just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Senin, 24 Oktober 2011

COKEK l Gusblero




ROMANCE D'AMOUR

“Apakah kita sudah terlambat?” Tanya Om Surya.
“Nampaknya belum, Om. Kalau pun iya, apa sih sukarnya bagi Om membuat semacam pesta kecil-kecilan lagi?” Ujar Cokek seraya memicingkan sebelah matanya.

Keduanya kembali tertawa. Seorang waitress yang berpakaian rok mini bergegas menyambut Om Surya dan Cokek, lalu mempersilakan keduanya segera bergabung dengan tamu undangan lain yang telah hadir dalam ruangan itu.

“Ramai juga ya….” Komentar Om Surya begitu melihat begitu banyaknya tamu undangan yang hadir.
“Jakarta, Om. Apalagi malam tahun baru.” Cokek menimpalinya. Ia melambaikan sebelah tangannya untuk memanggil salah seorang pelayan yang nampak membawa nampan berisi minuman.

Cahaya lampu dalam ruangan itu bersinar warna-warni. Pohon-pohon buatan dengan aneka warna bunga yang masih nampak segar disusun berjajar rapi di sepanjang dinding dengan kerlap-kerlip lampu Natal menghiasi tangkainya.

Di atas kaso-kaso yang tinggi bergantungan balon-balon beraneka warna terikat dalam satu rangkaian kombinasi pita yang memikat. Beberapa lampion yang berwarna merah menyala juga tidak ketinggalan terpancang di beberapa sudut ruangan. Dekorasi dalam pesta menyambut tahun baru itu mirip hiasan pesta warga Tionghoa. Namun siapa pula yang akan peduli soal dekorasi?

Orang-orang yang hadir di malam itu semuanya hanya perlu relaks dari sekadar belenggu rutinitas yang telah menciptakan satu siklus kehidupan yang monoton dari hari ke hari, dari setumpuk pekerjaan yang satu ke pekerjaan-pekerjaan berikutnya, dari client job yang satu menuju client target berikutnya.

Delapan buah speaker berukuran besar-besar menumpuk di salah satu sisi ruangan, dibagi dua di letakkan di sebelah kiri dan kanan stage yang tingginya kira-kira hanya dua puluh lima centimeter dari lantai. Lalu di depan seperangkat sound system yang tertata rapi di atas panggung seorang Disc Jockey menggoyang-goyangkan tubuhnya seraya mengeja beberapa kalimat dari bait-bait lagu yang terdengar patah-patah. Dengan matanya yang terpejam seakan mengeja lagu demi lagu dengan penuh penghayatan, kedua tangannya yang kurus terus menari-nari dan bergerak dengan lincahnya memenceti piringan hitam yang terus berputar satu-persatu.

Mata Cokek menyapu seisi ruangan. Dan ketika ia kembali menoleh, dilihatnya Om Surya tengah melihat ke arahnya sambil tersenyum.

“Ayo, tunggu apalagi?” Tanya Om Surya kepada Cokek.

Cokek sebetulnya ingin menyampaikan sesuatu. Namun sejauh ini ia merasa cukup puas hanya dengan menonton beberapa pasangan dansa yang tengah asyik menari sambil menyampaikan beberapa salam pendek dengan ucapan yang cukup keras kepada orang-orang yang dikenalnya.

“Kamu tidak perlu sungkan-sungkan. Ini acara bebas kok. Oh iya, ayo aku kenalin kamu ke beberapa kolega.” Tiba-tiba Om Surya berkata, lalu tanpa menunggu jawaban ia telah merangkul bahu Cokek menuju ke sisi ruangan lainnya.

Keduanya kemudian berjalan melewati beberapa pasangan yang tengah menari dua-dua. Sementara dalam jarak yang hanya sekitar sepuluh meter jauhnya nampak dua orang laki-laki serta seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan tengah asyik berbincang-bincang  sendiri.

“William…..!” Terdengar Om Surya memanggil.
“Surya….! Ni hau ma, apa kabar?” orang yang dipanggil William oleh Om Surya itu segera mendekat seraya melebarkan kedua lengannya untuk merangkul pundak Om Surya.
Heng hau, sangat baik. Kamu masih sempat juga kongkow-kongkow, Bill.” Ucap Om Surya lagi.
“Kapan lagi mesin tua begini bisa brain washing kalau bukan pada saat-saat seperti sekarang ini. Hahaha….!” Jawab William.
“Oh iya, kenalkan ini Dino teman baru kita.” Lanjut William seraya memperkenalkan laki-laki yang berdiri di sebelahnya.
Tui pu chi, maaf, saya juga sampai lupa. Pemuda ini namanya Cokek, sekutu baru. Saya sedang bertaruh apa ia bisa memegang Surya Agency suatu hari nanti.” Balas Om Surya. Dengan sedikit menekan punggung Cokek ia seakan memberikan kode kepada Cokek untuk berdiri sedikit maju. Mereka kemudian saling tertawa.
Ahai, bagi kaum perempuan sudah tidak ada lagi tempat di sini nampaknya?!” Perempuan yang sedari tadi berdiri di belakang William tiba-tiba ikut-ikutan bersuara. Dengan menggeser tiga langkah ke depan ia pun segera bergabung dalam kerumunan rombongan Om Surya.
Ai ai, hahaha..! Perkenalkan, ini Nona Febrina, Cokek. Bagaimana kita semua bisa silap dengan perempuan muda yang terus berjaya walau di jaman resesi seperti sekarang ini. Hahaha…! Tui pu chi tui pu chi, maaf…maaf.” Kembali Om Surya menoleh ke arah Cokek untuk memperkenalkan perempuan yang berdiri di hadapan mereka.

Cokek tidak menjawab. Ia tengah menatap kedua bola mata Febrina yang dihiasi warna biru kelabu di sekitar irisnya. Kebetulan Febrina juga tengah menatapnya.

          “Cokek.” Cokek mengulurkan tangannya. Berhubungan dengan yang namanya perempuan sebetulnya sudah bukan barang yang asing lagi baginya. Namun entah kenapa berhadapan dengan sosok seorang perempuan yang tampil begitu elegan di hadapannya seperti Febrina tak urung membuat hatinya sedikit bergetar juga. Dengan menyunggingkan senyum Cokek berusaha untuk tetap menguasai keadaan.

“Febrina.” Perempuan itu menjawab. Suaranya yang sedikit mendesah terdengar begitu sensual di telinga Cokek hingga membuatnya sedikit menahan nafas. Selepas itu diam. Cokek mencoba mengalihkan getaran the first shock of shaking hand dengan memandang sekilas ke arah gaun penuh renda-renda yang membalut tubuh putih Febrina. Mawar merah di atas…..

“Ini pesta yang sungguh-sungguh meriah!” Ucap William tiba-tiba.
“Betul, tunggu apalagi? Kamu sudah menyiapkan pasangan untuk kita dansa khan, Bill?”  Tanya Om Surya kepada William.
“Masa saya disuruh yang begituan. Tapi buat kamu pasti ada, Surya.” Jawab William sambil mengerdipkan sebelah matanya.
“Febrina?!”
“Kamu mau minta perusahaan kamu dilikuidasi ya? Hahaha….!” William tertawa terbahak-bahak.
”Kalau begitu biar Cokek saja yang nemenin.” Cokek ingin angkat bicara, namun sebelum ia sempat mengeluarkan kata-kata Om Surya telah berbisik ke telinganya.
Ssstt……kalau bisa kamu tempel terus Febrina. Walau perempuan dia itu pemegang otorita pendayagunaan BUMN di negeri ini.”

Ups! Wajah Cokek tiba-tiba sedikit menegang. Mendadak ia merasa tak ubahnya anak kecil yang masih saja harus dijelaskan segala sesuatunya sebelum mengambil langkah. Beruntung suasana pesta pada malam itu sangatlah meriah, hingga ia bisa menyembunyikan kejengahan yang terpancar di wajahnya.

“Iya lah Om, kita lihat saja nanti.” Jawabnya pendek.

Om Surya dan William sama-sama tertawa. Keduanya kemudian berjalan menuju ruang yang ada di sebelahnya bersama Dino. Sementara pesta terus berlanjut. Musik dalam ruangan kian menyalak-nyalak dan membahana.





“Pestanya sangat ramai.” Cokek membuka percakapan setelah ia dan Febrina tinggal berhadap-hadapan berdua.
“Iya.” Jawab Febrina.
“Anda tampak sangat cantik eh….maksud saya sangat serasi dengan pakaian yang anda kenakan.” Cokek merasa sedikit kelepasan omong, dan nyaris ia menyalahkan kelakuan mulutnya sendiri.
“Tidak usah pake formil-formilan lah, nggak perlu pake anda atau saya segala. Bilang saja aku, atau kamu.” Ucap Febrina, nampaknya serius. Ia tersenyum ke arah Cokek yang tampak merasa bersalah telah memberikan sedikit komentar yang kebablasan dalam pertemuan mereka yang masih sangat dini.
“Ini……”  Tatapan mata Cokek menyelidik.
“Kita jadi berteman tidak?” Febrina justru balik bertanya.
“Baiklah, kalau itu mau kamu.” Akhirnya Cokek sedikit bernafas lega. Sebuah beban yang sangat berat sepertinya telah lenyap begitu saja.

“Kamu datang ke sini sendirian atau…?” Cokek mencoba sedikit lebih berani.
“Sama teman sih, tapi tujuannya ya sendiri-sendiri.” Jawab Febrina.
“Tidak sama someone?”
“Tidak.”
“Punya pacar?”
“Tidak.”
“Pernah punya pacar?”
“Pernah.”
“Lantas?”
“Ia mengalami kecelakaan di laut.”
“Maaf.” Kali ini Cokek betul-betul merasa bersalah. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya di wajah.
“Tidak apa-apa. Itu sudah cukup lama.” Kata-kata yang keluar dari bibir Febrina terasa sedikit bergetar. Selebihnya sunyi. Masing-masing mencoba menerka isi hati, masing-masing mencoba untuk menjaga diri.

“Jadi…sampai sekarang masih sendiri?” Cokek kembali membuka percakapan.
“Iya.”
“Belum punya pacar?”
“Belum.” Jawab Febrina lirih. Suaranya lebih menyerupai bisikan. Ia menatap ke arah Cokek dan memperhatikan pemuda berambut ikal yang terlihat tampan dengan jas warna abu-abu dan celana panjang casualnya itu. Selebihnya kembali sunyi. Masing-masing mencoba menjajagi perasaan hati, masing-masing mencoba bertahan untuk tidak mendahului.

Pesta terus berlanjut. Kian mendekati saat pergantian tahun jumlah para pengunjung kian membludak. Dalam sekejap pengunjung yang berdatangan kian bertambah dan berlipat ganda meliputi berbagai macam usia. Gelas-gelas minuman pun tergeletak di mana-mana karena para pelayannya pun ternyata ikut larut dan mabuk terhanyutkan pesta. 

Semua orang bersuka ria dan suasana pesta menjadi cenderung berubah mengerikan. Seorang perempuan muda dengan rambut disemir warna magenta mencoba berdiri di atas meja dan mencoba menari-nari di sana. Namun tubuhnya yang agak subur terlihat oleng, entah karena mabuk atau karena saking gembiranya. Ia segera terjatuh dalam pelukan seorang laki-laki yang barangkali kekasih atau teman kencannya.

“Lalu…?” Cokek memandang ke arah Febrina.
“Ada apa?” Jawab Febrina tidak mengerti.
“Sampai kapan kita akan menunggu?” Tanya Cokek.
“Menunggu?!” Balas Febrina tetap belum paham.
“Iya, sampai kapan kita akan menunggu?”
“Aku tidak mengerti maksud kamu?”
“Aku ingin mengajakmu berdansa.” Cokek menatap tajam ke arah Febrina yang tiba-tiba saja pipinya jadi berubah kemerahan.
“Apakah kamu…?” Cokek berhenti bertanya. Ia menunggu reaksi dari Febrina. Udara dalam ruangan itu kian terasa hangat, namun Febrina belum juga menjawab.
“Atau kamu….ahh maafkan aku.” Cokek menunduk. Ia meniupkan udara melalui mulutnya ke arah samping.
“Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma tidak pandai berdansa.” Akhirnya Febrina bersuara.
“Hahaha….!”
“Kenapa tertawa?”
“Aku juga tidak pandai berdansa.”
“Lalu?!”
So what, mana ada urus, mari kita belajar berdansa bersama.” Ujar Cokek sambil tertawa. Ia segera merengkuh sebelah tangan Febrina yang membiarkan saja dirinya dibimbing Cokek memasuki arena yang penuh sesak dengan para pedansa.

Dengan riangnya Cokek segera menarik kedua tangan Febrina untuk ikut menari-nari mengikuti irama. Sepertinya itu adalah tarian dari sepasang pedansa amatir yang terlihat paling gila-gilaan dan merupakan hal terlucu sepanjang hidup mereka, baik bagi Cokek maupun Febrina. Namun tak ada yang peduli. Semua orang larut dalam kegembiraannya masing-masing. Orang-orang mengangkat toast, orang-orang yang lapar dan haus akan hiburan yang bebas dan seadanya.




Cokek menggenggam tangan kiri Febrina dengan tangan kanannya, sementara tangan yang satunya lagi menempel lekat di punggung Febrina, begitu pun sebaliknya. Romance d’Amours, Cokek merasakan udara yang terhirup di antara bulir-bulir halus rambut Febrina menyeruak hidung begitu harumnya. Ia merasakan satu eksotika yang tandas mengalir dari jari jemari Febrina yang tajam menancap di punggungnya.

“I’m goin’ down!” Cokek melenguh. Ia merutuki hasratnya sendiri yang gampang tersulut ledakan-ledakan gairah yang memancar dari kehangatan tubuh Febrina hanya dalam sekejapan mata.


***
bersambung........
___________________________________________________________
COKEK©Gusblero, 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar