just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Minggu, 09 Oktober 2011

DAUN GUGUR DI MANGGARAI

DAUN GUGUR DI MANGGARAI (Lima) l Gusblero

satu punggung dua muka...

 

Musim penghujan di ibukota. Malam yang temaram ditingkahi rintik-rintik gerimis yang membekaskan embun di kisi-kisi jendela. Swan menghela nafas menatap kelebatan bayangan yang lalu lalang dalam pikirannya. Terlintas kembali segala kenangan yang telah dilaluinya bersama Rain. Bernyanyi, diskusi, menulis puisi dan jalan-jalan bersama. Silih berganti bayangan kenangan manis itu datang memenuhi ruang kepalanya. Swan melenguh.

Swan merasa gelisah. la merasa tak tahu harus berbuat apa. Dingin dinding kamarnya yang berwarna jingga masih menyimpan foto terakhirnya bersama Rain kala berliburan di pantai. Semua itu masih dipajangnya. Namun ia juga merasa kali ini semua kenangan dan saksi-saksi bisu itu tak menimbulkan perasaan apa-apa.

la telah merasakan sakit yang cukup lama. Cinta dan pengkhianatan. Semua itu menempatkannya dalam situasi kebingungan karena terjebak dalam sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba saja hadir yang ia sendiri tidak mampu menjabarkannya apa. Sebuah kegelisahan, dan kebingungan yang disebabkan oleh…....adegan ciumannya bersama Sun.

" Kesepian telah membunuhku. Apakah aku salah, jika dalam sunyi pengembaraanku aku temukan tempat persinggahan bagi asmara yang tak kuyakini pasti dl mana ujungnya. Kekalahanku sebagai seorang perempuan yang tanpa da ya, sendiri dan…..kesepian.
Aku merasa kembali melihat langit pagi dengan sinarnya yang membakar, walaupun aku sendiri belum meyakini apakah aku akan sanggup lindap di bawah bayangannya.
Aku merasa sejauh ini telah terkecoh oleh nasib yang sungguh malang yang akhirnya memaksaku untuk menikmatinya. Entahlah. Perjalanan ini terasa menyiksaku. Namun di luar kesadaranku, petualanganku ini ternyata telah menagih hasratku kembali untuk mengulanginya lagi. Aku perempuan, terkapar, lunglai tanpa daya."

........................................................................................................

selubung maya...

Lima

"Selamat pagi Nona."
"Selamat pagi Mbak."
"Pagi Swan."
"Pagi Neng.¬"
"Pagi……….”

Begitulah sapaan salam selamat pagi yang kemudian terdengar tiap-tiap kali Swan terlihat melintas di sembarang jalan. Ini adalah pagi yang kedua puluh sesudah iklan parfum dengan model Swan ditayangkan. Swan sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa perubahan sosial yang terjadi di lingkungannya akan berdampak secepat itu. la merasa agak kikuk, risih dan tak tahu harus berkomentar apa. Ternyata benar seperti apa yang sudah sering dikatakan orang, sihir televisi ternyata bisa menciptakan perubahan yang sangat fantastis hanya dalam tempo sekejap saja.

Swan adalah seorang penulis yang selama ini pergulatan hidupnya lebih intens dituangkan dalam tulisan. Harus diakui perubahan hidup yang sekejap ini juga menimbulkan culture shock yang tak mudah bagi dia untuk melewatinya. Kenyataan ini juga berpengaruh pada keluarga tempat di mana ia tinggal, yang kemudian memaksa Swan harus pindah mencari kontrakan sendiri karena dengan banyaknya tamu yang datang membuat kehidupan budhenya menjadi merasa tidak nyaman.

Di hari pertama sesudah iklan itu terpampang di layar kaca saja sudah banyak teman-teman dan orang-orang di sekeliling rumah tinggalnya yang berbondong-bondong datang mengerumuninya. Umumnya mereka datang meluangkan waktu untuk sekadar menanyakan berbagai hal ini itu seputar bagaimana ia dulu menjalani testing, syuting, dan segala pernak-pernik proses lainnya.

Pada akhirnya, jujur Swan merasa malu sendiri, karena pada dasarnya kesempatan yang diperolehnya hanya didasarkan pada suatu hal yang sifatnya seperti iseng-iseng belaka, yang bahkan tidak bertautan sama sekali dengan dunianya selama ini sebagai seorang penulis.

Swan merasa mendapatkan satu anugerah yang tak pernah disangka-sangkanya. la telah mencoba menulis berbagai karya agar namanya bisa dikenal orang, namun ternyata perjuangan dan kegigihannya selama ini nyaris luput dan terlewatkan dari perhatian orang. Tentu saja kemudian Swan menjadi terkejut dan bengong bukan kepalang ketika ia mendapati kenyataan bahwa nilai popularitasnya saat ini justru ditentukan dari sekilas penampilan dalam iklan yang kepayahannya tidak seberapa.

"Tiga minggu sampai di hari ini orang telah mencatat keberhasilan hidup seorang perempuan lugu yang selalu membaca dunia dengan tergagap-gagap. Tentu saja harus aku syukuri, walau sejujurnya aku tak yakin benar dengan apa yang saat ini telah aku miliki.
Jika sudah begini segalanya bisa menjadi lebih menenteramkan, paling tidak aku bisa mempunyai redikit waktu untuk berlari dan menghindar dari sekadar cinta yang penuh kepura puraan."

................................................................................................................

buah bibir.....


Sayuuurrr....! Sayuuurrr......!

Pukul delapan pagi hari Kunthing menghentikan gerobak sayurnya tepat di depan rumah majikan Tinah. Tak berapa lama dia menata dagangan para pelanggan segera berdatangan. Tinah termasuk satu di antaranya.

"Sudah jualan lagi, Mas Kunthing. Kemarin-kemarin ke mana?"
Ada...ada saya jualan, Bu Prapto."
"Jualan ke mana?"
"Ya jualah biasa."
"Habis di jalan?"
"Ya begitulah."
"Lauknya mana?"
"Lagi nggak bawa stok, Bu."
"Emangnya kenapa? Habis di jalan juga?"
"Kemarin-kemarin saya bawa daging ayam, orang pada takut flu burung. Saya bawa jeroan kambing, orang-orang takut kena antraks. Saya bawa balungan sapi, giliran orang takut sapi gila. Saya bawa ikan pindang saja, orang bilang bekas makan daging orang yang kena tsunami. Ya sudah saya stop dulu to Bu, daripada maunya jualan daging malahan saya sendiri yang jadi gering."
"Mas Kunthing itu kalo jualan yang bener to. Masak mau libur dua hari nggak ngasih woro-woro dulu?"
"Lhah saya ini tetep jualan, Dik Tin. Tapi apa nggak boleh to kalo Mas Kunthing ini juga mulai mikir¬-mikir soal penglarisan?"
"Maksud Mas Kunthing ini gimana? Aku kok ndak ngerti."
"Menurut buku Primbon, Dik Tin. Hari pasaran Wage itu Mas Kunthing harus berjualan ke arah barat, Kliwon ke selatan, lhah baru pasaran Legi arahnya lagi ke sini?"
"Primbon yang mana?"
"Lha yang dulu Dik Tin suruh baca."
"Itu kan cuma buku?"
"Tapi itu warisan leluhur, pepeling dari nenek moyang kita sejak dari zaman dulu kala."
"Lantas, laku enggak dagangannya?"
"Ya belum, namanya juga baru nyoba."
"Itu namanya Gatotkaca, Mas."
"Gatotkaca, apa maksudnya?"
"Gagal total kakehan cangkem!"

Sayuuuurrr ! Sayuuuurrrr...!

"Eh Dik Tin, ndoro ayu Swan ada nggak?"
"Ngapain nanya-nanyain jeng ayu segala?"
"Aku pengin ketemu sebentar."
"Ya sana di kontrakannya yang baru."
"Kontrakannya yang baru? Lhoh Ihoh Ihoh... tunggu dulu Dik Tin, apa ndoro ayu Swan sudah pindah?"
"Mangkanya jangan kebanyakan baca Primbon. Jeng ayu pindahan saja sampe tidak tahu."
"Namanya juga ikhtiar supaya bisa cepet kaya to, Dik Tin."
"Memangnya kalo sudah ketemu jeng ayu trus mau ngapain?"
"Mau minta fotonya ndoro ayu, Dik Tin. Siapa tahu nanti dagangan Mas Kunthing jadi ikut-ikutan laris."
"Memangnya jeng ayu juga jualan sayur?"
"Yo tidak. Tapi dia kan lagi laris, fotonya ada di mana-mana."
"Ya sudah. Mas Kunthing tinggal ngambil satu aja kok."
"Itu kan sticker, Dik Tin, gambar tempel."
"Trus, gimana dong?"
"Entar kalo ndoro ayu pas ke sini Dik Tin maintain ya?"
"lya deh. Trus apa lagi?"
"Ya sudah."
"Trus, belanjaannya dapat kortingan nggak?"
"Yaahh Dik Tin, menurut pakar ekonomi kita harr..."
"Sudah sudah... aku dadi mumet dhewe!"
"Eh eh satu lagi, Dik Tin."
"Apa?"
"Ndoro ayu bisa sukses begitu apa dia juga manut Primbon?"
"Primbon?! Emang tukang sayur?"
"Semprul...!"

Sayuuuurrr ! Sayuuuurrrr....!

...........................................................................................................

lirih.....


Rain menekan perasaannya. Kali ini aku tidak boleh gagal lagi, ucapnya. Parameter nada merambat pelan di layar equalizer, ketegangan terasa sedikit memuncak di ruang studio rekaman malam itu. Ini adalah usaha Rain yang kesebelas kalinya untuk menyelesaikan sebuah lagu yang diharapkan nantinya akan bisa menjadi single hits.

……………………………
Daunan gugur di Manggarai
Luka terkubur duka berderai
Daun yang gugur di Manggarai
Rindu mengabur kubelai-belai
Segala mimpi telah menjadi
Kesukaan diri apa adanya
Biarkan nanti tetap abadi
Mengikat janji sumpah setia
Daunan gugur di Manggarai
Hatiku hancur kerna kulukai
Jangan tertidur Dinda aduhai
Dengarkan mazmur cinta kumulai

……………………………

"Cut! Fine!"

Semua yang ada dalam studio bersorak gembira. Rain, Rose dan seluruh teman-teman musisi Rain menarik nafas lega. Mereka saling berjabatan tangan, satu album baru kini telah dirampungkan.

Sementara semua orang tengah asyik menyimak ulang hasil rekaman tadi, Rain menyelinap keluar balkon studio rekaman. Malam telah menjangkau pagi, suara kereta api terdengar dari arah utara. Rain membuang puntung rokok sambil mendesiskan sebuah nama yang tidak begitu jelas kedengaran suaranya.□

bersambung...............
___________________________________________________________________
DAUN GUGUR DI MANGGARAI, GUSBLERO © 2000
Naskah ini pernah diterbitkan Focus Grahamedia (2006)
Jl. Sepakat II No. 73 Cilangkap – Cipayung, Jakarta Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar