
"Ya sudah, mau masak sayur apa sekarang Dik Tin?"
"Cabe saja Mas sepuluh biji."
"Itungannya nggak pake biji Dik Tin."
"Lalu itungannya pake apa?"
"Ya harusnya ditimbang, tapi kalau punya Mas itungannya bungkusan."
"Bungkusnya pake apa Mas."
"Ya pake plastik, masa pake celana."
"Ngutang lagi boleh nggak?"
"Yang pake kutang itu bukan cabe Dik Tin, tapi susu."
"Ah Mas Kunthing ini bisa saja."
"Jadi beli nggak?"
"Ya, tapi bayarnya belakangan ya?"
"Menurut asas profesionalisme standarnya para ekonom yang suka ngomong di Tipi, ngemplang itu dilarang. Apa kamu tidak tahu itu Dik Tin?"
"Lhah emangnya gimana?"
"Lha nanti kalau Mas jadi pailit trus gimana? Dorong gerobak isi pasir?"
"Masa sampai segitunya sih?"
"Kamu itu kok nanya terus sih? Apa kamu itu tidak tahu gerobak ini modal dagangan supaya nantinya bisa melamar kamu?"
"Jadi nanti Mas mau melamar aku?"
"Lha iya lah Dik Tin."
"Pake gerobak?"
"Wuadhuh…wuadhuh! duwe calon bojo kok rada geblek ki njur piye toh."

Swan yang mengintip dari balik tirai jendela tertawa terpingkal-pingkal. Obrolan tanpa beban dari dua orang rakyat kecil berlainan jenis itu dirasakannya polos dan sejujur-jujurnya.

"Lhah, kalo Mas nanti jelas-jelas mau melamar aku kan lebih baik aku yang menyimpan uang ini dulu biar Mas tidak boros?"
"Terus Mas Kunthing nanti belanjanya pake apa?"
"Ya pake uang, masa pake kambing."
"Lhoh...lhoh...lhoh, trus uangnya dari mana?"
"Ya cari dong, masa dari kambing."
"Yah, kamu ini jadi beli tidak?"
"Jadi dong, begitu saja kok marah."
"Ya sudah, beli apa?"
"Tapi Mas bukan kambing kan?"
"Semprul !"

“Sayuuuurrrr...! Sayuuuuurrrr...!"
.................................................................................................................

gairah melompat....


Rain membuka pintu mobilnya, lalu duduk di kap depan sembari menyalakan sebatang rokok. Matanya menerawang jauh ke depan, memandang percikan air mancur yang nampak berkilauan ditimpa cahaya lampu merkuri. Ini adalah rendezvous keempat kalinya dia dengan Swan.

Tak selang berapa lama kemudian Swan pun menyusulnya. la menyandarkan punggungnya di kap mobil dalam jarak yang dekat sekali dengan Rain. Angin malam yang berhembus sepoi meniupkan udara yang sejuk namun terasa kering di sekujur kulit. Swan merapatkan jaketnya.

"Apa yang kamu lihat saat ini?" tanya Rain membuka percakapan.
"Kamu," jawab Swan singkat.
"Apalagi yang kamu lihat saat ini?"
"Emm...aku melihat langit penuh bunga-bunga malam. Bintang-bintang kerlap-kerlip berpendaran di angkasa raya," jawab Swan.
"Apalagi?" tanya Rain sekali lagi sambil tersenyum.
"Aku melihat jalan yang lengang, taman yang sunyi karena ditinggalkan pasangan. Dan di perempatan, seorang lelaki tua mendorong gerobak dagangan untuk pulang. Entah apa yang dia pikirkan," jawab Swan.

Swan menoleh ke arah Rain yang ternyata tengah menatapnya. Waktu menunjukkan pukul dua dinihari tepat. Keduanya saling berpandangan. Senyum Rain mengembang, dan dengan rona pipi memerah Swan mencubit lengan Rain. Rain turun dari tempat duduknya sambil merangkul Swan. Keduanya melangkah pelan menuju air mancur di taman kota.

"Aku melihat malam yang sebentar lagi akan berubah pagi. Aku melihat air mancur yang geme¬taran. Sekacau dentuman jiwaku yang galau membayangkan jika kamu harus pergi di pagi nanti," ucap Rain setengah berbisik sembari melangkah perlahan-lahan menuju taman.

Swan menghentikan langkah. Ia memutar setengah badannya ke arah Rain. Sorot matanya menegas, mencoba menafsirkan seluruh makna kata-kata yang diucapkan oleh Rain. Rain menghela nafas, kedua tangannya memegang kedua bahu Swan Sejurus kemudian tangan kanannya menyibakkan rambut Swan yang jatuh di dahi.

"Kamu tahu apa yang tengah kupikirkan saat ini?" bisik Rain.

Swan hanya terdiam. Bola matanya bergerak menjelajahi seluruh lekuk sudut wajah Rain. Swan mencoba menerka-nerka. Tak bisa!

"Kamu tahu apa yang tengah aku pilirkan saat ini?" Rain menegas.
"Aku tengah merenungkan satu keajaiban yang tumbuh di satu malam, ketika kamu hadir secara nyata dalam kehidupanku," tanpa mempedulikan Swan yang seakan-akan terlongong-longong mendengar ucapannya, Rain terus nerocos saja.
"Sejujurnya aku telah begitu lama menantikan terjadinya saat-saat seperti ini. Bagiku kamu telah hadir begitu lama di ruang-ruang kalbuku, namun baru saat ini nampaknya segalanya menjadi pasti, Swan. Hingga malam ini...aku...aku..."

Rain tak bisa meneruskan kata-kata. Telunjuk jari kanan Swan telah menempel di bibirnya, seakan ingin menunjukkan apapun yang akan diucapkan Rain, Swan telah memahaminya. Swan meraih leher Rain, keduanya kemudian terlibat dalam satu ciuman yang hangat, murni dan menggetarkan.

Daun gugur di Manggarai. Taman kota di malam itu, suasananya kian tenang. Dari kejauhan lamat-lamat terdengar suara radio yang tengah mengudarakan lagu No Woman No Cry. Angin yang berkesiur di atas rerumputan tak menimbulkan desiran suara apa-apa. Hanya kehangatan menyelimuti sepasang manusia yang tengah dimabuk asmara.□
 ...............................................................................................................

romance d'amour....


Rain duduk di atas jendela apartemennya yang terbuka. la menatap lekat-lekat tubuh Swan yang masih nampak pulas di atas kasurnya. Udara pagi berhembus pelan memburaikan kain gorden di jendela, namun itu tak berpengaruh apa-apa bagi Swan yang nampaknya tengah melambung dalam gairah yang tak kasat mata.

".. . aku penulis Tak masalah dengan apa yang aku lakukan di sini. Aku telah melihat banyak peristiwa. Orang-orang cemas, orang-orang yang marah karena berbagai situasi dan keadaan.
Sebelum malam ini hatiku bersedih, lapar dan dahaga. Terasing dalam belantara yang sunyi dan sepi, mencari sekeping keajaiban yang tumbuh di rimbunan petualangan. Aku menyerah.
Keinginanku saat ini hanya ingin melayang bersamanya. Melupakan sejenak segala kepahitan kenyataan hidup yang seringkali memaksaku untuk terus berlari-lari mencari pijakan diri.
Tak ada pertanyaan lagi, tak ada pertentangan lagi. Aku akan menyerahkan diriku kepadanya, utuh dan sepenuhnya."


Hari merambat siang begitu cepatnya. Di antara sekian banyak orang-orang yang tengah berjuang memenuhi segala tuntutan kehidupannya Rain dan Swan nampak bergandengan dengan mesra. Keduanya menuntaskan kedahagaan jiwa yang selama ini membebaninya.

Dua tubuh satu jiwa, dua tubuh satu rasa. Keduanya saling menemukan, keduanya saling melengkapi. Sempurna. Tiba-tiba saja keduanya menjelma menjadi satu bagian episode cinta yang tak terpisahkan satu sama lainnya. Keduanya larut dalam kesukaan, canda tawa, cumbu rayu dari cinta yang gaib, liar dan apa adanya. Polos dan seutuhnya.□
.................................................................................................................

eye or art....


Swan hanya diam saja ketika teman-teman Rain menggodanya. Saat itu Rain tengah berada dalam studio rekaman untuk memberikan pengarahan kepada seorang penyanyi yang tengah mencoba menyanyikan sebuah lagu karya Rain.

"Nah elo Rain, baru juga dipisahin ama dinding rekaman, elo udah mo main gebet aja ama tuh penyanyi."
"lya tuh kelakuan si kadal, gue juga heran kenapa kaga' ada tobatnya."
"Mangkanye ini yang musti elu perhatiin. Kalo elu emang serius ama tuh kadal, elu musti siapin stroom, kali-kali aja dia tiba-tiba maen selonong sama sembarang perempuan."

Mendengar celetukan kedua teman Rain itu Swan hanya tersenyum. Justru Rose yang kemudian menimpali.

"Alaa...dasar jomblo, paling-paling banget sih kalian pada. Bilang aja kalo kalian berdua sebenarnya ngiri sama Rain!"
"Ngiri? Tukang parkir ‘ngkali pake ngiri?"
"lye, kalian berdua pada ngiri?"
"Kalo emang iya kenapa emang?"
"Ya kalian emang kelasnya tukang parkir!"

Jawaban Rose itu membuat kedua teman Rain terbahak-bahak. Tak berapa lama kemudian Rain keluar dari ruang studio, sementara Rose dan kedua teman Rain masih saling serang.

"Yap! Apa gue ketinggalan sesuatu?"
"Iya nih Rain, si mister-mister bokis ini pada mo gantri giliran kapan bisa ngedeketin tuh penyanyi?"
"Jadi itu nyang membuat lu pade beribut tadi?"

Teman-teman Rain tertawa.

"Alah...kaga usah pake pura-pura tengsin gitu. Abis ini elu-elu pade dapat giliran."

Mendengar perkataan yang baru saja diucapkan Rain, keduanya kontan bangkit dari tempat duduk¬nya.

"Giliran apaan tuh Rain?"
"Idih, kompak banget kaya' tentara pade mau baris."
"Alaa udah, kite musti ngapain nih?"
"Tuh, nyentorin kamar mandi penyanyi!" jawab Rain enteng sambil menganggukkan kepala mengajak Swan segera pergi.

Hari-hari dilalui kedua pasangan itu dengan canda tawa dan memadu cinta semata, Rain dan Swan. Sampai suatu hari Swan menerima sepucuk surat undangan rekan-rekan lamanya yang meminta kepadanya untuk menjadi salah seorang pembicara dalam lokakarya seni budaya di daerah asalnya.
Swan meninggalkan apartemen Rain di pagi hari, ketika Rain masih. tertidur pulas di atas ranjangnya. Sedianya Swan ingin membangunkan Rain, namun diurungkannya. la hanya meninggalkan sebuah kecupan kecil di dahi Rain, serta secarik kertas berisi pesan singkat yang ia taruh di atas meja dengan stempel lipstick tertoreh di bawahnya.□
...................................................................................................................




tahukah kau...?


Tiga

Di kota kelahirannya, Swan larut dalam lokakarya yang sangat padat dengan berbagai acara. Kegembiraan jelas nampak, terutama ketika Swan kembali bertemu dengan beberapa teman lamanya.
Di malam hari ketika usai acara, mereka bergerombol di kamar hotel tempat mereka menginap. Riuh rendah mereka saling bercanda sambil sesekali tertawa cekikikan mengenangkan nostalgia.

Tengah malam saat tiba lelah, mereka mengambil posisi tidur semau-maunya. Dunia persahabatan memang selalu begitu, nyaris tak ada aturan dan jarak yang berlaku, apalagi jika semua ini menyangkut sebuah pertemanan yang sudah cukup sekian lama tidak dipertemukan.

Swan termenung. la nampak terlentang di antara dengkur teman-temannya yang entah sudah ber¬rnimpi sampai di negeri mana. Pandangannya menerawang, menatap langit-langit kamar. Berkali-kali ia telah mencoba menghubungi telepon genggam Rain, namun tak ada jawaban.

"Sehari kulewati tanpa kamu, banyak terjadi kejadian-kejadian lucu. Sahabat lama yang dulu hilang, kini kembali bermunculan. Begitu banyak kisah diceritakan, begitu banyak nostalgia kembali dihidupkan. Tapi semua ini, tetap saja tak bisa hilangkan bayangmu dari kepala. Apa yang tengah engkau lakukan, Honey? Beri aku jawaban, walau sekadar suaramu, sebagai pengantar tidurku... "

...........................................................................


Memasuki hari kedua Lokakarya, Swan tampil sebagai pembicara.

"Sebuah tulisan, diawali dengan satu penggambaran data yang memuat latar belakang dan fakta. Ia kemudian berkembang menjadi satu jalinan kisah yang dibumbui dengan munculnya sedikit kebohongan yang naif dari mimpi-mimpi terselubung seorang anak manusia.
Sesudah itu muncullah konflik yang kadang begitu terasa melelahkan, namun sesungguhnya bisa menjadi semacam proses antar manusia untuk saling mengukur satu jalinan tekad dan keseriusan. Sebelum kemudian pada akhirnya dituntaskan dengan satu heroisme yang sempurna, seperti yang selalu menjadi impian seorang manusia, hedonis dan berkuasa............... "


Hari-hari selanjutnya di lokakarya dilalui Swan dengan berbagai macam kesibukan yang menimbulkan suka cita belaka. Antusiasme para peserta menjadikan Swan serasa menemukan kembali dunianya yang selama ini nyaris hilang.

"Rasanya aku masih kepingin kumpul-kumpul dengan kalian."
"Iya Mbak, kita bikin-bikin acara lagi saja yuk."
"Tapi aku sudah harus kembali ke Jakarta."
"Alah, Jakarta kan tidak keburu pindah kan Mbak?"
"Ya, tapi aku kan ada kesibukan di sana."
"Kangen sama si gondrong ‘ngkali?'
"Hush, anak kecil tahu apa!"
"Hahaha…!”
"Trus gimana dong dengan kita-kita? Rasanya belum puas nih ngumpul-ngumpulnya."
"Begini saja, kalian semua susun lagi sebuah acara, ntar aku bantuin deh."
"Yaah...tapi janji kan?"
"Janji."
"Yuhuui...!"
"Kalau begitu bulan depan aja kita bikin lagi acara."
"Bulan depan?"
"Lha iya lah."
"Duitnya?"
"Kita ngamen sama-sama!"
"Hahaha.!"

Di hari keenam, Swan berangkat kembali menuju Jakarta. Hampir sepekan berkumpul lagi dengan sahabat-sahabat lamanya membuat otak Swan kembali fresh dan bergairah menyusun hari-hari depannya. Nampaknya benar belaka apa yang sering diucapkan para pujangga selama ini, sahabat lama nyaris selalu menjadi solusi paling sempurna saat kita mengalami kebuntuan diri.

Kesibukan kegiatan yang hampir-hampir tidak ada putusnya membuat Swan merasa lelah dan capek luar biasa. Di sepanjang perjalanan yang dilaluinya dengan menunggang kereta mata Swan terasa berat dan terus tertidur pulas tanpa terasa. Satu jam dua jam tiga jam tak terasa kereta telah melintasi jarak enam jam lamanya.

Mendekati kota tujuan, dari sebuah peron tiga orang naik ke dalam kereta. Tiga gadis yang nampak¬nya teman sebaya. Sama-sama ceriwis, sama-sama modis clan sama-sama paling mau menang sendiri saja nampaknya. Suara percakapan mereka yang ribut dan keras membuat Swan mau tidak mau ikut mendengarkan.

"Udah aku bilang, cowok kamu itu jomblo yang paling kampungan. Masa punya idola aja dilarang."
"Tapi mungkin saja maksudnya emang baik. Bokin gue sikapnya juga gitu kok, cuma kalo dia kaga pake ngebentak-bentak."
"lya iya. Soal sayang itu aku juga ngerti. Tapi ngapain pakai posesif gitu. Lagian setergila-gilanya Noni sama Rain, nggak bakalan juga deh Rain tahu, apalagi ngebales. lya khan? Jangankan ngebales, mo mikirin aja jelas nggak ada kamusnya."
"Udah ah gue malas ngomonginnya. Yang jelas kita jadi nonton Rain khan?!"
"Ya jelas dong, kalo nggak ngapain juga kita bela¬-belain beli tiketnya."
"Ah elu, lagaknya kaya' mo dapetin gebetan aja. Hahaha...!"

Tiga orang gadis tadi tertawa cekikikan. Namun bukan itu yang membuat Swan tertarik, ia tersentak ketika mendengar nama Rain disebut-sebut. Swan lalu bertanya kepada salah seorang gadis tersebut.

"Eh ...boleh tahu di mana Rain ntar mau pentas, Mbak?"
"Wuih, rupanya Mbak ini penggemarnya juga ya?"
"Ya cuma pengin tahu aja."
"Nyesel lho Mbak kalo nggak sampai ngidolain Rain."
"Begitu ya?"
"Saya jamin Mbak nonton sekaliii… saja pasti langsung adicted."
"Kok kaya' iklan saja."
"Buktikan saja."
"Iya Mbak. Tadinya saya juga nggak begitu suka, sekarang..."
"Kenapa?"
"Ya ketinggalan lah kalo sampai nggak suka."
"Gayanya Mbak. Fuiihhh..:!"
"Kalo menurut gue sih, lagunya tuh...gimana gitu loh"
"lye ye, kok bisaan ya Rain bikin lagu sampai segitunya."
"Dia emang hebat sih."
"Ya, tapi kalian kan belum kasih tahu nanti Rain mo main di mana?"
"Oh iye sampai lupa. Jam tujuh entar malam, lokasinya di kafe Metro."
"Terima kasih."
"Barengan kita-kita aja Mbak."
"Ntar lah, aku masih ada acara lain."

Swan membetulkan posisi duduknya. Pukul lima sore hari, matahari dari arah barat bersinar dengan warna teja. Swan memandang HP miliknya yang sedari malam sudah ia off-kan untuk memberikan kejutan pada Rain atas kepulangannya yang lebih awal. Selintas ia berniat mau mengaktifkan, namun niat itu diurungkannya. Selarik senyum kecil tersungging di bibirnya, ia siap menyusun sebuah rencana.□

.............................................................................


terguling....


Swan melangkah menuju kamar artis seperti yang telah ditunjukkan oleh kru pentas. la berjalan bersijingkat menuju sebuah ruang yang di sebelah atasnya ditempeli kertas bertuliskan "Rain's Room". Lima meter dari depan pintu jantung Swan terasa berdebar-debar.

Ruang itu tak terkunci pintunya. Di sekitarnya juga tak terlihat ada kru, tak nampak penjaga. Sepi dan lengang. Dari balik daun pintu yang sedikit terbuka udara bisa mengalir secara bebas dan orang akan bisa dengan leluasa melongok di dalamnya.

Jantung Swan terhenti. Dari dalam ruangan yang disediakan khusus untuk para artis itu terdengar suara musik klasik mengalun ditingkahi tawa suara perempuan. Swan sedikit melongok ke dalam, dua tindak rnendadak ia melangkah surut ke belakang.

Di dalam ruangan itu sekelebat nampak Rain tengah tidur terlentang di atas ranjangnya. Santai dan telanjang dada. Sementara sambil berebahan di sebelah kirinya Rose memainkan rambut yang jatuh di dahi Rain. Keduanya nampak asyik bercanda ria.

"...lalu pas gue bilang cinta ama itu cewe, eh nggak tahunya cewe itu malah menangis."

Terdengar suara Rain disusul dengan tawa Rose yang terus cekikikan tak ada hentinya.

"Terus apa yang elu lakukan, Rain?"
"Ya gue bingung."
"Bingung? Bukannya itu gadis udah ngedekap elu?" tanya Rose sambil memainkan jari-jemarinya di ujung cuping Rain.
"Nah itu dia, saking bingungnya gue cuman bisa ngeremas-remas meja."
"Gombal! Hidung belang macam elu mana tahan cuma begitu. Paling juga lu langsung ngeremas-remas tuh buah prem punya gadis. Hahaha...!" Rose terbahak-bahak sambil tangan kanannya menyumpal hidung Rain.
"Sembarangan!" Rain bangun sambil tangannya mencoba meraih tubuh Rose yang keburu menghindar dari terkaman Rain.

Rose melompat dari ranjang, namun Rain terus mengejarnya. Keduanya main kejar-kejaran seperti anak kecil. Rose terus cekikian, Rain mengambil sebuah bantal lalu melemparkannya ke arah Rose. Tidak kena. Rose memicingkan mulutnya dengan kedua tangannya, lalu persis seperti anak kecil yang tengah mengolok-olok temannya Rose menggoyang-goyangkan tubuhnya mirip jogetnya si Inul Daratista.

Rain menggeram, ia mencecar Rose yang masih terus menghindar. Di dekat toalet Rain berhasil menangkap tubuh Rose yang meronta-ronta manja. Rain memeluk Rose dari arah belakang. Tepat di depan kaca Rain mendekap tubuh Rose serta menciumi kedua pipi Rose dengan gemasnya.

"Hidung belang...hidung belang...hihihi...!" olok Rose sambil cekikikan. Telunjuk kanannya menunjuk ke arah wajah Rain yang terpampang di atas kaca yang terletak di tengah ruang kamar itu.

Mendengar ledekan Rose yang terus mengolok-oloknya Rain justru semakin mengencangkan pelu¬kannya. Rain menggeram, kedua tangannya bergerak cepat merogoh masuk ke dalam blues yang dipakai Rose.

"Gue habisin elu...gue habis...!"

Belum lagi sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Rain tertegun. Gerakan tangannya terhenti, mendadak suaranya hilang seperti tersekat di tenggorokan. Di dalam kaca toalet yang terletak tepat di hadapannya, Rain melihat Swan telah berdiri di ambang pintu.

Rain mengendurkan pelukan di tubuh Rose. Perlahan-lahan wajah Rain menoleh ke arah pintu. Rose yang tadinya tertawa cekikikan juga terdiam, ia ikut-ikutan menoleh ke arah pintu.

Rain melangkah pelan ke arah pintu. Udara di rembang petang itu menjadi terasa beku. Swan menatap wajah dengan sorot mata tajam tak ber¬kedip. Rose membenahi pakaiannya.

"Swan...?"

Tak ada jawaban. Barangkali inilah saat-saat seorang lelaki merasa paling kecut dan tidak mungkin akan mampu membela diri.

"Kapan kamu pulang?"

Swan masih terdiam. Wajahnya terlihat kaku, tak selarikpun senyum tergambar di parasnya.

"Pertanyaannya bukan kapan aku pulang dan bagaimana aku bisa sampai di sini, namun apa yang tengah kamu lakukan Rain?" Ucap Swan dengan roman muka tetap tak berubah.
"Aku...aku hanya bercanda. Percayalah semuanya sungguh tidak seperti apa yang kamu bayangkan."
"Apa yang harus aku percayai, Rain?"
"Dengarkan.dulu penjelasanku."
"Aku sungguh tak yakin dengan apa yang harus aku percayai, Rain."
"Swan...!"
"Selesaikan saja tugasmu, Rain!"

Swan berkata sambil memutar badannya ke arah pintu, namun Rain keburu mencegatnya.

"Tunggu dulu, Swan."
"Apa hakmu mencegahku pergi?"
"Dengar dulu penjelasanku."
"Apa semuanya masih kurang jelas, hah!"
"Dengar dulu."
"Kamu yang harus mendengar. Aku nggak sudi kenal lagi dengan pecundang!"
"Swan...!"
"Minggir!"

Swan berkata sambil mendorong tubuh Rain ke arah samping. Meraup daun pintu lalu membantingnya sekeras-kerasnya. Waktu kian membeku. Lamat-lamat kemudian masih terdengar isak tangis seorang perempuan muda yang hatinya tengah terluka. Rain hanya bisa diam terpaku lesu di atas kedua kakinya melihat Swan pergi meninggalkannya.□

 bersambung.......
___________________________________________________________________
DAUN GUGUR DI MANGGARAI, GUSBLERO © 2000
Naskah ini pernah diterbitkan Focus Grahamedia (2006)
Jl. Sepakat II No. 73 Cilangkap – Cipayung, Jakarta Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar