just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Jumat, 07 Oktober 2011

DAUN GUGUR DI MANGGARAI

DAUN GUGUR DI MANGGARAI (Satu) l Gusblero

Museum by Stedelijk

Prolog........

Pagi yang dingin dan berkabut, di beberapa tempat masih nampak genangan air sisa hujan semalam. Swan berjalan perlahan melintasi jembatan. Mantel coklat muda yang ia kenakan melambai-lambai ditiup angin pagi. Sebuah syal warna merah melilit lehernya. Langkahnya ringan, pandangannya lurus ke depan.

Ia melangkah di antara bunga-bunga di taman kota. Semuanya masih nampak lengang, tak banyak orang berlalu lalang. Seorang penjual koran menawarinya bacaan, namun ia hanya membalasnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tepat di tengah-tengah taman Swan berhenti sejenak, ia membungkukkan badannya lalu meraup air di kolam air mancur untuk sekedar mencuci muka. Swan menyeberangi taman.

Ia berjalan menuju halte bus yang terletak di seberang jalan. Beberapa kali ia melompat-lompat kecil menghindari comberan di jalan raya. Sebuah sepeda motor yang tiba-tiba saja muncul dari tikungan membuat Swan terkejut dan nyaris terpelanting. Mata pengendara sepeda motor itu mendelik, namun Swan membalasnya dengan melotot sambil mengumpat : bedebah…!

Bus kota datang. Swan ikut berebutan dengan sesama calon penumpang. Bus berjalan, dari kejauhan nampak ia ikut bergelantungan di pintu bus.□
..............................................................................................................
aku melihatnya lagi....


Rain menatap dari balkon rumah tingkat yang ia sewa, pandangannya jauh tertuju pada sebuah jalan di atas jembatan yang membelah kota. Ia melihat semua peristiwa yang terjadi di pagi itu. Ia melihat Swan menyeberangi jalan, juga melihat ketika Swan mencuci muka, bahkan juga melihat ketika Swan nyaris terserempet sepeda motor. Rain tersenyum, jantungnya berdegup kencang.

“Aku melihatnya lagi. Perempuan itu melintasi jembatan di atas sungai yang membelah kota. Wajahnya yang tanpa polesan itu seakan menambah kecantikan warna pagi yang baru terjaga. Ia seperti keajaiban yang tiba-tiba muncul dari balik kabut menuju cerahnya hari yang beberapa minggu sebelumnya jarang aku jumpai.
Aku melihatnya lagi. Perempuan itu berjalan dengan langkah-langkahnya yang kecil, berlari-lari menyongsong masa depan melalui jalan-jalan sunyi menuju taman kota, mengeja satu demi satu lintasan-lintasan peristiwa dan panorama yang dilaluinya.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, ia kembali memancarkan pesona yang begitu hangat menyentuh sisi-sisi hatiku yang gersang, mencari-cari bayangan perempuan impian seperti dirinya.”


Rain menghela nafas. Dering suara telepon yang sudah sedari tadi berbunyi tak diperdulikannya. Ia menatap bus yang membawa Swan bergelantungan sampai akhirnya menghilang.□

 .....................................................................................................

 Satu


“Kriiingg…!” bunyi telepon berdering. Rain berlari dari kamar mandi dengan handuk masih melilit di pinggangnya.

“Luha?” sapa Rain.
“Hai Rain, gimana sih kamu janjinya kita bisa latihan pagi ini?” terdengar suara dari seberang telepon.
“Ups, sori Rose. Aku baru saja selesai mandi, semaleman habis nonton bola sih.”
“Nonton bola apa maen bola?”
“Ditonton bola ‘ngkali. Hahaha….!”
“Terus gimana?”
“Lhah, teman-teman sudah pada kumpul?”
“Udah dari kemaren!”
“Yo wis, aku pake pakaian dulu ya.”
“Nggak usah.”
“Trus?”
“Tutup saja pake ketimun! Hahaha….!”
“Sapi lu!”
“Ya udah buruan kita tunggu.”
“OK.”

Rain meletakkan gagang telepon. Ia segera menuju kamar untuk ganti pakaian. 2 menit 3 menit 5 menit 10 menit seperempat jam ia baru selesai ganti pakaian. Kini giliran dia yang kemudian bingung mencari-cari sebelah sepatunya yang ngumpet entah di mana.
“Shit”
Rain blingsatan. Ia membolak-balikkan kursi sudut di ruangan tamunya. Belum ketemu. Bel rumah tiba-tiba berbunyi.
“Permisi”
Rain tidak peduli. Kali ini ia membongkar-bongkar tempat menaruh pakaian-pakaian kotor. Bel rumah kembali berbunyi.
“Permisi”
Rain menoleh kearah pintu, namun ia hanya mendengus. Rain membanting keranjang cucian. Rain berpikir keras, lalu pandang matanya tertuju kekolong tempat tidurnya. Bel rumah sekali lagi berbunyi.
“Pemisi”
Rain merangkak. Ups, kena! Sepatu itu tergolek tak berdaya di sudut kolong. Rain segera meraupnya. Bel rumah lagi-lagi berbunyi, berkali-kali.
“Yaaa…!!” rutuk Rain.
Rain berjalan setengah lari menuju pintu sambil memakai sepatu. Ia nyaris terjatuh. Beruntung diruangan tamu itu ada patungnya. Patung perempuan setengah bugil, Rain berpegangan tepat berada di salah satu payudaranya.
“Ups, sori ma.“
Pintu dibuka. Seorang laki-laki dengan pakaian kejawen yang sangat ‘sopan’ sudah menunggu di ambang pintu. Sekali lagi laki-laki itu mengucapkan salam.
“Permisi. “
“Ya ,ada apa?” Tanya Rain.
“Saya mau bertemu bung Rain.”
“Ya, saya sendiri. “

Laki-laki itu tersenyum. Kali ini tampilan gayanya jadi berubah. Laki-laki itu menganguk-anggukkan kepala sambil terus menatap ke arah Rain. Hemm… seniman!

“Boleh saya masuk?”
“Anda ini siapa?”
“Ah nanti Anda juga akan tahu. Sebentar lagi seluruh rakyat Indonesia juga akan tahu. “
“Ya, tapi Anda ini siapa?”
“Saya pencipta lagu. Di kampung saya itu orang sudah biasa geger kalau mendengar nama saya. Macan saja jadi diem kalau mendengar lagu-lagu saya.”
“Maaf, saya tidak punya waktu.”
“Alaah. Jangan merendah bung. Saya tahu anda ini punya waktu banyak.”
“sekali lagi maaf!”

Rain sudah bergerak akan menutup pintu, namun laki-laki itu keburu menyergahnya.

“Anda tidak boleh begitu Bung terhadap sesama seniman.”
“Tapi saya betul-betul tidak punya waktu.”
“Setengah jam saja Bung?”
“Tidak!”
“Seperempat jam?”
“Tidak!”
“Sepuluh menit”
“Tidak!”

Muka Rain mulai memerah. Kembali ia mau menutup pintu, namun laki-laki itu kembali menyergahnya sambil ikut-ikutan memegang daun pintu.
“Eiit…eit…no…no…no…no! kalau Bung begitu akan saya kabarkan perlakuan yang tidak sopan Bung terhadap sesama seniman.”
Rain sudah tidak bisa lagi menahan amarah. Kali ini justru ia yang melangkah keluar.

“Baik, mana kasetnya?!”
“Kaset?”
“Iya, kaset. Contoh lagu-lagu anda?”
“Lhah, saya mau nawarin lagu kok malah Bung ini nanya kasetnya, ya jelas tidak ada dong, wong saya ingin bung ini menyanyikan lagu-lagu saya.”
“Wong edan!”
“Jangan menghina begitu bung. Bung tidak tahu kalau bung mau menyanyikan lagu-lagu saya ini bisa ngetop tujuh turunan.”
“Alaaah sudah, mana kasetnya?”
“Ndak ada. Jadi begini saja bung, biar saya nyanyi saja….”
“Wong edan!”

Belum lagi selesai laki-laki itu berbicara, Rain sudah membalikkan badan masuk ke dalam rumah dan membanting pintu sekeras-kerasnya. Laki-laki yang mengaku-aku sebagai seniman bin aneh itu hanya terlongong-longong, namun mulutnya masih bersungut-sungut juga.
“Lhah kok malah banting pintu? Apa tidak tahu kalau pintu itu bisa rusak gantinya mahal? Sembarangan, mana minyak tanah seliter sudah enam ribu rupiah!”

Laki-laki itu masih nyerocos. Lalu sepertinya teringat sesuatu ia menjentikkan tangannya. Ia mengambil keris dari sarung yang ada dipinggangnya kemudian mengacung-acungkan ke arah pintu rumah Rain.
“Eh bung Rain… bung Rain, buka pintunya dulu. Keris ini ada isinya lho. Didalamnya ada tujuh bidadari, dia itu bisa nyanyi bagus-bagus sekali!” teriak laki-laki itu sambil menggedor-gedorkan pintu.

Lalu tiba-tiba pintu itu terbuka. Dari dalamnya muncul seekor anjing herder yang sangat besar. Laki-laki itu terkesiap, ia segera nengacung-acungkan kerisnya kearah anjing herder yang terus menggonggong. Laki-laki itu sedikit melangkah mundur, lalu… lari tunggang-langgang.□

.........................................................................................

Siang hari di sebuah kantor penerbitan Swan menemui Moon, seorang sahabat lamanya yang mempunyai usaha di bidang penerbitan buku-buku. Ia duduk menyandarkan tubuhnya di kursi tamu, tangannya membetulkan mantel. Sementara Moon nampak acuh tak acuh, ia menatap layar komputer yang terpampang di hadapannya. Suasana hening, hanya lamat-lamat terdengar alunan suara musik instrumental yang diputar lewat speaker kecil yang di taruh di atas meja. Swan terlihat tengah menjelaskan sesuatu, saat kemudian terdengar suara ketokan di pintu.

“Masuk.” Moon berkata.

Imel, sekretaris perusahaan itu nampak membuka pintu, kemudian masuk sambil membawa seberkas laporan. Moon menoleh, dengan tangan kanannya ia mempersilahkan Imel untuk duduk di sebelah Swan. Imel mengangguk memberikan salam kepada Swan, yang dibalas Swan dengan anggukan pula, lalu duduk di sebelahnya dengan masih menggenggam berkas laporan.

“Ada perkembangan baru?” Moon bertanya kepada Imel.

Sebelum menjawab Imel membetulkan letak roknya, lalu sedikit menyorongkan badannya ke depan sambil menyeret kursi yang didudukinya.

“Tidak ada, Pak. Sesuai dengan kesepakatan kemarin kita hanya diberi jatah empat puluh persen dari tender semula. Pihak pemesan bilang, tindakan ini dilakukan untuk sekedar bagi-bagi order, sementara menunggu keputusan selanjutnya untuk mencetak buku-buku yang baru.”

Moon hanya mengangguk-angguk, tangannya memainkan pulpen yang diketuk-ketukkannya di atas meja.

“Perjanjiannya bagaimana?”
“Lagi diurus, Pak.”
“Diurus secermat mungkin ya, masalahnya kondisi kemungkinan pasar lagi tidak tentu sekarang-sekarang ini.”
“Ya, Pak.”

Imel menjawab sambil menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya. Moon membalik-balik sejenak dan menyimak berkas-berkas itu lalu segera menyerahkannya kembali kepada Imel.

“Ya sudah.” Ucap Moon.
“Terima kasih, Pak.” Jawab Imel sambil menunduk, lalu membalikkan badannya melangkah ke luar pintu.

Moon menatap Swan, tangannya masih memainkan pulpen.

“Kamu lihat sendiri kan? Kondisinya lagi begini.”
“Tapi, Moon. Aku kira naskah ini sangat cocok untuk diterbitkan sekarang, apalagi di era kebangkitan perempuan seperti saat ini.” Jawab Swan.
“Situasinya tidak pas, Swan. Kondisi perekonomian sedang memburuk, jangankan untuk membeli sebuah buku, untuk membeli kebutuhan sehari-hari saja orang masih perlu mikir-mikir seribu kali.” Jelas Moon sambil berdiri. Ia berjalan menuju jendela yang menghubungkan ruangan itu dengan pemandangan orang yang nampak lalu lalang di jalan raya.
“Kelihatannya kamu berubah jadi skeptis sekali, Moon?” Tukas Swan.

Moon tidak menjawab. Ia kembali duduk di kursinya. Sorot matanya tajam, menatap Swan.

“Ini bukan masalah skeptis atau tidak skeptis, Swan. Persoalan bisnis adalah persoalan matematis yang tidak sekedar mengandalkan untung-untungan.”
“Lalu, kamu masih ragu dengan kemampuanku?” Tanya Swan.
“Bukan begitu. Sekali lagi persoalannya masalah situasi dan kondisi pasar, Swan.”

Keduanya terdiam. Swan membuang nafas, ia nampak kebingungan.

“Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan, Moon?” Tanya Swan.
“Apa yang harus kamu lakukan? Hmm...menurutku masih banyak yang bisa kamu lakukan. Kamu masih muda, cerdas, dan cantik lagi. Aku kira masih banyak pintu peluang kerja lain untukmu.” Jawab Moon.
“Misalnya?”
“Misalnya? Hmm…bisa saja kamu jadi seorang sekretaris atau…mungkin seorang model.”
“Hahaha…model? Nggak salah kamu, Moon?”
“Why not?”
“You’re so funny, man.”

Swan berkata sambil berdiri, ia meraup naskah yang tergeletak di atas meja, lalu beranjak pergi tanpa mengucapkan permisi.

“Coba kamu piker-pikir lagi, Swan!” teriak Moon sebelum Swan hilang di balik pintu.
“Thanks, Moon. Ntar aku kontak majalah Playboy deh!” jawab Swan sambil tertawa.

Swan berjalan keluar kantor Moon menuju jalan raya. Panas terik lalu-lalang mobil di jalanan. Di salah satu sudut trotoar seorang pedagang menjual VCD-VCD bajakan sambil memutar lagu Rap yang tak jelas juntrungnya sekeras-kerasnya. Berisik dan tak mempedulikan apa saja.□
..........................................................................................

ia terguling...


Sore hari coffee break di sebuah studio. Rain dan teman-temannya tengah asyik menyimak hasil rekaman. Mereka mengevaluasi latihan.

"Melodinya Cing! nge-Queen bangeet!" teriak si tukang gebuk drum.
"Queen Latipah!" Rose menimpali.
"Latipah Sandhora!" rutuk si tukang melodi sam¬bil tertawa membuat yang lain ikutan tertawa.

"String section kayaknya kudu ditambah nih," komentar Rain.
"Lhah, itu kan sudah," ujar tukang keybord.
"Masih kurang tebel kedengarannya."
"Ntar jadi kayak orkestra dong?"
"Nggak juga."
"Orkes tarantula maksudnya! Hahaha...!" timpal drummer.

Setiap hari dunia musisi kehidupannya selalu diwarnai dengan hahaha hihihi. Eloknya, di antara riuh warna kehidupan yang nampaknya berwarna slengekan itu acapkali muncul fenomena gemerlap yang menjadi obsesi bagi sebagian besar para pemimpi.

"Jadi, berapa kita sudah punya lagu baru?" Tanya Rain.
"Tujuh lagu, tiga aransemen masih perlu dimaksimalkan lagi," papar bassis.
"Agenda launching?"
"Company mengharapkan sih mendekati akhir tahun. Itu artinya tiga bulan lagi."
"Lhah, terus?"
"Temen Rose itu ada beberapa lagu bagus, gue sudah sempat ngedengerin. Mungkin bisa kita pakai."
"Gimana, Rose?"
"Aku rasa bisa," jawab Rose.
"Ya sudah," ujar Rain.
"Ntar mungkin bisa aku kontak," kata Rose lagi.
"Alaah, bukannya tiap malem lu udah biasa kontak?" celetuk bassis.
"Eh tukang intip, itu bukannya kontak tapi kontrol!"
"Hahaha....!"
"Dia itu masih family aku, uler kasur!"
"Nah Ihoh, tega banget lu?!"
"Sialan."
"Hahaha....!"

Rose mencubit lengan si tukang betot bass, tapi bukannya minta ampun si tukang bass justru ngeles.

“Adouw, jangan nyang situ dong bawahnya lagi. Hahaha...!"
"O minta lagi?!" cubifan Rose makin keras.
"Lhah, bukannya semalem udah dua kali?! Hahaha.... !" Bassis makin cengengesan.
"Jorok lu!" rutuk Rose sambil melepaskan cubitan. Melihat adegan itu yang lain cuma tertawa.
"Udah yuk kita cabut, besok pagi latihan lagi," ajak Rain kepada teman-temannya. Mereka semua segera bangkit dari tempat duduknya lalu satu persatu pergi meninggalkan studio.□

 ...................................................................................

Swan berjalan sambil melamun. Matahari di sore hari itu masih terasa begitu garang menyengat di sekujur kulit. Fuiih...! Swan mendengus. Di sepanjang perempatan jalan itu begitu banyak jongki-jongki beroperasi untuk sekadar menawarkan jasa bantuannya.

Pengangguran. Selalu begitu resiko di kota besar. Kompetisi, seleksi alam, uji coba, banting stir, menghalalkan segala cara menjadi bagian dari sekian warna dan dinamika kehidupan masyarakat di perkotaan. Tidak ada sesuatu yang eksak, semua berawal dari secercah kemungkinan yang kemudian terus hidup, berkembang dan terus hidup lagi dalam ribuan kemungkinan. Harapan-harapan yang kemudian tumbuh di kota besar lalu dibumbui dengan berbagai bentuk mimpi untuk mendapatkan kesetaraan derajat secara instan di tengah persaingan usaha yang sangat ketat membuat masyarakat di metropolitan menjadi workaholic.

"Copeettt...!"

Sebuah teriakan dari arah belakang tiba-tiba membuyarkan lamunan Swan. Swan menoleh. Seorang ibu separuh baya dengan anak kecil di sam¬pingnya berteriak-teriak histeris sambil mengacung-acungkan tangan menuju ke seorang lelaki yang tengah berlari menuju ke arahnya.

Swan mendengus. Hmm...penindasan! Maunya dapat rejeki dengan cara paling gampang?
Swan membalikkan badannya. Laki-laki itu ber¬umur kurang lebih tiga puluhan. Badannya sedang, mengenakan jaket hitam. Di sebelah kiri terbentang tembok panjang, di sebelah kanan terhampar jalan raya dengan lalu lintas yang padat bertepatan dengan banyak para pegawai pulang kerja.

"Copeeettt...! Copeettt...!"

Tak ada pilihan lain. Laki-laki itu pasti akan menu¬ju ke arahnya. Tak ada pilihan lain. Laki-laki itu tinggal sepuluh depa sampai ke arahnya. Swan merasakan syaraf-syaraf di sekujur tubuhnya mulai menegang.

"Copeeettt...! Copeeettt...!"

Benar juga. Laki-laki itu tidak mengubah arahnya. Satu meter dari hadapan Swan laki-laki itu menghantamkan tinjunya sambil berteriak, "Minggir!"
Swan memiringkan tubuhnya ke samping. Ketika pukulan laki-laki itu sekelebatan lewat di atas kepala¬nya Swan makin merendahkan kuda-kudanya.

"Bedebah...!"

Swan menggeser kakinya tepat ketika sebelah kaki laki-laki itu melintasinya. Tepat! Laki-laki itu terjungkal. Tubuh laki-laki itu menampar bahu jalan. Swan mengejarnya.
Laki-laki itu secara sigap segera terbangun. Matanya melotot ke arah Swan.

"Mau cari mampus, heh!"

Tangan laki-laki itu bergerak hendak mengambil sesuatu dari balik bajunya, namun Swan tidak mem¬berinya kesempatan. Sebuah tendangan empat puluh lima derajat dilayangkannya.

"Kamu yang cari mati, monyet!"

Tubuh laki-laki itu kembali terkapar. Tanpa menunggu laki-laki itu bisa bangun lagi Swan sudah mencecarnya dengan tendangan demi tendangan. Tubuh laki-laki itu terguling-guling. Sesaat kemudian tempat itu sudah menjadi ramai. Kerumunan orang menghajar laki-laki itu sampai babak belur.

Swan menoleh ke belakang. Ibu separuh baya yang menjadi korban pencopetan itu sudah ada di dekatnya. Matanya berkaca-kaca, setengah terisak ia mengucapkan terima kasih sambil mengulurkan tangannya. Swan tersenyum, ibu itu menubrukkan badannya ke bahu Swan. Swan memandang langit, udara Jakarta saat itu begitu tenangnya. Dari bibir Swan terucap kata-kata lirih, "Ibu...."□
.......................................................................................................

langit tanpa tiang....


"Blok M...Blok M...!"

Teriakan kernet bus menghingarkan sepanjang jalan-jalan di ibukota. Bunyi klakson saling bersahut-sahutan acapkali melintasi daerah-daerah rawan padat yang disesaki kendaraan.

Swan mendesah. Pandang matanya menerawang gedung-gedung pencakar langit yang bertebaran di kanan-kiri jalan. Jakarta, sepanjang daerahnya hanya berisi bangunan-bangunan perkantoran dan hamparan lahan parkir belaka. Kota ini telah menjadi industri, dari yang berbasis bisnis murni sampai prostitusi.

Swan menunduk. la menatap segepok naskah yang masih tergenggam erat di tangannya. Empat perusahaan penerbitan telah didatanginya, yang jawabannya setali tiga uang. Situasi perekonomian nasional di tengah kalut, para pelaku bisnis merasa relatif sedikit aman hanya dengan menyimpan uangnya di perbankan daripada mengembangkan usaha saat ini.

Semua orang relatif hanya menunggu. Pasar kali ini menciptakan antrian terpanjang para pengangguran yang ingin memperoleh kesempatan untuk mendapatkan kerja yang barangkali jumlahnya bisa melampaui catatan rekor dunia.

"Blok M...Blok M...!"

Bus berhenti di sebuah halte. Enam penumpang naik, tiga orang pelajar dua orang ibu-ibu clan seorang . anak muda yang bergaya perlente. Sekelompok pengamen ikutan naik. Bus kembali melaju. Temperatur udara saat itu berkisar tiga puluh derajat Celcius.

... buat apa susah, buat apa susah
lebih baik kita bergembira...


Lagu Koes Plus itu mengalun dari mulut para pengamen. Pemuda perlente tadi masih berdiri di ujung depan dekat sopir. Gayanya 'wuadhuh' banget, barangkali dia lagi membayangkan diri menjadi Keanu Reeves dalam film Speed.

"Duduk saja, Bang,"

Kondektur bus menegurnya. Pemuda tadi mena¬tap kru bus itu sebentar, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"OK."

Pemuda itu berjalan ke arah belakang. Satu lewat dua lewat, pemuda itu tepat di samping Swan sekarang. Cling! Pemuda itu tersenyum, lalu segera menjatuhkan badannya ke kursi. Swan merapatkan duduknya ke sudut jendela, pemuda itu membuka kacamata hitamnya.

"Ke Blok M, Non?"
"Nggak. Ke Tibet."
"Ke Tebet maksud kamu?”
"Apa bedanya? Memang itu urusan kamu?"
"Sendirian?"
"Rame-rame, lihat tuh banyak penumpang."

Si perlente itu melongo. Ya ampuun...gayanya 'kiwil' banget. Dia merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya: TTS! Serta mengambil pulpen dari saku yang satunya lagi. Bus terus melaju. Pengamen masih menyanyikan lagu.

"Ngisi TTS? Atau cuma untuk nutupi iler doang?"
"Ah nggak. Iseng-iseng saja, aku tidak begitu tertarik dengan hadiahnya kok."
Ya ampuun....mana ada dari TTS murahan yang gambarnya saja Britney Spears pakai bikini seperti itu ada hadiahnya. Handuk dari Hongkong barangkali!

Si perlente itu tetap, saja cuek. Longak-longok kiri kanan tiap kali mengisi sebuah jawaban. Perasaan! Pengamen masih bernyanyi.

... buat apa susah, buat apa susah
lebih baik kita bergembira...


"Hmm, lagu untuk menipu diri. Mana ada hidup di Jakarta sekarang nggak susah!" Pemuda tadi menggumam diri. Swan ngikik dalam hati.
"Lagunya yang bener dong, yang realistis...!"

Mata para pengamen mendelik. Penumpang yang melihat adegan tadi sama tertawa. Swan mulai merasa ada makhluk ET di sebelahnya, namun ia diam saja. Pemuda itu meneruskan mengisi TTSnya.

"Ibukota Peru, apa ya Non?" pemuda itu menowel lengan Swan.
"Lima," Swan menjawab ogah-ogahan.
"Satu saja Non, empat kotak."

Duh, kena aku sekarang! Swan membatin. Perasaan kenapa sih bus ini tidak sampai-sampai juga ke tujuan? Pemuda itu merasa mendapat peluang. Swan merasa sedikit ketar-ketir.

"Eh, bahasa Inggrisnya otak apa ya? Lima kotak."
"Brain."
"0 ya ya...aku lupa. Dulu-dulu yang begini sih di luar kepala."
"Kalo otak dengkul isi nama kamu saja!"

Kali ini mata pemuda itu yang mendelik. Hahaha...! Dalam hati Swan terpingkal-pingkal. Pemuda itu seperti hendak berkomentar, namun Swan keburu bangkit dari tempat duduknya.

"Kantor depan, Pak!"

Swan merangsek begitu saja melewati dua kaki si perlente yang nampaknya keukeuh tidak mau menggeser itu. TTS di tangan pemuda itu terjatuh, tapi Swan tidak peduli. Mata pemuda itu melotot, Swan mana ada urusan lagi.

... buat apa susah, buat apa susah
lebih baik kita bergembira...


"Eh, nyanyinya yang bener dong......!!!"□

 ..................................................................................


Dua

Malam hari di pusat kota, bintang-bintang ber¬taburan di angkasa raya. Panorama alam nampak sempurna, tapi orang-orang tak peduli. Orang-orang kota sudah memiliki lampu merkuri, juga lampu disko yang berkelap-kelip berwarna-warni.

Swan mendesah. la merasa galau dan gagal. Tujuh perusahaan telah dimasukinya, namun semuanya menolaknya. Swan merasa berada dalam sebuah situasi yang sangat rumit, namun itu justru menguat¬kan hatinya untuk mampu bisa menundukkannya.

"Aku mampu, karena itulah. kenapa aku ada di sini!" tekad Swan dalam hati. la merasa cuma nasib saja yang nampaknya belum berbaik hati. Swan juga telah banyak membaca sederetan kisah-kisah para Hitmaker yang pernah jatuh bangun di awal-awal kariernya sebelum pada akhirnya betul-betul bisa merasakan makna menjadi orang sukses yang sebenarnya.

Dunia rnenolak kehadiran orang-orang yang belum-belum sudah merasa kalah. Petuah si bijak Freud itu selalu diingatnya. Swan menghitung-hitung, dua minggu ia sudah ada di kota ini, ini belum apa¬apa, ini belum seberapa. Putus asa hanya akan menambah barisan orang-orang yang gagal meskipun mereka mempunyai talenta. Kesabaran, keuletan, barangkali itu kata kuncinya.

Swan mendesah. Matanya menerawang jauh ke sudut panorama kota. la merasa pasti, namun juga sangsi...dan sunyi, derita khas perempuan yang berjuang seorang diri.□
..........................................................................................................


dentuman liar....


Dalam keadaan gundah Swan melampiaskannya dengan memilih pergi ke tempat hiburan untuk sekadar mencari-cari bentuk-bentuk pelarian yang bisa untuk menentramkan hati. Dia tak menduga sama sekali, bahwa bermula dari tempat inilah perubahan-perubahan hidup akan dialaminya nanti.

Swan memasuki ruang nightclub dengan banyak tatapan mata menoleh ke arahnya. Swan agak kikuk, barangkali wajahnya yang asing dan masih baru membuat orang menjadi bertanya-tanya. Namun Swan tidak terlalu peduli dengan semua itu. Swan terus saja berjalan perlahan menuju salah satu sudut ruangan, lalu melihat-lihat pemandangan di sekelilingnya untuk yang pertama kali.

Di sebelah kanan tempatnya berdiri Swan melihat sebuah grup band tengah memainkan musik dengan hingar di atas sebuah stage yang agak tinggi. Seorang penyanyi perempuan dengan rambut sebahu melan¬tunkan lagu diiringi dengan gerakan-gerakan tubuh yang menawarkan erotika.

Kerlap-kerlip blitz lampu warna-warni berpendaran menyapu seisi ruangan. Pengunjung yang hadir di situ jumlahnya sekitar seratus orang, bercampur-baur segala usia. Tak ada pembatas, semuanya. berjoget bersama, walau nampaknya semuanya juga sudah tidak jelas lagi, apakah mereka rnemang tengah menari atau sesungguhnya sedang kesurupan.

Mereka sudah tidak mempedulikan baik gaya maupun irama. Swan tak geming, dalam hati ia mencoba menerka-nerka barangkali beginilah cara orang kota zaman sekarang mengalihkan diri dari segala persoalan hidup yang menelikungnya.

Ketika musik berhenti, tepuk tangan riuh bergema. Penyanyi itu meletakkan gagang microphone, lalu menoleh ke arah pemain gitar yang merupakan pemimpin grup band tersebut. Keduanya tersenyum. Lalu setelah saling memberikan satu kecupan kecil, mereka turun bergandengan dari atas stage untuk kemudian bergabung dengan sesama pengunjung.

Penyanyi itu bernama Rose, sedang pemain gitarnya Rain yang sebenarnya juga lead vocal grup band tersebut. Keduanya tak ada hubungan khusus, hanya sebatas profesi sama-sama bergelut sebagai pelaku seni, walau pergaulan antara keduanya, sepertinya sudah tidak terbatas lagi.

Bram, playboy gaek kota metropolitan juga nampak hadir bersama pasangannya. Mereka segera menyalami Rain dan Rose. Di belakang mereka nampak dua gadis belia yang kelihatan sekali sebagai para pengagum Rain.

"Bravo! Sebuah penampilan yang bagus untuk sebuah kota yang akan terus berjaya dalam mem¬berikan hiburan!" teriak Bram.

"Hahaha...! Bravo juga untuk seorang pengunjung flamboyan yang tak pernah bosan-bosannya dalam memberikan dukungan," sahut Rain.
"Apa kabar, Rain? Rose?"
"Sejauh ini baik-baik saja, Om," jawab Rain.
“As well as you look,"sambung Rose.
"Surprise! Surprise! Kalian banyak sekali kemajuan. Nama kalian nampaknya sudah mulai dihafal anak-anak muda."
"Kami terus mengasah kemampuan, Om. Persaingan di dunia musik saat ini sangat selektif sekali Om."
"Ya, begitu pun aku yakin kalian pasti bisa mengatasinya."
"Dukung terus ya Om."
"Itu sudah pasti. Well yeah ...selamat berkarya! Untuk kamu Rain, nampaknya dua perempuan di belakang ini juga sudah tidak sabar untuk mencakar-cakarmu. Hahaha...!"

Bram mengerling sambil menepuk bahu Rain. la menyisih memberikan jalan kepada dua gadis di belakangnya. Rain ikut-ikutan tertawa, Rose yang tadinya masih menggelendot pada Rain melepaskan genggaman tangannya.

"Rain!" pekik lirih kedua gadis tersebut nyaris berbarengan. Rain menyambut dengan memberi salam lalu memeluk dengan hangat kedua fans itu. Rose ikut memberikan salam.
"Kamu tambah keren Rain," ucap gadis satu.
"lye, bikin kita-kita jadi pengin gimana gitu," Gadis dua menyambung.
"Ah, kalian bisa saja," jawab Rain sekenanya.
"Serius, Rain."
"lye nih. Dagu kamu operasi di mana jadi tambah bagus gitu Rain. Ihh...bikin gemes deh!"
"Hahaha...operasi dari Holland? Dari kemaren-kemaren ya begini."
"Ah, masa sih?" ucap gadis dua sambil meraba dagu Rain.
"Bener ya?" kata gadis satunya.
"Wuadhuh, nampaknya kalian bener-bener mabuk ya...?" ucap Rose sambil tersenyum melihat kelakuan kedua gadis tersebut.
"Alah...Mbak Rose, sekali-kali bagi kesenangan dengan kita-kita ini dong. Ya khan, Rain?" Satu di antara kedua gadis itu berkata manja sambil tangannya mencubit Rain.
"Eh Rain, kamu ngapain aja kalo ntar pertunjukan ini selesai?" gadis yang satu lagi ikut-ikutan bertanya.

Namun Rain seakan nampak tidak menggubris omongan kedua gadis tersebut. la mengarahkan tatapan matanya lurus menuju ke arah sebuah bangku di sudut ruangan. Mata Rain tertuju ke arah Swan yang kebetulan juga tengah menatap ke arahnya. "Bagaimana aku bisa melewatkan semua ini?" ucap Rain dalam hati.

Wajah Rain berseri-seri, mulutnya tanpa sadar berteriak lirih, Yess! Sementara Swan masih menundukkan kepala, ia terlihat jengah melihat adegan seronok dua orang gadis tadi.

"Maaf, kalian ngobrol-ngobrol dulu ya!" kata Rain kepada Rose dan kedua penggemarnya tadi.

Tanpa menunggu jawaban, Rain terus melangkah menuju sudut ruangan tempat meja bangku Swan berada. Entah kenapa Swan tiba-tiba merasa kerongkongannya tercekat. Dari bibirnya terdengar sedikit nada desah melenguh.

Lampu dalam ruangan itu sudah cukup temaram, namun Swan tetap tidak bisa menyembunyikan kegugupannya saat Rain mendekatinya. Swan mencoba menyedot minuman dalam gelas untuk menutupi kegugupannya, namun itu justru membuat¬nya nyaris tersedak. la mencoba mengalihkan perhatian dengan membetulkan posisi duduknya, namun tak sempat: Rain sudah berdiri tepat di depannya.

Dari kejauhan kedua fans Rain mengawasinya sambil dongkol.

"Siapa sih dia?" tanya gadis satu.
"Huh! Anak baru sok belagu!" rutuk gadis kedua.

Mendengar gerutuan kedua gadis tadi, Rose kembali tersenyum.
"Aku tinggal dulu ya ngurusi yang lain," kata Rose kepada dua orang fans berat Rain yang lagi dongkol tersebut.

"lya Mbak."
"Oke dah Mbak."

Rose lalu membaur di tengah keramaian suasana malam itu dengan para pengunjung yang lain, meninggalkan kedua gadis yang m.asih nampak bersungut-sungut merutuki nasibnya. Sementara itu Rain sudah berdiri tepat di depan Swan.

"Boleh aku duduk?" tanya Rain kepada Swan yang langsung dijawab Swan yang nampaknya sudah mulai mendapatkan ketenangan sambil tersenyum.

"Silahkan. Kamu kan raja di sini."

Rain tertawa kecil, namun dia tak membalas sindiran Swan. la langsung mengambil tempat duduk tepat di hadapan Swan yang melihatnya tanpa berkata apa-apa. Segumpal asap sigaret melenggang dari mulut Rain. Tangan kiri Rain menopang dagu, sementara jari-jari tangan kanannya yang menjepit rokok menunjuk ke arah Swan.

"Aku tahu siapa dirimu," Rain membuka per¬cakapan.
"Oh ya?! Apa yang kamu tahu tentang diriku?"

Swan menjawab sambil tersenyum. Rain menghela nafas. "Tak salah lagi, inilah gadis yang aku tunggu-tunggu!" gumamnya dalam hati.

Rain mematikan rokok di atas asbak kemudian bergerak perlahan menangkupkan kedua tangannya. Buku-buku jarinya gemeretak. Swan mengusap sedikit keringat yang masih menetes di atas wajahnya dengan sebuah tissue lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja. Telunjuk jari kanannya seperti bermain mengetuk-ngetuk meja.

"Swan ...seorang penulis, pendatang, datang kurang lebih dua tiga minggu yang lalu," ucap Rain.
"Ehm...aku-merasa tersanjung. Lantas apa lagi?"

Senyum Swan mengembang, ada sedikit kilatan terpancar dari matanya. la meladeni ucapan Rain tanpa kehilangan ketenangan.

"Aku juga tahu yang lain tentang dirimu." sambung Rain.
"0 apa itu, nampaknya aku telah begitu banyak kecolongan?" Swan.
"Kamu jenius intelek yang keras kepala. Suka berpetualang, sedang tidak punya pacar, dan sedang... kesepian," lanjut Rain.
"Hahaha...! Kamu benar-benar telah menyinggungku," kata Swan.

Mendengar tawa dan jawaban Swan, Rain tertawa kecil.

"Benarkah? Sedekat itukah?!"

Keduanya lalu tertawa. Swan menatap Rain, sorot matanya tajam, menantang. Tak ada percakapan, keduanya terdiam. Dalam ruangan mengalun musik Love at the flrst sight. Rain dan Swan hanya saling pandang, saling menjajagi perasaan.

Kebuntuan kemudian dipecahkan oleh suara Bram yang tiba-tiba saja sudah ada di samping meja mereka.
"Wah, rupanya bidadari ini to yang menculikmu. Kenapa kamu tidak mengenalkannya padaku, Rain?" ucap Bram.

Rain hanya tersenyum. Tanpa menunggu untuk diperkenalkan, Bram sudah mengulurkan tangannya ke arah Swan yang nampak kaget dengan kelakuan Bram yang nampak begitu proaktif, namun dengan terpaksa Swan mengulurkan tangannya pula.

"Namaku Bram. Nona-nona manis sepertimu yang sering berada di sini suka memanggilku dengan sebutan Papa Bram," jelas Bram.
"Swan."
Swan setengah meronta.merenggut tangannya yang tidak segera dilepaskan oleh Bram. Raut wajah Rain agak memerah, namun Bram justru tertawa.

"Oke silahkan nikmati malam-malam indah kalian Rain, Swan. Jangan sungkan-sungkan, kalau-kalau butuh bantuan panggil saja Papa Bram. Hahaha...!"

Ucap Bram sambil ngeloyor pergi. Matanya mengerling nakal ke arah Swan. Menyaksikan kejadian itu Rain nampak mendengus, sementara Swan membuang muka. Geliat asap es yang kian menebal dalam ruangan itu terasa kian menusuk kulit.

"Kamu datang sama siapa?" tanya Rain mencairkan kebekuan.
"Sendiri," jawab Swan.
"Kita pulang sama-sama ya."
"Hahaha...!" Swan tertawa.
"Serius," pinta Rain lagi.
"Kita lihat nanti saja," jawab Swan.

Tidak berapa lama band bermain lagi. Swan masih terpaku di bangku yang tadi. Lampu-lampu diskotik yang sebelumnya menyala terang mulai diredupkan. Para pengunjung bersorak, musik bergerak bertambah keras, bertambah keras clan kian bertambah keras.

Para pengunjung mulai liar. Mereka memang masih terlihat berdansa dengan masing-masing pasangannya sendiri, namun nampaknya sudah tidak untuk menikmati musik lagi.

Musik berjalan. Orang-orang berpelukan.
Musik berjalan. Lima detik lampu dimatikan.
Musik berjalan. Orang-orang berciuman.
Musik berjalan. Orang-orang kembali menari.
Musik berjalan. Sepuluh detik lampu dimatikan.
Musik berjalan. Orang-orang seperti kerasukan.
Musik berjalan. Lampu-lampu dimainkan.
Musik berjalan. Orang-orang kian tak jelas apa yang dilakukan.

Tengah malam di Eldorado. Seperti juga malam-malam sebelumnya, detak waktu sudah tidak begitu penting bagi para pengunjung. Mereka semua larut dalam satu situasi yang sama...panas...liar ...magis dan menghipnotis. Mereka bergerak tak-tentu arah dan meledak-ledak seperti badai. Kegersangan hati dan jiwa mereka seperti sudah berada di ujung tebing dunia yang sangat curam.

Perempuan-perempuan itu melenguh. Mereka merintih-rintih dalam elusan tangan para lelaki yang menggerayangi seluruh tubuh mereka kala lampu-lampu mulai dipadamkan. Mulut mereka berteriak, mendesiskan satu bisikan yang tak jelas maksudnya. Jiwa mereka lapar dan nafsu mereka menolak untuk dikasihani.

Swan melihat semuanya. la merasa begitu kecil dan terasing. la adalah seorang perempuan yang berwatak keras, namun tak urung ia tersedot pula dalam situasi yang nampak magis, liar namun mengundang pesona itu.

Swan merasa tertohok oleh situasi dan keadaan yang dilihatnya. Karena sebenarnya ia pun merasa tak jauh beda dengan para pengunjung yang ada, menderita dalam kelaparan dan kedahagaan karena jatuh cinta dalam sebuah jalan cinta yang sunyi.

Dan kini, di antara redup temaram lampu nightclub yang berpendar tak beraturan, sebuah pemandangan ganjil telah membuatnya merasa gemetar, lembut dan berkeringat. Swan memejamkan matanya, ia mencoba mengatur nafas dan menenangkan degup jantungnya yang terasa berdentum-dentum tidak karuan.□

bersambung...........

___________________________________________________________________
DAUN GUGUR DI MANGGARAI, GUSBLERO © 2000
Naskah ini pernah diterbitkan Focus Grahamedia (2006)
Jl. Sepakat II No. 73 Cilangkap – Cipayung, Jakarta Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar