just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Jumat, 07 Oktober 2011

THE SAVIOR

Allah berfirman dalam al-Qur’an [9:109]1 bahwa jika seseorang membangun rumahnya pada karang yang terjal tanpa pondasi yang kuat, maka rumahnya pasti akan runtuh. Jika seseorang membangun pondasi rumahnya dengan bahan yang baik, atau pada tanah yang padat, lapisan demi lapisan ditata dengan baik, dia akan mempunyai rumah yang kokoh. Segalanya membutuhkan orang yang ahli. Jika saya bilang kepada saudara saya, “Bisakah kamu membuatkan rumah untuk kami?” Dia akan menjawab, “Tidak, Saya bukan tukang kayu.” Jadi kita harus memanggil orang lain dan berkata, “Tolong buatkan rumah untuk kami karena Anda ahlinya.” Orang itu akan menjawab, “Baiklah! Begini rencananya, di sini kita meletakkan dinding, lalu di sini pondasi, di sini semen dan seterusnya.”
Pieta by Michelangelo
Jika kalian memerlukan seorang ahli untuk membangun rumah yang biasa, bagaimana dengan hati kalian? Bagaimana kalian membuat suatu pendekatan kepada Tuhanmu tanpa dibimbing seorang ahli? Kalian harus mencari ahlinya. Kalian tidak dapat mencapai-Nya tanpa bantuan seorang pemandu, tidak peduli betapa keras kalian mencoba mengikuti jalan-Nya sendirian. Tak seorang pun yang dapat mencapainya sendirian karena kadang-kadang walaupun seseorang tahu bahwa dia berada di jalur yang benar, bisa saja dia melakukan sesuatu yang bukan pada tempat dan waktunya. Seterusnya dia akan gagal. Jadi kita memang memerlukan bantuan seorang ahli dan dia akan menjadi pemandu kita.

Untuk mencapai Tuhan, kalian tidak akan menemukan jalan dalam mengarungi gurun kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang pemandu karena angin yang berasal dari keinginan ego dan hasrat ingin menonjolkan diri dapat mengubah segalanya. 


Ego memiliki keinginan. Angin dari ego adalah keinginan yang kosong dan nafsu untuk menonjolkan diri. Bila keinginan tersebut muncul, dia akan menutupi jalur yang benar sehingga kalian akan tersesat. Kalian akan berhenti dan tidak tahu cara melanjutkannya. Itulah sebabnya kalian membutuhkan bantuan dari seorang pemandu yang benar-benar ahli dalam mengarungi gurun kehidupan tersebut. Dia adalah ahli dalam mengarungi jalur-jalur ego. Bila kalian tidak dapat menemukannya berarti buang-buang waktu saja dalam mencoba mendekati Tuhan di kehidupan ini.

Tuhan Maha Penyayang, bahkan jika kalian berusaha untuk mencapai-Nya tanpa bantuan seorang pemandu, kalian juga akan menemukan-Nya di akhir hayat, tetapi pasti kalian tidak bisa mencapai-Nya dengan cepat. Sekarang kalian telah kehilangan waktu tanpa kemajuan yang berarti, tetapi segera setelah kalian menemukan seorang pemandu dan kalian menerima panduan yang diberikannya, melewati kemauan ego dan keinginan untuk menonjolkan diri, maka kalian akan sampai di sisi sebrang. Sebaliknya jika kalian tidak menerimanya, kalian akan tersesat di gurun yang sangat luas.
Lukisan tentang Rumi
 
Ketika Rasulullah saw diperintahkan untuk berhijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau bersabda, “Saya memerlukan seorang pemandu.” Beliau adalah seorang rasul, mengapa beliau memerlukan seorang pemandu? Untuk mengajari kita bahwa walaupun beliau adalah seorang rasul, beliau tetap membutuhkan seorang pemandu, pemandu eksternal yang dapat menunjukkan jalan menuju Madinah.

Misalnya, kita ingin menunjukkan jalan ke air terjun Niagara kepada anak kita, tetapi kita tidak tahu jalan menuju ke sana, maka kita akan mencari seorang yang ahli, yang tidak akan menyesatkan kita. Beliau adalah rasul tetapi beliau tetap mencari seorang pemandu, apakah beliau tidak tahu? 


Nabi ‘Isa as bersabda, “Salah satu di antara kalian akan menghianatiku.” Ini adalah benar, dan sebagai Muslim kita wajib mempercayainya.  Beliau mengatakan ‘salah satu di antara kalian,’ apakah beliau tidak tahu? Beliau tahu tetapi tidak mengatakannya. Rasulullah saw pun tahu, tetapi mereka (Nabi ‘Isa dan Rasulullah saw) ingin menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati sepenuhnya. Beliau mengajari kita untuk mencari seorang pemandu. Mereka membutuhkan seorang pemandu untuk menunjukkan jalan dari Makkah ke Madinah dan dengan bantuannya mereka bisa sampai di Madinah dengan aman.

Jika kita membutuhkan seorang pemandu untuk mengarungi gurun pasir, bagaimana dengan kehidupan spiritual kita? Ini lebih sulit. Kalian jelas membutuhkan seorang pemandu untuk masalah ini. Rasulullah saw mempunyai pemandu, yaitu malaikat Jibril as yang memberinya inspirasi dan menyampaikan wahyu. Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw dibimbing menuju Kehadirat Ilahi. Jadi secara eksternal beliau membutuhkan seorang pemandu yaitu ketika hijrah dari Makkah ke Madinah dan secara internal beliau juga membutuhkan seorang pemandu, ketika hijrah menuju Tuhannya di malam Isra’ Mi’raj. Tanpa ada jalan mustahil melakukan hijrah, kalian tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa ada jalan.
St. Francis by Caravaggio

Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus mencari seorang pemandu untuk menunjukkan jalan kebenaran Dan jalan menuju realitas. Tanpa panduannya kalian akan berada dalam keraguan, apakah yang kalian lakukan benar atau salah.Kalian tidak akan mengetahuinya. Dengan adanya pemandu, kalian akan bergantung kepadanya karena dia adalah seorang yang ahli. Seperti yang telah dikatakanbahwa Rasulullah saw mengambil seorang pemandu untuk menunjukkan jalan ke Madinah. Beliau tidak berkata kepadanya, “Tidak! Mengapa kamu membawaku kejalan yang ini, bukan yang itu?” Beliau menggantungkan dirinya kepada pemandunya karena keahliannya.

Pemandu yang menunjukkan jalan harus dapat dipercaya. Kalian tidak bisa mengambil sembarang pemandu dan mengaku bahwa dia adalah pemandu kalian. Jika kalian mengambil pemandu yang keliru, bisa saja dia membawa kalian ke dalam samudra Setan. Kalian akan tersesat dalam samudra halusinasi. Banyak orangyang mengikuti pemandu semacam ini, suatu saat para pengikutnya akan mengalami halusinasi. Apa yang mereka lihat sebenarnya tidak ada. Oleh sebab itu pemandu yang sejati sangatlah penting.

Bagaimana kalian bisa mengenalinya? Guru mengajarkan bahwa jika kalian ingin mengetahui apakah seseorang itu adalah seorang pemandu yangsejati, pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat pakaian luarnya. Apakah dia telah memakai pakaian luar dengan lengkap? Jika belum, berarti ada  kerusakan dalam hatinya, oleh sebab itu jangan ikuti dia. Segala sesuatu pada seorang guru Sufi, (kita berbicara tentang Sufisme, bukan hal yang lain) yang tidak sesuai dengan pakaian dan perilaku seorang guru yang sejati, menunjukkan suatu ketidaksempurnaan atau kesalahan.

Guru juga berkata, “ Jika kalian mempunyai sebuah jam dan jam itu secara internal bekerja 100% tetapi tidak mempunyai jarum, jam itu tidak bisa menunjukkan waktu kepada kalian sehinggatidak ada manfaat yang dapat diambil darinya. Sama halnya dengan jam yang mempunyai jarum, tetapi mekanik internalnya tidak bekerja 100%, dia juga tidak dapat menunjukkan waktu yang tepat bagi kalian.” Jadi bagi seorang pemandu bagian eksternal dan internal harus sempurna.
The Inspiration by Caravaggio

Kita tidak berbicara tentang diri kita.  Kita mengikuti guru kita.  Beliaulah pemandu kita. Beliau bekerja 100% baik secara eksternal maupun internal.  Kita hanya mencoba mengikutinya.  Itulah sebabnya bila kita melihat kepada seseorang dan berpikir apakah dia adalah seorang pemandu sejati, kalian harus melihat bahwa dia telah melengkapi bagian eksternalnya tanpa ada kekurangan.  Jika ada sesuatu yang hilang, kalian jangan mengikutinya.  Bila dia kehilangan salah satu bagian eksternalnya berarti dia telah kehilangan banyak bagian internalnya, yang tidak dapat diketahui orang.

Kalian berpakaian dengan rapi karena tahu bahwa orang melihat kalian.  Tetapi bila menyangkut hal-hal yang tidak dapat dilihat, kalian berkata, “Biarkan saja, toh tidak ada yang melihat.”  Jika kalian kehilangan salah satu item dari pakaian eksternal yang jelas akan dilihat orang, berarti kalian ‘tidak fit’. 

Apalagi kalau menyangkut hal-hal yang tidak terlihat, tentu akan lebih banyak yang hilang. Orang seperti itu tidak bisa menjadi pemandu sejati.   Dia adalah pemandu yang tidak terhubung.  Bisa saja dia membawa kalian ke jarak tertentu dalam kehidupan spiritual, tetapi dia tidak terhubung dengan tingkat yang lebih tinggi lagi.  Pemandu sejati harus mempunyai eksterior yang lengkap, tidak kurang sedikit pun. 

Begitulah Guru menyampaikan itu sebagai langkah pertama untuk menentukan seorang pemandu sejati.  Bila kalian melihatnya dan mengatakan, “Dia sudah lolos,” bukan ujian pertama, tetapi lolos dari “kriteria pertama.”  Berikutnya kita tinjau dari sisi dalam.  Bagaimana kalian bisa melihat sisi dalamnya? Guru melanjutkan, “Kalian harus lihat bahwa orang itu mempunyai rasa hormat kepada setiap orang tanpa diskriminasi sekecil apa pun, tanpa memandang agama karena setiap manusia adalah hamba Tuhan yang sama. 

Sang pemandu harus menghormatinya, pertama karena seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan dan mempunyai Cahaya Ilahi dalam hatinya.  Selain itu dia juga harus mempunyai rasa cinta terhadap mereka.  Menerima apa yang dia inginkan baginya dan bagi anak-anaknya, untuk menjadi dan bertindak atas nama mereka, walaupun mereka hanya orang biasay yang belum menjadi pengikutnya.  Jadi dia harus bisa menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada mereka.  Ketiga, dia harus menunjukkan kerendahan hati  kepada mereka.  Dia tidak bisa berkata bahwa dia lebih tinggi dari mereka. Tidak ada seorang pun yang tinggi kecuali Tuhan.  Jika dia menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka berarti dia seperti Setan yang menganggap dirinya lebih tinggi dari Adam as. 

Ketiga kriteria ini adalah “aksesoris dalam” yang dimiliki pemandu sejati. Dalam hal pakaian dia harus memiliki pakaian lengkap seorang guru Sufi.  Jika guru kalian seperti itu, barulah dia seorang pemandu sejati, ikutilah dia. Bersamanya kalian akan menemukan kepuasan hati dan menemukan hal-hal yang telah hilang.  Jika kalian tidak menemukan orang seperti itu, lanjutkan pencarian kalian.  Kalian akan menemukannya karena Allah Maha Penyayang.  Bila kalian melihatnya, Allah akan memberi.  Bila kalian tidak meminta, Allah tidak akan memberi.  Jika kalian sungguh-sungguh, memohonlah dengan hati kalian.  Kalian akan menemukannya dan dia akan memberi kunci hati kalian.  Jika kalian tidak  melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak melakukannya sepenuh hati, hanya di lidah saja mungkin kalian akan menemukannya atau mungkin juga tidak. 

Ahmad al-Badawi adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi.  Beliau menyatakan “Aku tidak membutuhkan seorang pemandu.  Pemanduku adalah al-Qur’an,” sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, “…dan cara hidup Rasulullah saw.”  Beliau mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah saw bersabda atas nama Tuhannya, “Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya.  Dan bila Aku Mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan.  Jika dia meminta, Aku akan memberi.  Jika dia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya.  Aku akan  menjadi dia, dan dia dapat mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah!” maka jadilah ia.” 

Ahmad al-Badawi berusaha mendekati Tuhannya sampai mencapai pintu Kehadirat Ilahi, lalu dia berkata, “Ya Tuhanku! Bukakanlah pintu ini untukku.”  Tetapi dia tidak mendapat jawaban.  Dia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya dia bertemu ‘secara tidak sengaja’ dengan seseorang.  Saya bilang ‘tidak sengaja’ tetapi sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi, karena itu adalah Kehendak Allah untuk mengujinya.  Dia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa saja.  Orang itu lalu memanggilnya, “Hei Ahmad!” bahkan dia tidak menyebutnya “Syaikh Ahmad!”  sebagai tanda penghormatan.  Dia berkata, “Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai kehadirat Ilahi?  Aku punya kuncinya dan jika Kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.” 

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau kenyataan karena merasa bangga, walaupun dia tahu sebenarnya itu adalah jalan yang benar.  Mereka tidak menerima sebab ego mereka mengatakan, “tidak!”.  Ego Ahmad berkata kepadanya,“ Bagaimana mungkin Engkau menerima sesuatu darinya?  Jangan menerima kunci darinya.  Terimalah dari Tuhan.”  Lalu dia berkata, “Wahai Saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang Pembuat Kunci.  Siapa Engkau.  Engkau bukan siapa-siapa.” 

Selanjutnya Ahmad berusaha untuk mencapai Kehadirat Ilahi sampai dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Wahai Ahmad, kehidupan ini adalah kehidupan yang berisi sebab dan akibat.  Aku tidak akan memberimu kunci.  Sesuai Kehendakku kunci untukmu berada pada orang itu.  Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya.” 
The Sacrifice by Caravaggi
 
Sekarang persoalannya sudah selesai.  Dia mendengarnya langsung dari Tuhannya, dan dia menerimanya.  Sekarang dia harus mencari pemandunya.  Tetapi sang pemandu telah lenyap.  Dia telah meninggalkannya.  Selama enam bulan pemandu itu mengamati hati Ahmad secara rahasia, melihat bahwa dia mencarinya dan berdo’a kepada Tuhan siang dan malam, “Ya Tuhanku kirimkanlah orang itu kembali kepadaku,” sampai akhirnya dia bisa menemukannya kembali.  Dengan segera orang itu membuka tabir yang ada pada dirinya selama ini. 
 
Jadi sang pemandu membuka tabir dan menampakkan dirinya di hadapan Ahmad. Ahmad berkata, “Wahai Syaikhku!  Aku menemukanmu.”  Dia tidak menemukannya tetapi sang pemandulah yang menghilangkan tabirnya.  Tetapi tetap saja dia berpikir bahwa dia telah menemukannya.  Dia berkata, “Wahai Syaikhku, Aku menerimamu sebagai pemanduku.”  Sang pemandu menjawab, “Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang, engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku.  Engkau tidak diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku.  Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah karang yang hanya dengan satu tiupan angin dari ego, dia akan jatuh. 
 
Aku harus membangun pondasi yang kuat bagimu.  Jadi, lihatlah ke dalam mataku.” Ahmad melihat ke matanya dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi dari buku.  “Lewat buku” maksudnya ada banyak hal yang berasal dari ego si penulis.  Maka dia menghilangkan pengetahuan itu dari hati Ahmad dan kemudian lenyap.  Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan, “bismillahir rahmaanir rahiim,” bahkan tanpa mengetahui bagaimana mengucapkan Nama Allah. 
 
Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi, yang kelihatannya seperti orang gila setelah sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka.  Karena keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka berpikir bahwa dia benar-benar sakit.  Yang mereka ketahui hanyalah bahwa dia mengikuti seseorang yang membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi tahu bahwa dia telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa, “Kuncimu ada pada orang itu.”  Tidak ada yang membuatnya gila.  Dia mengikuti orang itu.  Tetapi bila dia menerimanya sejak awal, ketika pemandu itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah, dia tidak harus melewati ujian ini.  Jadi mengapa kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang sama?  Bila kalian menemukan kebenaran. seorang pemandu yang benar, terimalah dia dengan segera! Jangan bermain-main dengan ego kalian. 
 
Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul kembali di waktu yang lain. Dalam kurun waktu tersebut Ahmad al-Badawi terus mencarinya dan ketika dia bertemu kembali, Ahmad al-Badawi berkata, “Wahai Syaikhku, Aku menemukanmu lagi.”  Saat itu sang pemandu memandang mata Ahmad al-Badawi dan memancarkan sesuatu dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi melalui matanya.  Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan internal, pengetahuan dari Kitab Allah dan rahasia-rahasianya.  Pemandu itu melakukannya 3 kali sampai mata Ahmad al-Badawi memancarkan sinar yang begitu kuat bahkan orang yang melihatnya bisa tewas.  Oleh sebab itu dia menutup wajahnya dengan cadar.  Saat itu dia bisa memasuki Kehadirat Ilahi dan dia menerima kuncinya. 
 
Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Kehadirat-Nya. Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi.  Ahmad al-Badawi adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal.  Dia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Dia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Maha Tinggi.   Dia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan.  Bagaimana mungkin dia akan mengambil pelajaran dari orang lain?  Berarti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya.  Dia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah.  Dia mempunyai rasa hormat, dia juga mencintai sesamanya, tetapi dia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain.  Dan karena dia telah kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah dia tidak mengalami kemajuan lagi. 
 
Seorang Wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati.  Jika kalian melihat salah satunya tidak ada, maka dia bukanlah seorang pemandu sejati.  Dia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi yang bisa mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa membukanya.  Dia membutuhkan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika ditemukan dia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya.  Dia terlalu banyak memikirkan dirinya. Akhirnya dia menerima juga setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi dia harus melewati ujian tertentu. Jika pada mulanya dia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun. 
 
Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan egomu.  Katakan kepada ego, “Kau salah!  Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru? “  Kalian tidak akan kehilangan apa pun.  Bila kalian menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah untuk menaikkan kalian.  Jika Saya datang dan mengatakan, “Si Anu dan si Anu” adalahSyaikh Saya, dan Saya telah berbai’at dengannya.  Apa salahnya?  Saya menerimanya dan Saya menunjukkan kerendahan hati, Allah akan menaikkan Saya. 
 
Mempunyai sifat rendah hati adalah sangat penting.  Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagimu.  Ada sebuah peribahasa di Turki yang berupa pertanyaan kepada seseorang yang baik, “Dari mana Engkau belajar perilaku yang sempurna dalam masyarakat?” jawabnya, “Dari orang-orang yang bersalah.  Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya.  Jadi Aku bisa memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain.”  Jika kalian bisa menerima semua orang sebagai pemandu kalian, bahkan seorang yang jahat pun dapat memandumu.  Dengan mengamati dan melihat kesalahan yang dilakukannya, kalian berhenti! (Syeikh Maulana Nazim Al-Haqqani)
______________________________________________________________________________

Syeikh Maulana Muhammad Nazim “Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bashal-Haqqani al-Qubrusi al-Salihi al-Hanafi (semoga Allah swt. mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya) dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari suatu keluarga Arab dengan akar-akar budaya Tatar. Ayahnya adalah keturunan dari Syaikh “Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Ruumi. Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad saw., dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, as, dari sisi ibundanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar