just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Minggu, 09 Oktober 2011

DAUN GUGUR DI MANGGARAI

DAUN GUGUR DI MANGGARAI (Enam) l Gusblero

serpih....

 

"OTB baru kok ngelamun sih?" Sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunan Swan. Saat itu Swan tengah melihat televisi, pintu depan tak terkunci.
"Eh ...kamu Rose," Swan sedikit gelagapan.
"Lagi ngelamunin apa?" Rose tak kuasa menahan gelinya.
"Enggak...aku tadi habis baca-baca. Capek, trus ngeliat tivi. OTB baru tadi kamu bilang? Apaan sih?"
"Orang Terkenal Baru! Hahaha....!"
"Bisa aja kamu, Rose. Dari mana kamu tahu aku ada di rumah? Atau kebetulan memang lagi mau ke sini?"
"Pas kebetulan lewat aja, lalu langsung ke sini."
"Ada berita baru?"
"Cuma mau ngucapin selamat."
"Kan kemarin-kemarin sudah ngucapin selamat."
"Ya, tapi kan untuk iklan kamu. Yang ini untuk beritamu yang di surat kabar."

Swan bangun dari tempat duduknya. la menuangkan segelas minuman warna strawberry kepada Rose. Keduanya berdiri saling berhadapan.

"Surat kabar? Berita apa? Mana. ….mana?"
"Tentang komentarmu pas shooting. Hot banget!"
"Perasaan aku nggak pernah diwawancarai?"
"Sun bilang kamu deg-degan?"
"lha iya lah, tapi...."
"Sun yang diwawancarai. Dia banyak ngomongin kamu."
"Ah, kok bisa gitu sih dia?"
"Ini ibukota, Swan."
"Mana surat kabarnya? Kamu bawa enggak?"
"Ketinggalan di studio. Yang jelas nih, orang ngebaca pasti ada something-somethingnya antara kamu dan Sun."
"Tapi apa hak dia ngomong-ngomong tentang aku segala."
"Kali-kali untuk menarik perhatianmu atau barangkali kalian telah..."
“Shit !"

Swan memotong ucapan Rose. Ia segera menyalakan HPnya untuk mengontak Sun. Non aktif, tak ada nada sambung. Swan membuka T'Shirtnya, lalu melemparkan T'Shirt kotor itu begitu saja ke keranjang cucian. la berjalan menuju kamar ganti.

"Kamu mau kemana?" tanya Rose.
"Mau nemuin Sun. Dia harus menjelaskan semua ini.
"Jangan over, Swan. Kamu harus tenang."
"Tenang bagaimana?"
"Kalau kamu memang merasa ada, yang nggak pas, kamu kan bisa counter lewat media."
"Udahlah, kamu masih temanku bukan?"
"Tentu saja. Tapi apa memang perlu begini?"
"Ya harus!"

Swan tak habis pikir, popularitas ternyata masih sangat membutuhkan tumbuhnya konflik di tengah segala pernak-pernik gosip dan basa-basi. Shit! Sebagai seorang perempuan yang merasa masih memegang prinsip-prinsip serta idealisme ia menganggap apa yang telah dilakukan Sun itu tidak boleh dibiarkan. la seorang penulis yang masih menolak disebut artis apalagi selebritis jika pada akhirnya hanya akan membuat hidupnya menjadi bahan gunjingan dan cemoohan gratis.□
......................................................................................................

lompatan jejak...


Benar juga lagu unggulan milik Rain kemudian menjadi single hits di mana-mana. Nyaris melebihi perkiraan sebelumnya, album Rain yang dikeluarkan bertepatan dengan dimulainya tahun baru itu menuai sukses penjualan yang sangat luar biasa. Prestasi ini kemudian disusul dengan kesibukan grup Rain untuk mengadakan aksi promo tour ke seluruh Nusantara.

Nama Manggarai mendadak menjadi perbincangan. Berkat popularitas lagu ini kemudian bahkan melebarkan stigma kota Jakarta yang selama ini hanya dekat dengan nama-nama seperti Blok M, Pulo Gadung, Tugu Monas dan beberapa wilayah besarnya menjadi berkembang.

Sukses album Rain kali ini selain memberikannya kesuksesan juga menganugerahinya Platinum untuk kategori musik rock terbaik dan juga jumlah penjualan album terbanyak dalam sepekan pertama. Rain nampaknya telah berhasil bangkit dari rasa frustrasinya. Tepuk sorak sorai membahana dan jalinan komunikasi dengan para penggemarnya di setiap kali aksi pentasnya telah membangkitkan rasa percaya diri yang luar biasa pada diri Rain.

Sepertinya demikian. Namun benarkah semua itu akan tetap terus bertahan, serta mampu mengisi kekosongan hati Rain saat malam menjelang dan sunyi menutup diri? Nampaknya hanya Rain yang sanggup menjawab serta menjelaskan semua itu.□
.........................................................................................

tawanan cinta..


“Apakah kamu mau memaafkanku?"

Sebuah SMS diterima Swan di pagi hari ketika ia baru bangun dari tidurnya, pengirimnya Sun. Swan hanya mendengus, lalu menaruh HP itu di samping¬nya begitu saja tanpa membalasnya.

Sesudah kejadian tempo hari dan sesudah ia merasa puas melampiaskan kedongkolannya atas sikap Sun yang asal ngomong saja kepada media Swan merasa sudah tidak ada gunanya lagi ia menimbang-nimbang perasaan dengan orang yang bernama Sun.

Swan tidak ingin terjebak dalam kesalahan yang sama hanya untuk sekadar pemenuhan kebutuhan perasaan yang menggebu-gebu jika inti sesungguhnya hanya sekadar untuk pelampiasan diri. Pun diakuinya pada saat itu ia juga merasa telah ikut terbakar.

Dunia saat ini nampak tengah terbuka lebar-lebar bagi apapun keinginan yang hendak dilakukannya. Popularitas yang baru digenggamnya menawarkan banyak pilihan keajaiban yang tinggal menunggu untuk disentuhnya, terserah ia mau memilih yang mana. la harus mampu mengalihkan perasaan kesepian dan hampa tanpa kehadiran cinta di antara hari-hari-nya. la harus menjadi perempuan mandiri yang tidak akan gampang terkecoh situasi, lalu terlibat dalam romans semu semata di dunianya yang kini.

Swan melenguh. Di antara sekian persoalan hidup yang terasa menghantuinya tiba-tiba sekelebatan muncul wajah Rain. Ahh.………..!□

...............................................................................................

dunia gemerlap....


Siang hari di sebuah hotel yang terletak di jantung ibukota, Swan dan beberapa orang perfilman nampak duduk di satu meja.

"Coba kamu pelajari lagi, Swan."
"Tema besarnya saya sudah tahu, ceritanya memang menarik."
"Lalu?"
"Apakah adegan telanjangnya memang perlu?"
"Itu bumbu perfilman, Swan. Selain untuk menarik minat penonton juga untuk menjaga keutuhan cerita."
"Apa tidak bisa diganti?"
"Sesuatu yang bisa mengembangkan fantasi penonton itu perlu."
"Ehm...saya rasa saya tidak mampu melakukannya."
"Yaahhh...!"
"Oke oke! Seandainya kita buat sesederhana mungkin?" .
"Bagaimana?" tanya Swan.
"Shoot dari belakang saja, secara siluet."
"Jadi adegan itu tetap ada?"
"Sebagian saja, lagian nanti tubuh kamu dibloking efek pencahayaan:"
"Satu adegan?"
"Ya,”
"Emhh...."
"Bagaimana?"
"Aku pikir...."
"Satu adegan saja."
"Baiklah."
"Deal !"

Seluruh orang yang ada dalam ruangan itu kemudian bersalam-salaman. Semuanya bersorak, menandai pekerjaan berat dari babak baru kehidupan Swan yang akan segera dimulai. Swan tercenung. la merasa kian jelas menatap masa depannya. Dan walaupun masih ada tersisa sedikit kegamangan dalam hati, Swan merasa yakin bahwa satu keberhasilan lagi telah siap menunggu untuk ditaklukkan.

Swan mendengus. la melambaikan tangannya dengan riang kepada seluruh orang-orang perfilman yang hadir di tempat itu, lalu segera masuk ke dalam mobil yang sekejap kemudian telah membawanya menghilang.□

.....................................................................................................

jingga merona....


"Aku masih sangsi, apa yang sesungguhnya aku Inginkan? Nasib telah memberiku pekerjaan sebagai insan perfilman. Namun benarkah aku sungguh-sungguh menginginkannya? Atau barangkali semua Ini hanya sebentuk pelarian dari keinginanku sendiri yang sebenarnya tak kunjung pernah aku pahami?"

Swan menjalani syuting perfilman di minggu-minggu berikutnya. Saat ini nama Swan betul-betul telah mengorbit menjadi topik pembicaraan di mana-mana hanya karena selintas iklan dan sebuah film yang belum lagi selesai dalam pembuatannya.

"Camera .. . !Action !"

Dada Swan berdegup kencang. la adalah seorang penulis yang sedikit banyak juga memahami arti kata tuntutan peran demi menjaga keutuhan cerita. Namun berbugil ria di hadapan sekian pasang mata orang-orang yang terus mengawasi gerak-geriknya? Semua itu benar-benar merupakan pengalaman baru yang mau tidak mau membuat Swan tetap saja merasa tegang, pening dan berkeringat.

Dia sadar apa yang akan ditangkap kamera hanyalah bagian atas dari tubuh belakangnya yang setengah telanjang, walaupun begitu ia merasa betapa pekerjaan ini telah menuntutnya terlalu banyak pengorbanan.

Rooooollll...! Camera ... !Action !"

Swan mengeraskan hatinya, otot-otot di rahang dagunya menegang. la tahu kini perjuangan hidup membutuhkan pengorbanan lebih dari sekadar harga diri.

Sinar lampu berwarna merah kuning yang menghambur dan menyorot dari arah depan dan atas tubuhnya terasa panas. la berharap seluruh kru akan mampu menyelesaikan adegan ini dalam satu sudut pengambilan gambar yang sempurna agar tidak perlu mengulanginya berulang kali.

Mata Swan memicing. Teriakan aba-aba dari sutradara yang terus memberikannya pengarahan dirasakannya sudah mulai tak terdengar lagi di kedua telinganya kini.

Pikiran Swan terasa membeku. la masih sempat mengawasi pergerakan satu demi satu kamera yang terasa kian menggerayangi seluruh tubuhnya dari segenap arah dan sisi. Lalu, puncak ketegangan itu muncullah.

Setengah meter dari hadapannya seorang aktor yang tengah berendam di bak mandi merentangkan kedua lengannya. Kedua kaki Swan gemetar. la sangat tidak yakin jika laki-laki itu tidak ikut menikmati ketelanjangannya.

Swan melangkah perlahan, kamera menyapu seisi ruangan.
Swan menyentuh bak mandi, kamera tertahan.
Swan melepaskan gaunnya, kamera tegang.
Swan melempar pakaian, kamera terbakar.
Swan merebahkan badan, kamera bergoyang-goyang.
Swan bergerak menggoyang, kamera terguncang!

Sempurna. Fantastis dan sempurna!

“Cut!”

bersambung..........
___________________________________________________________________
DAUN GUGUR DI MANGGARAI, GUSBLERO © 2000
Naskah ini pernah diterbitkan Focus Grahamedia (2006)
Jl. Sepakat II No. 73 Cilangkap – Cipayung, Jakarta Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar