just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Minggu, 09 Oktober 2011

DAUN GUGUR DI MANGGARAI

DAUN GUGUR DI MANGGARAI (Delapan) l Gusblero

queen of the ocean...........

 

Tujuh

"Priiiiit………….!"

Peluit ditiup, bola dipukul, bola melenting ke angkasa. Ini adalah service Swan yang kedua.

"Awas, gue yang ambil!"
"Melebar!"
"Pukul! Kasih pinggir!"
"Hei, ambil!"
“Ups…! “
"Smash!"
"Horee.........!"

Sore yang cerah. Swan, Rose dan beberapa temannya nampak tengah asyik main volley pantai. Mereka semua adalah teman-teman ngerumpi sepermainan Rose dan Swan. Pekerjaan mereka nyaris berlainan semua. Namun satu hal mereka mempunyai kesamaan istimewa, jika hari libur tiba mereka mempunyai pilihan hobi yang sama: pelesir.

Mereka main volley juga tidak pakai rencana. Hanya pas kebetulan main-main di pantai, terus mereka melihat ada orang jualan bola saja lalu mun­cullah ide-ide norak tapi kreatif di kepala mereka. Posisi saat ini sementara 1- 2 unggul tim Swan. Mereka semua terlihat menikmati sekali permainan itu. Lalu saat istirahat tiba mereka duduk-duduk kembali saling bergerombol.

"Tampilan kamu yangg cemen kaya' tukang jamu nggak tahunya bisa mukul bola juga ya," olok Rose kepada Swan.
"Jelas dong. Mosok kalah sama bantalan preman kaya’ elu!"
"Semprul...!"
"Gini-gini dulu aku pernah mau dipanggil ke Pelatnas Sea Games Iho, tapi aku ogah."
"Kenapa?"
"Orang cuma suruh ngerokin atlit!"
"Jadi 'elu ya nyang dulu mau ngembat kerjaan gue?”
“Hahaha...!"

Tengah keduanya saling bercanda tiba-tiba terdengar HP berbunyi.

"Punya lu, Swan," celetuk Rose seraya menunjuk ke arah tas Swan.
"Ya, aku tahu." Swan segera mengambilnya.

Dilihatnya dari layar HP muncul nomor telepon lokal. Nyaris-saja Swan tak mengindahkannya kalau saja Rose tak memprovoknya.

"Halloouw...?!"
"Sore Swan, ini aku, Moon." Terdengar suara dari seberang pesawat.
"Tumben. Ada apa, Moon?"
"Lagi di mana kamu sekarang?"
"Latihan buat Olimpiade. Hahaha...! aku lagi main volley di pantai sama teman-teman."
"Volley pantai? Kaya' orang di Rio de Jenario saja, Swan."
"Emang rencananya aku mau ke sana kok!"
"Jadi TKI?”
"Sialan. Pelesir sama anak menteri dong. Hahaha...!"

Udara pantai di sore itu tidak begitu panas. Angin yang bertiup semilir mengeringkan sisa-sisa keringat yang menempel di sekujur tubuh. Dari kejauhan nampak beberapa nelayan tengah menyiapkan jala untuk menjaring ikan bila petang telah menjelang.

"Nggak biasanya kamu kontak-kontak aku, Moon."
"Lhah,….katanya aku disuruh sering-sering kontak?"
"Hahaha.... !"
"lni soal naskah kamu, Swan?"
"Ouw...! Gimana...gimana, Moon?"
"Aku mau nerbitin. Itu juga kalau belum kamu­ setorin ke penerbit lain."
"Bener nih, Moon?!" tanya Swan setengah memekik.
"Bences eh beneeerr…..Hahaha....!"
"Makasih, Moon. Ntar aku kelarin deh."
"Jadi, belum selesai?!"
"Alah, kurang dikiii….iit banget. Paling juga dalam tiga hari  ini kelar."
"Ntar ngacau lagi. Kurang bagian mananya sih?"
“Sebenernya sudah selesai sih, cuma belum mantep saja. Aku pengin nambahin beberapa dialog."
"Ya sudah. Kalau gitu aku tunggu tiga hari lagi di kantor ya?"
"lya deh."
"Oke, met ber-sport ria."
"Yess ..!"

Swan terlihat girang bukan kepalang. Swan masih terlihat tegak mematung mengamati handphone yang baru saja digunakannya, ketika kemudian secara tiba-­tiba ia mengacungkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas langit sambil berteriakk, Hooiii....iii ! I'm the queen of the ocean...!" lalu berlari-lari mengitari tempat itu seperti anak kecil dibelikan mainan seraya menciumi seluruh teman-temannya.

Kejadian itu tak pelak membuat teman-teman­nya yang masih asyik bergerombol di tempat lain yang terpisah menjadi berpaling menoleh ke arahnya sambil melongo dibuatnya.

"Kenapa dia?"
"Tau. Kesambet kali!" jawab Rose sekenanya.

Swan masih menari-nari. Lalu ketika ia melihat seluruh teman-temannya masih terlongong-longong bengong menatap ke arahnya, Swan malah justru tertawa. Keras-keras tertawa!□
.........................................................................................

fortunity.....


Jam sebelas siang hari, udara di ibukota panas­nya seperti tungku api. Di sepanjang jalan dan ping­giran perempatan banyak sekali orang berlalu-lalang, mereka seakan saling berpacu dan berlomba untuk mencapai pemenuhan kebutuhannya sendiri-sendiri. Sigap dan tanpa basa-basi. Barangkali orang-orang di kota besar memang sudah seperti mesin yang tahunya cuma tiga perkara: kerja, kerja dan kerja. Mereka sepertinya telah kehilangan budaya tegur sapa.

Swan menyeruak di antara para pejalan yang sesak memadati pusat perkotaan. Melewati sebuah tikungan dia nyaris menabrak orang. Orang itu melo­tot, tapi Swan cuma melengos dingin. Kantor pener­bitan milik Moon sudah nampak di depannya, Swan makin mempercepat langkahnya.

Sudah hampir dua minggu ini Swan terpaksa harus menyempatkari diri untuk bolak-balik ke kantornya Moon. Swan ingin terlibat total dalam penggarapan buku karyanya, hingga dalam penggarapan ilustrasinya pun dia ikut campur tangan.

Dalam hal ini dia harus merasa sangat berterima kasih kepada Moon yang telah mau bersusah-payah menghadirkan ilustrator terbaik saat ini untuk ikut menggarap bukunya. Di luar itu Moon ternyata juga telah berusaha total dengan memberikan rekomen­dasi yang sangat positif tentang karya Swan agar bisa mendapatkan hasil terbaik begitu buku ini siap di­launching melalui media.

Swan betul-betul merasa lebih hidup saat ini. Seluruh konsentrasi dan vitalitas kepenulisannya seakan terpacu untuk segera bisa menghasilkan kesuksesan. Duduk di salah satu bangku di ruang penerbitan itu Swan tersenyum menikmati keramah-tamahan sahabat-sahabat barunya. Sebuah ledakan kehidupan baru nampaknya telah siap diluncurkan.

Swan keluar ruangan. Langit yang telah berubah senja sebentar lagi akan menjadi kelam, lalu malam pun akan segera terjelang. Swan menatap langit luas. la telah siap kini, menantikan terbitnya bintang yang akan bersinar terang di antara gugusan galaksi Bima Sakti.□
........................................................................................................

kekuatan cinta.....


Pukul dua siang di sebuah perhotelan, kemeriahan Nampak di salah satu ballroom. Swan turun dari kendaraan lalu melangkah dengan tenang menuju pintu masuk.

Siang yang cerah, buliran angin yang lembut menggeraikan rambut di atas kacamata hitam. Swan tersenyum. Kepada beberapa orang yang telah bersiap-siap menyambutnya Swan menyampaikan tegur salam dan sapa.

Mereka kemudian berjalan menuju ruang panitia dimana Moon telah menunggu kedatangan Swan di sana. Keduanya lalu terlibat dalam sedikit pembicaraan sebelum pada akhirnya berjalan bersama-sama menuju ruang penyelenggaraan dengan diiringi beberapa rekan panitia.

“Are you ready, Swan?" Moon masih sempat bertanya kepada Swan beberapa langkah sebelum memasuki pintu ruangan.
“OK,” jawab Swan singkat seraya membetulkan roknya.

Ruangan itu berukuran sepuluh kali dua puluh meter luasnya. Terbagi untuk peserta dialog, serta meja moderator dan pembicara membelakangi panggung kecil tempat hiburan. Banyak sekali audiens yang sudah terlihat berkumpul di sana, terutama dari kalangan pers, televisi, serta pengamat budaya. Terlihat juga rombongan beberapa penggemar Swan dari kalangan dunia perfilman.

Saat Swan tiba memasuki ruangan serempak mereka sama-sama berdiri dan memberikan applausnya. Swan tersenyum. Ia berhenti sejenak, kemudian mengarahkan badannya kearah para pengunjung. Lalu sambil menyedekapkan kedua belah tangannya tepat di atas dada Swan memberikan penghormatan dengan menundukkan kepalanya untuk membalas applaus itu. Sejenak sesudah applaus itu mereda Swan melangkah dengan mantap menuju kursi yang telah dipersiapkan oleh panitia.

Moon rnengerling ke arah Swan. Ia merasa bangga. Swan yang merasa bisa menangkap isyarat itu memberikan senyumnya. Ruangan beranjak tenang. Ketika kemudian Swan sudah memberikan tanda kesiapannya dengan cara menganggukkan kepala, moderator mulai membuka acara.

“Hadirin yang terhormat…….rekan-rekan dari media pers, televisi, pengamat budaya, serta tak lupa pula pihak-pihak sponsor yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Juga rekan-rekan dari kalangan pecinta seni sastra, dan utamanya para hadirin yang telah rela bersusah-payah mengikuti acara ini, puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, hari ini…………………………”

Swan menyimak dengan seksama kata-kata yang diucapkan secara runtut oleh moderator untuk mem­buka acara itu seraya mencoba untuk mengamati satu persatu seluruh pengunjung yang hadir untuk mengikuti acara itu. Di atas panggung tepat di bela­kang tempat posisinya duduk nampak sebuah alat musik organ tergeletak begitu saja menunggu artis yang masih dirahasiakan memainkannya saat sesi istirahat nanti.

"..............Sosoknya mungkin saya tidak perlu mem­perkenalkan lagi, karena beberapa waktu yang lalu sudah banyak sekali media massa yang telah sering mengeksposnya dibuat geger karena keterlibatannya dalam sebuah film produksi ………………”

Hadirin tertawa, bertepuk riuh dan tertawa. Swan tersenyum. Lampu ruang yang berwarna merah menyembunyikan rasa jengahnya.

"…………..... untuk menyingkat waktu, mari kita mulai dengarkan saja apa kata Swan tentang karya barunya ini yang sebentar lagi mungkin akan membuat geger kembali rekan-rekan hadirin semua ……………………….."

Sekali lagi hadirin tertawa, bertepuk riuh dan tertawa. Swan tersenyum. Lampu ruang yang ber­warna merah kembali berbaik hati menyembunyikan kegugupannya. Lalu setelah membetulkan sedikit posisi duduknya Swan mengambil mikropon yang sudah tersedia di depannya.

"Hadirin yang saya hormati………teman-teman pers media massa, baik cetak maupun elektronik, kalangan pengamat seni, dan banyak lagi………..pertama-tama saya ucapkan terima kasih dan………………….”

Swan berdehem kecil untuk menghilangkan sedi­kit ludah yang tiba-tiba saja terasa menghambat di tenggorokannya. Ruangan itu hening sekali, semua­nya nampak menyimak satu-persatu kata-kata yang diucapkannya.

"………..ini adalah abad baru, abad budaya, dan abad elektronik, juga abad bagi perkembangan pemikiran yang ingin serba maju, serba bebas, namun tanpa kehilangan rasa tanggung-jawab. Inovasi menjadi sesuatu yang bernilai kompetitif. Dan perkembangannya kemudian, ketika proses-proses inovasi memunculkan daya saing yang sebenarnya guna kelestarian hidup, maka terciptalah keseimbangan itu........."


Para pengunjung yang memadati ruangan itu nampak mulai tersihir dengan kata-kata yang diucap­kan Swan secara runtut dan perlahan-lahan. Swan tersenyum. Ujian pertama telah dilewatinya.

“…………kekuatan cinta, saya rasa bukan merupakan sesuatu yang naif apabila kita mau mempertahan­kannya. Hakikat cinta akan membentengi kita dari erosi moral, pengaruh budaya ‘easy love’, seks secara serampangan, juga penyakit omong-kosong yang selalu mem­buat kita merasa asyik untuk selalu berbuat main­-main…………..”              

Hadirin kian tercenung, suasana hening. Swan tersenyum. Angin dalam ruangan itu nampak ber­pihak kepadanya.

“……....buku ini adalah refleksi dari sebuah cinta, jadi ia akan bercerita banyak hal tentang cinta. Sebagai sebentuk wajah cinta yang sebenarnya, tentu saja ia juga tak akan luput dari yang namanya luka. Dari sinilah sebenarnya kita harus mulai belajar, bahwa substansi cinta akan bisa melahirkan eksistensi atau daya cinta yang sebenarnya justru ketika kita mau menerima apa adanya............”

Orang-orang terdiam, orang-orang nampak menunggu kalimat Swan selanjutnya. Ruangan hening. Swan tersenyum. Angin dalam ruangan itu telah digenggamnya.

“……….ada keterasingan yang menimbulkan penyiksaan. Cinta bisa saja menggantung. Tetapi wajah cinta yang sesungguhnya tidak akan pernah berpaling dan kehilangan harapan untuk suatu saat kembali bertaut, bersatu dan berpagut. Untuk kemudian bersama-sama merenda kembali hari-hari yang hilang, kenangan-kenangan yang mengambang, menuju satu biduk dalam samudera………..kebahagiaan !"

Seluruh hadirin bertepuk riuh, berdiri dan bertepuk riuh. Swan berdiri membalas penghormatan. Lampu dalam ruangan berwarna benderang, Swan tersenyum. Ujian itu telah dirampungkan.

Memasuki sesi dialog, Swan menjawab seluruh pertanyaan pengunjung dengan memuaskan. Kilatan lampu kamera yang berpendar menyilaukan terus mengabadikan momen-momen itu.

Jelang sesi hiburan para pengunjung bergantian mengambil hidangan yang telah disediakan oleh panitia. Mereka terus mengomentari acara itu sambil mencicipi makanan dan minuman. Lalu samar-samar terdengar suara organ mulai dimainkan.

Swan terhenyak. Lamat-lamat ia merasa menge­nal intro lagu tersebut. Swan menoleh ke arah panggung. Dada Swan berdegup kencang.

Benar saja. Saat asap dry ice berangsur hilang, sorot lampu di sudut panggung perlahan-lahan memunculkan sesosok tubuh yang sudah tak asing lagi baginya. Tak mungkin salah lagi: Rain!

Swan tak habis pikir bagaimana Rain bisa hadir dalam acaranya. Swan merasa kecolongan dan menyesal kenapa ia tidak menanyakan secara rinci siapa-siapa saja pendukung acara dalam peluncuran bukunya kali ini. Segalanya sudah terjadi. Kini, di tengah kerumunan banyak orang yang ia harapkan akan bisa memberikan dukungan bagi kesuksesan karyanya, ia diliputi perasaan yang membingungkan hati. Swan merutuk.

la hanya bisa pasrah mengikuti bait demi bait, satu demi satu lagu yang dilantunkan Rain dan.....astaga! betapa kurang-ajarnya lelaki itu. Dalam ke­sempatan itu Rain juga tak sungkan-sungkan men­yebutkan bahwa seluruh ide penciptaan lagu-lagu di album barunya dipersembahkan untuk satu nama: Swan!

Swan menunduk. Ditengah banyak suitan, aplaus dan teriakan heboh dari para pengunjung dalam ruangan itu, Swan hanya bisa tersenyum kecut, lalu perlahan-lahan mencari celah kesempatan untuk melarikan diri.

Swan merasa marah, ia merasa diakali. Ketika selintas dilihatnya Moon tengah berbicara dengan seorang pengunjung, Swan hanya menatapnya sekali, dengan mata berapi-api, lalu segera pergi meninggal­kan ballroom.□
................................................................................................

pasangan jiwa....


“Aneh juga. Dunia, barangkali memang tak cuma seluas daun kelor, namun kisah manusia, nampak jelas seperti berputar-putar dalam sebiji merica. Aneh juga, sesudah sebegitu jauh aku mencoba meninggal­kannya, semuanya bisa kembali hadir begitu saja. Aneh juga...aneh juga...!"

Ini adalah hari kedua sesudah launching buku karya Swan pertama kalinya. Siang yang panas, matahari nampak garang di atas kepala. Swan mema­suki kantor penerbitan. Ada rasa syukur dan bahagia bahwa bukunya laku terjual karena diminati banyak pembaca, namun satu hal yang masih mengganjal dalam hati Swan, bagaimana Rain bisa hadir dalam acara peluncuran bukunya saat itu. la mencari Moon, namun tak dijumpainya.

"Apakah Bapak tahu kemana Moon pergi, Pak?" tanya Swan kepada salah seorang karyawan yang tengah bertugas di ruang tamu.
"Bilangnya sih mau menemui Tuan Rain, Mbak." Jawab karyawan tersebut.
"Tuan Rain? Rain yang mana, Pak?" tanya Swan kembali dengan harap-harap cemas, semoga yang dimaksud dengan 'Tuan Rain' ini bukan Rain yang selama ini ia kenal.
"Ya, Tuan Rain yang penyanyi itu, Mbak," jelas karyawan itu.

Ups, astaga! Jawaban itu membuat jantung,di dada Swan berdebar-debar tak karuan.

"Bapak tahu ada urusan apa antara Moon dengan Rain, Pak?" Swan terus mencecar. Tiba-tiba terbersit rasa ingin tahu dalam hatinya yang tengah dilanda amarah.
"Ya mungkin soal urusan bisnisnya di sini, Mbak," karyawan itu menjelaskan.
"Bisnis? Memang Moon sama Rain punya bisnis barengan apa?" tanya Swan seraya mendekat.
"Lho gimana to Mbak ini? Ya mungkin bisnis soal buku Mbak," jawab karyawan itu sambil tersenyum.
"Buku saya? Maksud Bapak?" Mata Swan terbe­lalak. Kali ini ia betul-betul terkejut. Jawaban karyawan tadi membuat Swan serasa melihat hantu di siang bolong.
"lya buku Mbak. Tuan Rain itu kan yang menjadi bos penanggung buku karya Mbak," papar karyawan itu lugu.
"Jadi?! Jadi?!..." Mulut Swan ternganga. Swan merasa tak mampu untuk menyusun kata-kata.

Seandainya ada petir menyambar di siang bende­rang Swan mungkin tak akan seterkejut itu, namun keterangan dari karyawan tadi ibaratnya salju yang tiba-tiba saja melanda di kota Jakarta yang panas.

"Ada apa Mbak kok jadi gelisah begitu?" tanya karyawan tersebut yang nampaknya mulai menang­kap kebingungan yang terpancar di wajah Swan.
"Ndak apa-apa Pak, ndak apa-apa..." Swan men­coba menenangkan hatinya sendiri yang mulai berke­camuk tak karuan.
"Tapi Mbak..." karyawan itu melanjutkan.
"Sudahlah Pak. Terima kasih." Tanpa mengindah­kan kecemasan karyawan yang terus memanggilnya 'Mbak Mbak' itu, Swan segera beranjak pergi dari tempat yang telah membuat hatinya jadi tak menentu itu.□
..........................................................................................................

rendesvouz.....


Malam Minggu yang hingar di sebuah stadion. Lampu-lampu ribuan watt bersinar menerangi gelegar pentas dari arah sebuah panggung yang dikemas secara kolosal. Berjubel-jubel penonton memadati stadion menyaksikan pertunjukkan Rain malam itu.

Swan baru saja turun dari mobil yang dikemudi­kan Rose. la kelihatan tercenung, haruskah ia mene­mui Rain malam ini?
la masih berdiri mematung saat Rose yang sudah selesai memarkirkan mobilnya menarik lengannya untuk segera bergabung dengan kerumunan para penonton.

"Ayo! Mikirin apalagi?" celetuk Rose sambil terus menarik Swan yang seakan terpaku di tempatnya berdiri.
“Rose..."
"Heh?!"
"Aku..."
“Alaaah...!"

Lagu itu lagu rock. Lagu pertama yang dilantun­kan Rain untuk mengajak penonton langsung bergo­yang. Suasana hangat. Semua orang nampak ikut bergerak, menari-nari dan bergoyang. Swan merasa sedikit pusing berada di tengah-tengah para penonton yang terlihat begitu menggila. la nyaris menyerah, namun Rose terus memaksanya menembus lapisan para penonton itu mendekati panggung pentas.

Rock bergema!

Musik terus bergerak cepat menuju ke lagu kedua dan ketiga. Memasuki lagu yang keempat Rain mengajak para penonton untuk berdialog. Rain ter­lihat agak sedikit sentimental ketika harus mencerita­kan latar belakang proses penciptaan lagu-lagu barunya yang terangkum dalam albumnya yang kali ini. la berdiri di ujung panggung seraya menatap ke kejauhan seakan tengah membayangkan sesuatu. Lalu, tibalah momen itu………

Lagu keempat. Sebuah intro perlahan mengalun, nada sendu mengalir pilu. Penonton mulai menyala­kan lilinnya. Suasana syahdu. Hening dan mencekam. Swan merasa tersiksa. la mengenal dengan jelas lagu itu.......

…………………………………………
Daunan gugur di Manggarai
Luka terkubur duka berderai
Daun yang gugur di Manggarai
Rindu mengabur kubelai-belai

Segala mimpi telah menjadi
Kesukaan diri apa adanya
Biarkan nanti tetap abadi
Mengikat janji sumpah setia

Daunan gugur di Manggarai
Hatiku hancur kerna kulukai
Jangan tertidur Dinda aduhai
Dengarkan mazmur cinta kumulai
.................................

Swan menggigit bibir, matanya berkaca-kaca. Rasanya tak sanggup lagi ia menahan runtuhnya air mata yang sudah mulai menggenang di kedua bola matanya. la mengeraskan rahangnya. Siksa ini sung­guh sudah tak tertanggungkan rasanya. Lalu akhirnya isak itu berderai juga. Beberapa penonton yang mengenalinya segera memberi ruang kepadanya, lalu beramai-ramai mendorongnya mendekati panggung seraya menyibakkan barisan penonton yang ada di depannya.

Kepiluan menggema!

Tepat di penghujung lagu Rain akhirnya bisa melihatnya. Rain melihat semua itu! Di antara barisan para penonton yang tengah tenggelam dalam nafas lagu yang sendu, nampak Swan tersedu menutupi wajahnya. Rain melihatnya! Lalu bagaikan seekor harimau yang telah menemukan kembali cinta kasihnya yang hilang Rain memekik. Meraung dan memekik. Teriakannya melengking memenuhi ruang stadion yang masih gegap gempita.

"Swaaannn... ! Swaaaannnn... !!"□
........................................................................................................

keajaiban kedua....


Rain termenung di taman kota. Senja bergerak memayungi Jakarta, orang banyak lalu-lalang menatap ke arahnya namun Rain tak peduli. Yang ia lakukan sekarang adalah persoalan hati, tak ada urusannya sama sekali dengan pertanyaan ‘mengapa' dan 'untuk apa'?

Terbayang lagi tergambar jelas di satu malam ketika ia bersama Swan di taman ini. "Kamu tahu apa yang tengah aku pikirkan saat ini?"

Bayangan itu saat ini seperti kembali menari-nari. "Aku tengah merenungkan satu keajaiban yang tumbuh di satu malam, ketika kamu hadir secara nyata dalam kehidupanku."

Ahh...Swan! "Kamu tahu apa yang tengah aku pikirkan saat ini?"

Rain seakan kian larut dalam memori. la terus memandang ke arah kolam. "Sejujurnya aku telah begitu lama menantikan terjadinya saat-saat seperti ini. Bagiku kamu telah hadir begitu lama di ruang-­ruang kalbuku, namun baru saat ini nampaknya segalanya rnenjadi pasti, Swan. Hingga malam ini... aku...aku…….."


Rain teringat kembali seluruh ucapannya waktu itu. Dan itu adalah malam-malam terindah yang telah memberikan kebahagiaan paling nyata kepada Rain. Namun kini?

Rain mendesah. Betapa bodohnya ia saat itu. Semua siksa itu semakin membuat Rain merasa sedih tatkala menatap sekelilingnya. Rerumputan yang bergoyang-goyang dan bunga kenanga yang kini tumbuh mekar seakan menambah lagi beban-beban luka yang kini semayam.

Rain merasa limbung. la nyaris tak kuat menahan semuanya.

"Apa yang kamu lihat saat ini?"

Sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar mengoyak lamunannya. Rain tersentak. Di kedua bola mata­nya yang nyaris padam perlahan menampak binar keharuan. la menoleh ke belakang, di bibirnya yang terasa kering ia mengeluarkan senyum. Lalu nampak­lah bayangan itu. Swan yang tengah menatapnya sambil tersenyum.

"Kamu," jawab Rain singkat.

Tak kuasa lagi menahan rindu Rain segera berlari memeluk Swan yang telah menunggunya di sisi taman.□

S E L E S A I.......
___________________________________________________________________
DAUN GUGUR DI MANGGARAI, GUSBLERO © 2000
Naskah ini pernah diterbitkan Focus Grahamedia (2006)
Jl. Sepakat II No. 73 Cilangkap – Cipayung, Jakarta Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar