just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Senin, 24 Oktober 2011

COKEK l Gusblero



JATI DIRI

Susan Wong masuk ke sebuah taksi. Bagian dalam taksi itu berbau wangi, namun samar-samar tercium juga bau apek keringat. Susan Wong mengeluarkan saputangan dari dalam tas kecilnya. Ia nampak mengucek-ucek matanya lalu mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Bunga-bunga terompet terlihat merah menyala di beberapa ruas pembatas jalan raya. Rumput-rumputan dan pepohonan hijau berjajar rapi dengan eloknya, namun cuma sebagai penghias jalan raya. Kota besar yang aneh.

“Mau kemana?” Tanya sopir taksi itu, orangnya sudah agak tua. Penampilannya seperti pelawak ibukota yang beken dengan lagaknya yang suka kebolot-bolotan.
“Surya Inc.”
“Ok. Jalan biasa atau by pass?” Tanya sopir itu lagi sambil memindai versnelling.
Ihh, Bapak. Bukannya itu salah satu service para sopir taksi?” Jawab Susan balik bertanya.
“Hahaha…..! Namanya juga coba-coba ngelaba. Mbak.”
“Iya sih. Tapi mana bisa ngelaba sama orang yang baru mau nyari pekerjaan.”
“Mbak baru di Jakarta?” Ia mencoba beramah-ramah lagi kepada Susan.
“Enggak juga sih. Dulu sempat kerja, tapi nganggur lagi. Belum juga ada satu tahun perusahaan tempat saya kerja sudah gulung tikar.”
Krismon?”
“Bukan. Krisman.”
Krisman?!”
“Iya. Krisis Manusia. Habis kena demo sih.”
“Hahaha…..! Rata-rata begitu, Mbak.”
“Semoga saja yang kali ini tidak, Pak.”
“Bapak ikut berdoa lah. Jadi Mbak ini mau ngelamar pekerjaan?”
“Interview.”
Yeah, semoga berhasil ya.”
“Terima kasih, Pak.”

Susan melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam delapan pagi lewat empat puluh menit. Kemarin pagi Leoni telah mengabari Susan  melalui telepon bahwa Big Boss of Surya Inc ingin bertemu dengannya. Big Boss. Bukan sekadar Pak Willy yang seharusnya menjadi palang pintu bagian personalia penerimaan pegawai baru. Leoni bilang Susan harus siap menghadap di kantor  Mr. CK pagi ini sambil mempersiapkan segala sesuatunya.

Fuihh! Susan mendengus. Dengan cara apapun aku harus mendapatkan pekerjaan ini. Ia bersumpah. Ia tidak akan mengecewakan bantuan sahabatnya itu, meski ia pun menyadari kemungkinan lain bahwa ia pasti akan menghadapi interview yang bisa saja tidak mudah, sedikit alot, dan bertele-tele. Ia tidak peduli. Sudah tiba pada saatnya ia harus bisa menentukan jati diri, bahwa kehormatan seorang manusia di jaman ini diukur dengan reputasi dan buah dari pekerjaannya.

Dua kilometer sebelum nanti akan segera terlihat sebuah gedung tinggi dengan tulisan Surya Inc mencolok di atasnya Susan merasa jantungnya sedikit berdebar-debar. Bagaimana pun ia tidak bisa mengenyahkan begitu saja komentar Leoni perihal bosnya yang konon sangat jantan. Susan tersenyum. Bayangan wajah Leoni yang culun seakan melintas di matanya.

Leoni adalah sobat karib, sahabat yang lebih dari sekadar seorang sahabat. Ia mengenal Leoni semenjak menjadi kakak kelas semasa kuliah dulu. Sophisticated, ia adalah seorang sahabat yang banyak mengajarinya tentang tata cara berpenampilan yang up to date.

“Sejak semester pertama kuliahku aku sudah bekerja paro waktu.” Begitu Leoni pernah bercerita. Saat itu Susan baru menempati tempat indekostnya yang baru, awal ia bertemu Leoni.
“Aku menjaga satu rental komputer bergantian dengan salah seorang temanku.” Lanjutnya lagi.
“Ibuku ingin aku mulai bisa menabung sendiri untuk membiayai kuliahku. Menurutnya itu akan lebih baik daripada sekedar menunggu kiriman uang dari ayahku yang kadang tidak selalu bisa dijagakan.” Leoni yang baik. Ia selalu banyak memberikan pengertian tentang hidup sembari mengunyah permen karet di mulutnya.
“Aku pikir sih memang sebaiknya begitu. Sekaligus untuk memupuk rasa tanggung-jawabku.” Ia bergerak ke sudut kamar. Kamar kost yang cukup mewah untuk ukuran seorang mahasiswi. Ukurannya tiga kali empat meter persegi, dengan sebuah televisi empat belas inchi di dalamnya. Sambil merebahkan badannya Leoni menyalakan televisi dengan remote control yang dipegangnya.

“Untung saja hari ini tidak ada demo.” Tiba-tiba sopir taksi berbicara.
“Eh…iya, Pak.” Jawab Susan agak menggeragap. Sungguh memalukan, ia berkata pada dirinya sendiri, sepagi ini sudah melamun. Dengan menggeserkan sedikit badannya Susan mencoba mencuri kesempatan untuk bercermin melalui kaca spion yang terletak di atas kepala sopir.

Jakarta, meski hari masih pagi namun panasnya sungguh minta ampun. Syukurlah AC di dalam taksi bisa berfungsi dengan sempurna, hingga Susan tidak perlu khawatir saat wawancara nanti ia akan tampil dengan keringat yang basah kuyup membasahi sekujur tubuhnya.

“Dengan segala kebebasan yang aku miliki bisa saja aku merasa free untuk melakukan apapun yang aku suka. Namun semua tidak bisa begitu. Ini juga penting buat kamu, Susan. Banyak komentar orang berbicara minor tentang mahasiswi-mahasiswi yang hidup di kota besar. Mangkanya kamu juga harus hati-hati.” Leoni terus saja nyerocos bercerita panjang lebar. Kalau ditilik usianya yang cuma beda sedikit dengannya, Susan jadi tertawa cekikikan membanding-bandingkan semua omongan Leoni dengan kata-kata ibunya acapkali memberikan nasehat kepadanya.

“Kenapa kamu tertawa?” Tanya Leoni kepada Susan.
“Habis kamu mirip ibu aku sih. Hahaha……!” Jawab Susan tambah ngakak.
“Sialan!”
“Iya memang begitu kok.” Lanjut Susan lagi.
“Kalau penginnya cuma sekedar having fun sih sebenarnya banyak sekali kesempatan.” Leoni mencongkel bantal guling yang ada di sudut tempat tidur dengan kakinya. Ia memandang ke arah langit-langit kamar.
“Ada pesta semi formal antara mahasiswa, baik yang yunior maupun senior. Biasanya sih pengikutnya terbatas hanya untuk mereka-mereka yang sudah masuk dalam satu club. Aku juga pernah ikutan. Sebenarnya asyik juga sih, cuma lama-lama bosan. Acaranya itu-itu juga.” Leoni melirik ke arah Susan yang hanya diam menyimak seluruh ceritanya. Sementara di beranda angin terlihat sedikit memporak-porandakan tanaman bunga. Nampaknya hujan segera tiba. Susan mendesah.

Kenyataan bahwa sejauh ini hidupnya selalu dalam pantauan dan pendiktean dari keluarga dan familinya, rasa-rasanya apa pun petualangan yang telah dialami Leoni terasa lebih baik. Membayangkan kondisi dirinya saat itu yang begitu lugu dan terbatasnya dalam pergaulan sehari-hari membuat wajah Susan tak terasa memerah sedikit malu. Dalam hati ia merasa begitu beruntungnya ia saat ini memiliki seorang sahabat seperti Leoni yang tidak sungkan-sungkan untuk diminta berbagi pengalaman.


***

Cokek memarkir mobilnya tepat di samping parkiran hotel. Dengan cekatan ia melangkah keluar pintu memutari depan mobil lalu bergerak ke samping membukakan pintu yang ada di sebelahnya.

“Semoga kamu tidak bosan melakukannya.” Om Surya berkata sembari tersenyum. Ia memandang sejenak ke arah Cokek sebelum kakinya benar-benar keluar dari mobil.
Pu khe chi. Tidak apa-apa, Om.”  Jawab Cokek.

Om Surya adalah ayah dari Salim, teman Cokek semasa sekolah dulu. Ia adalah pemilik Publicity Agent PT. Surya. Beruntung bagi Cokek, Willy dan Hendra, pertemanan semasa sekolah bersama Salim dulu bisa menolong keberadaan mereka di Jakarta. Tanpa adanya seorang teman seperti Salim di Jakarta, entah apa jadinya nasib Cokek. Pada hari ketiga masa luntang-lantungnya di kota metropolis ini saja Cokek sudah menghadapi berbagai peristiwa yang tidak mengenakkan.

“Apakah kamu Cina?” Tanya seorang laki-laki berpenampilan sangar di depan sebuah gang tatkala Cokek bertiga tengah berusaha mencari alamat Salim.
“Saya orang Indonesia.” Jawab Cokek dengan sopan.
“Tapi kamu Cina khan?” Tanya laki-laki itu lagi. Melihat dari sipit-sipitnya, sebetulnya Cokek tidak sangsi lagi bahwa laki-laki yang mencegatnya kali ini sebetulnya juga orang Cina.
“Saya orang Jawa.” Jawab Cokek tidak kurang tegasnya. Ia tidak merasa ada yang salah dengan jawabannya. Walau pun ia memang mempunyai darah keturunan dari Cina, namun ia enggan mengakuinya, apalagi ketika kemudian ia mengetahui laki-laki yang telah menghamili ibunya itu tidak mau menunjukkan tanggung-jawabnya sedikitpun.
“Kamu seperti orang Cina.” Laki-laki itu mendengus, namun tak lama kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah sedikit sempoyongan.
“Dasar Cina mabuk.” Ujar Cokek sambil membenahi tasnya.

Begitulah perbedaan etnis kadangkala menjadi sesuatu yang krusial dalam perilaku hidup kemasyarakatan di Jakarta. Walau pun itu tidak murni betul, karena gesekan-gesekan yang kemudian meletup menjadi satu konflik horizontal tidak menutup kemungkinan pada awalnya justru dipantik oleh sekawanan kelompok sesama etnis yang kebetulan saling mempunyai muatan kepentingan yang sama di dalam memperebutkan lahan atau wilayah perekonomian.

“Nampaknya kamu suka sekali dengan pesta ya?” Tanya Om Surya sebelum keduanya melangkah. Mendengar perkataan Om Surya, Cokek hanya tersenyum. Hidup yang sungguh menyenangkan, baru juga tujuh bulan hidup di Jakarta sudah memiliki jabatan. Cokek saat ini menjadi asisten unit produksi, Willy membantu di bidang property, dan Hendra menjadi fotografer agen Surya. Keajaiban hidup yang sepertinya tak gampang ditukar dengan nilai apapun. Barangkali itu pulalah yang menyebabkan Cokek menaruh rasa hormat yang sangat mendalam terhadap Om Surya yang usianya telah menginjak kepala tujuh. Sementara itu Salim putra Om Surya sendiri tengah sibuk menekuni pendidikan yang lebih tinggi lagi di Amerika.

Jakarta di malam pergantian tahun. Sejenak keduanya berdiri di muka pintu hotel. Om Surya membetulkan letak jas, Cokek memperhatikannya sekejap. Keduanya lantas saling memandang, lalu tertawa. Wajah keduanya nampak riang ketika berjalan memasuki pintu hotel.


bersambung........
___________________________________________________________
COKEK©Gusblero, 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar