just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Minggu, 09 Oktober 2011

DAUN GUGUR DI MANGGARAI

DAUN GUGUR DI MANGGARAI (Tujuh) l Gusblero

soliloquy....

 

Enam

Jakarta di tahun baru. Langit bersinar cerah, keceriaan terpancar di wajah-wajah penduduk kota. Saat-saat kemeriahan seperti ini menjadi momen extravaganza bagi para impresarian untuk menggelar serangkaian pertunjukan yang bersifat kolosal serta didukung oleh sponsor-sponsor besar guna mema­sarkan produk-produknya.

"Kita jalan-jalan saja yuk," ajak Rose kepada Swan.
"Apa kamu nggak lagi sibuk ‘ngamen', Rose?" ujar Swan.
"Nggak lah, di album Rain yang baru ini aku kan ‘puasa'."
"Masa iya sih?"
"Keterlaluan banget. Jadi kamu belum pernah denger albumnya ya?"
"Hihihi.... ! Belum."
"Nggak kuat beli? Minta aku kasih?"
"Nggak juga. Aku cuma lagi ati-atiiii.... banget ngerawat kuping."
"Sialan...!"
"Hahaha....!"

Sore itu Rose selesai belanja dari sebuah swalayan. Udara Jakarta yang cerah membuat Rose menunda pulang ke rumah, lalu langsung menuju ke kontrakan Swan.

"Enaknya kita kemana ya, OTB? Hahaha...!"
"Sialan lu. Nonton bola saja yuk?"
"Kamu gila apa, bisa-bisa kita dijarah massa."
"Dijarah? Sembako kali."
"Eh Swan, kamu itu sekarang udah bisa dibilang ngetoo..op banget loh, jadi nggak usah yang aneh-­aneh deh."
"Cuma nonton bola kok dibilang aneh-aneh?"
"Terserah. Tapi aku nggak tanggung-jawab klo ada apa-apa."
"Tanggung jawab? Apa urusannya?"
"E..eh masih nanya lagi. Kamu pura-pura bego apa memang kurang waras sih? Fans-fans kamu itu, bisa aja mereka langsung ngerubutin."
"Ngerubutin? Emang ada apa?"
"Sebodo ah. Ada nenek-nenek diperkosa!"
"Lhah, di mana?"
"Ntar kalau kamu sudah tua tapi lagaknya masih keganjenan saja!"
"Hahaha...marah ya? Ngambek ya? Duile... yang namanya ratu bantal."
"Sialan lu!"

Swan merasakan udara saat itu mengalir begitu sejuknya. la menoleh menatap Rose yang masih terlihat sewot. Swan menghela nafas. la merasa beruntung mempunyai teman seperti Rose yang telah mengenalkannya pada segala macam bentuk rupa dan aneka gaya kehidupan di ibukota. Swan menge­nangkan betapa diawal-awal pertemanan mereka dulu ia sempat menganggap Rose sebagai lintah asmara yang telah memporak-porandakan hubung­annya dengan Rain.

Saat-saat itu tentulah ia masih seorang perem­puan narsis yang sangat tidak memahami bagaimana sebenarnya perilaku dan cara bergaul orang-orang metropolitan, apalagi kalangan selebritis. Mengingat semua kejadian itu Swan jadi tertawa.

"Ngapain kamu ketawa kaya' orang gila?" ujar Rose.
"Hihihi...aku merasa lucu aja," jawab Swan masih sambil tertawa.
"Lucu? Memangnya ada nenek-nenek pakai bikini?"
"Bukan. Nenek-nenek latihan Tae kwon do. Hahaha...!"
“Gila lu...!"
"Aku cuman lagi nginget-nginget kapan dulu kita mulai akrab."
"Terus?"
"Dulu aku sempat berpikir negatif sama kamu."
"Terus?"
"Ternyata aku salah."
"Terus?"
"Kamu ternyata tidak seburuk yang aku kira."
"Terus?"
"Ternyata kamu lebih gila dari perkiraanku semula! Teruus…… teruuuss, kaya' tukang parkir saja kamu!”
"Hihihi...marah ya? Ngambek ya? Duilee...yang namanya OTB."
"Sialan...!"

Mobil terus melaju melintas di keramaian kota. Keriangan dan tawa terus saling berpadu di sepanjang jalan raya. Desing knalpot menderu-deru saling bersaing dengan sesama pengendara tak ada habis­-habisnya.

"Cowok tuh...!" teriak Swan sambil menunjuk arah di samping jalan.
"Siapa bilang kambing!" jawab Rose ketus. "Hihihi...biasanya kamu paling getol kalau liat cowok semiran?"
"Ya liat-liat dulu semirnya."
"Semir gimana maksudnya?"
"Ya semir rambut apa semir sepatu."
"Hihihi...kalau rambutnya disemir pake semir sepatu trus gimana?"
"Ya kakinya yang di atas trus kepalanya yang di bawah."
"Jadi akrobat dong?"
"Otaknya di dengkul! Hahaha...!"
"Berarti otaknya ada dua dong. Hahaha...!"
"lya, kaya' kamu."
"Kok kaya aku?"
"lya kaya' kamu. Otak satunya ada di kepala trus satunya lagi kamu taruh di pantat. Hahaha...!"
"Sialan !"
"Ya iya, satunya untuk berpikir dan satunya lagi..."
"Satunya apa?"
"Yang satunya? Untuk digilir!. Hahaha...!"
"Kucing!"

Mobil melaju mobil menderu. Canda berpacu tawa dituju. Diiringi lagu yang terdengar keras memekakkan telinga mobil menghilang di balik tugu.□
........................................................................................................

cermin terbelah.....


Sudden death in Sabath! Hari Sabtu yang mendebarkan, hari yang ditunggu laiknya pengadilan. Setelah hinggap selama tiga bulan lebih di kamar gunting Badan Sensor Film Nasional, akhirnya film Swan siap juga untuk diluncurkan. Gonjang-ganjing perihal film ini yang memang sengaja diekspos seba­gai satu bagian strategi untuk menunjang sisi marke­ting juga sudah dilakukan jauh-jauh hari.

Premiere film perdana Swan dilakukan di awal April dengan menumpang idiom April Mop yang diharapkan juga akan mampu menopang sensasi. Nampaknya semua sudah diperhitungkan dan diper­siapkan sedini dan secermat mungkin untuk mendu­kung kesuksesan film ini. Sedikit persoalan yang kemudian muncul justru terkait dengan mental dan keberanian dari Swan untuk menonton aktingnya sendiri. Di sinilah dominasi peran dari seorang teman seperti Rose yang kemudian menjadi menentukan.

"Rasa-rasanya aku nggak ada nyali, Rose," keluh Swan saat hendak menghadiri premiere.
"Ini jerih payah lu, Swan. Sudah sewajarnya apapun hasilnya kamu sendiri yang paling berhak pertama kali tahu."
"Ya, tapi..."
"Kalau misalnya ada perubahan gimana?"
"Perubahan?!"
"Misalnya tampilan kamu yang nggak sesuai aslinya? Atau kasus seperti Sun tempo hari ?"
"Hmmh..."
"Udahan. Ayo!"

Rose yang, justru tergopoh-gopoh menggamit lengan Swan untuk segera memasuki mobil jemputan yang akhirnya membawa keduanya seperti terbang menuju gedung theater di pusat kota.

Di depan loket masih banyak antrian penonton yang berjubel untuk mendapatkan tiket pertunjukan. Ketika Rose dan Swan sampai di lokasi itu para pengunjung yang melihatnya menyambutnya dengan memberikan aplausdan tepuk tangan yang membuat dada Swan kian terasa mekar dan berdebar-debar.

Keduanya mendapatkan tempat duduk di barisan muka, sejajar dengan para kritikus film, juga orang­-orang media. Lalu jelang ketika film hendak diputar Swan masih terlihat nampak belum mampu tenang benar mengatasi ketegangannya, Rose kian mende­katkan badannya ke arah Swan. Sebelah tangannya yang lembut meraih jari-jari tangan Swan yang terasa gemetaran dalam pangkuannya.

Film pun segera diputar. Segalanya berjalan normal-normal saja, segala sesuatunya nampak berjalan seperti biasa. Tak ada yang aneh, semua sesuai urut-urutan dalam skenario yang pernah Swan baca. Juga suspense yang kemudian muncul di per­tengahan cerita, serta pernak-pernik bahasa cinta.

Rose melirik. la melihat walaupun nampaknya Swan telah berhasil mengatasi ketegangannya, namun tak urung adegan demi adegan yang tampil di atas layar besar itu masih membuat Swan deg-degan layaknya anak yang baru menunggu kelulusan SMA. Rose tersenyum. Menyadari bahwa sahabatnya itu tengah memperhatikannya, Swan menjadi sedikit kheki lalu segera mencubitnya.

Nyaris sampai di penghujung dua pertiga film roman itu terasa sekali orang-orang mulai menahan nafas. Adegan itu seperti adegan paling romantis yang muncul dalam film nasional sepanjang tahun-tahun belakangan ini. Hening sekali ruangan. lbarat kata, jika sebatang jarum pun terjatuh dalam gedung pertunjukan saat itu, suaranya pasti akan terdengar.

Adegan terus berjalan mendekati akhir dari sebuah drama. Tegang dan klimaks. Romans yang panas tinggal meledak menunggu saatnya. Dada Swan berdegup kencang. laa merasa, jika ia mengingat kisah cerita sesuai skenario film yang ada seharusnya ketegangan dalam film itu sudah diakhiri. la sungguh tidak mengerti dari mana datangnya adegan tam­bahan.

Lalu ledakan itu datang juga tanpa diduga-duga. Mata Swan nyaris melotot, kedua kelopaknya terlihat berkaca-kaca. la tak tahu harus menangis, menjerit atau harus bersikap entah bagaimana. Di atas layar lebar, diantara lima ratusan pasang mata pengunjung yang memadati gedung. pertunjukan itu terpampang jelas bagaimana Swan memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya yang penuh dan telanjang. Mulus dan menantang.

Jantung Swan terasa beku dan seakan hendak copot dari tempatnya. Swan merasa pening bukan kepalang. Bagaimana mungkin adegan seperti itu bisa ada sementara ia merasa tidak pernah melaku­kannya? Swan merasa telah dieksploitasi.

Tidak kuat lagi. Swan berdiri, lalu segera berlari blingsatan mencari barisan tempat duduk kru film. Di hadapan para pengunjung yang mendadak heboh dengan tindakannya, Swan menuding kepala sutra­dara sambil berteriak-teriak, "Dusta! Dusta!" mem­buat para penonton saling pandang.

Rose segera menyusulnya. Di antara keremangan gelapnya gedung pertunjukan itu ia masih bisa melihat kaki Swan yang terhuyung-huyung lemas tanpa tenaga. Beruntung Rose bisa segera menangkapnya.□
.......................................................................................................

sedingin arca....


Jakarta di larut malam. Udara dingin kian terasa membekukan hati yang tengah tidak memiliki perasaan apa-apa. Swan menatap sudut keremangan kota dari jendela rumah kontrakan tingkatnya yang terbuka.

Lampu-lampu merkuri, billboard-billboard yang beraneka warna terlihat menyala-nyala di antara bangunan-bangunan pertokoan dan gedung-gedung bertingkat yang membentengi kota dengan dingin dan angkuhnya.

"Ibukota, bagaimana mungkin aku bisa melupa­kan luka atas perlakuan orang-orangmu terhadapku? Benar ternyata, seperti pepatah mengatakan, suka duka akan terus berputar dalam lingkaran tanpa sudut yang tak pernah jelas di mana muara dan kapan datangnya.


Hidup, sungguh menuai banyak pilihan. Aku, perempuan, penulis yang terjebak dalam pekatnya belantara nasib pencarian jati diri. Aku tak tahu kini bisakah aku kembali, atau masih sanggupkah aku untuk menempuh duniaku yang apa adanya?


Di dalam hari-hari yang pasti akan segera ber­ganti, di antara waktu-waktu yang akan terus terus bergulir, di sisa serpih dunia yang tidak pernah mau menunggu orang-orang yang berpikiran ragu-ragu, aku bertanya-tanya: Bisakah aku kembali...?"

Swan terisak. Bagaimana mungkin kedamaian hanya bisa didapatkan pada saat ia menulis, semen­tara kesuksesannya selama ini justru lahir dari dunianya sebagai seorang artis? Swan tercenung. la meraup lembaran kertas yang terbuang percuma di atas meja, meremas-remasnya, kemudian melempar­kannya keluar jendela.□
...............................................................................................................

hitam putih.....


Lima menit lepas dari pukul sembilan. Hujan yang masih mengguyur ibukota sepanjang pagi itu mem buat orang-orang merasa segan untuk keluar rumah. Swan masih nampak tertidur pulas di atas sofa di samping meja tamunya yang penuh kertas bercece­ran, sementara suara berisik dari pesawat televisi yang masih menyala entah sejak dari kapan tak sedikitpun mengusik lelapnya.

Moon hanya bisa mengelus dada melihat semua itu. Pagi ini dia memang berniat mengunjungi Swan. Sesudah mengucap salam namun tak ada jawaban, dia terkejut mengetahui pintu rumah Swan sama sekali tidak terkunci. Aneh dan tak masuk diakal pintu rumah seorang artis yang tengah beranjak namanya tak terkunci dan tanpa pembantu.

Moon mendesah. Betapa banyak perubahan hidup yang telah dialami Swan. Pertama kali perem­puan itu datang, Moon mengenalnya sebagai sosok seorang perempuan idealis yang sangat mengagung­kan estetika. Namun kini nampaknya semua itu telah berubah. Poster-poster film, guntingan klip iklan, foto­foto bercampur dengan naskah-naskah tulisan nam­pak bertebaran di mana-mana. Moon merasa kasi­han, dan ia juga tahu barangkali penyebab dari semua ini adalah kasus Swan sebagai seorang artis yang merasa telah dieksploitasi.

Moon memandang sekeliling ruangan, lalu sambil menjumput setumpuk naskah yang berisi tulisan­-tulisan tangan Swan dia berjalan menuju kursi yang terletak di sudut ruang. Kembali ia menghela nafas, lalu perlahan mulai membaca tulisan-tulisan dalam kertas yang sudah dipegangnya.

"Dalam hidup ada banyak cerita bagi suka dan duka untuk bisa safing berbagi, untuk bisa saling mengisi. Namun berapa persen sesungguhnya dari hidup ini harus terisi kedukaan untuk bisa menunjuk­kan bahwa hidup ini memang seadil-adilnya? Juga, berapa persen sesungguhnya dari hidup ini boleh mendapatkan kesukaan untuk bisa memberikan gambaran bahwa kegembiraan yang kita nikmati ini sudah apa adanya?


Betapa seringnya kita memilih diri untuk bisa berubah-ubah peran sekehendak hati, setiap waktu. Bisa saja kita kemarin menjadi lawan, kemudian kini kita sudah berkawan. Lalu esok, entah kita akan ber­ubah menjadi apalagi, Seorang kekasih? Teman? Atau menjadi seteru kembali? Atau perlahan-lahan kita akan memilih berubah menjadi dewa yang seakan­-akan bebas menentukan apa yang akan terjadi dengan nasib kita semua?


Dunia ternyata terus berevolusi tidak perlu menunggu dalam hitungan abad, windu, tahun, bulan, bahkan hari-hari. Di zaman yang sangat ketat dengan segala hal yang sifatnya kompetitif ini, dunia berevolusi dalam hitungan detik.


Dunia bahkan berevolusi dalam sepersekian detik ketika perubahan pola pikir dan logika manusia dimulai. Di atas semua itu yang tersisa hanyalah symbol-simbol kasih sayang, kekuatan cinta, yang tak hancur dan tak lekang karena goresan waktu yang terus menerpa seiring kisah perjalanan manusia…... "


Moon terperangah. la merasa terkejut dengan apa yang ia temukan dalam tulisan-tulisan Swan. Atau sejujurnya semua ini adalah refleksi dari kenyataan hidup yang selama ini dialami Swan?

"Fana….. fana dan maya. Kebanyakan dari kegem­biraan ternyata selalu berumur lebih pendek diban­ding penderitaan yang harus kita alami sepanjang perjuangan kita dalam mengatasi tugas-tugas mulia sebagai seorang manusia.


Saat kita larut dalam suka, nampak semua hadir bagai halusinasi. Sahabat-sahabat baru datang, berbagai idiom dikibarkan. Selebihnya senyap, karena kita tahu kekuasaan yang dimiliki tak akan pernah abadi. Kebersamaan juga tak akan pernah abadi, kecuali mereka-mereka yang menampakan wajah cinta melalui ketulusan hati yang tak ternodai. Sebetapa pun suasananya, sebetapa pun adanya..... "

"Eh ...kamu, Moon?"

Moon tersentak. la sampai tak sadar Swan sudah menggeliat bangun dan kini tengah memandang ke arahnya. Sejenak Moon menatap ke arah Swan. la melihat perempuan itu nampak kecapaian, matanya masih kuyu dan rambutnya awut-awutan.

"Iya. Sudah bangun kamu?"
"Belum begitu. Hihihi...ada-ada saja kamu, Moon. Masa-orang tidur bisa omong-omongan?"

Mendengar celoteh Swan, Moon jadi tersenyum. Swan perlahan bangun lalu menggaruk-garuk kepala­nya seraya melongok ke arah jam di dinding.

"Ups, ternyata sudah siang. Kamu sudah lama, Moon?"
"Baru juga satu jam."
"Satu jam? Yang bener saja, Moon? Kok nggak ngebangunin aku?"
"Kamu pules banget kaya' kucing sih."
"Hihihi...aku capek banget, Moon. Semalem abis nglembur nulis," ucap Swan sambil berdiri.
"Kamu harus lihat tulisanku yang baru, Moon," Swan melanjutkan.

Dengan langkah masih sempoyongan Swan ber­jalan mengitari ruangan. Nampaknya ia tengah men­cari-cari sesuatu.

"Di mana ya? Perasaan semalem aku taruh di sini."
"Ini yang kamu cari, Swan?" tanya. Moon.
"Mana?" jawab Swan sambil mendekat ke arah Moon.
"Ini," Moon memperlihatkan kertas-kertas yang masih dipegangnya.
"Iya, iya. Kamu sudah membacanya?"
"Sebagian."
"Bagaimana menurut kamu?"
"Bagus. Kamu banyak sekali kemajuan. Sudah ada tawaran?"
"Belum. Kamu tertarik?" tanya Swan sambil menggaruk punggungnya.
"Aku baru lihat sebagian."

Moon nampak menggeliatkan badannya untuk mengusir pegal-pegal. Swan berjalan masuk ke dalam. Di ambang ruang makan ia bertanya kepada Moon. Mulutnya menguap, tanda kantuknya belum hilang benar.

"Kamu mau minum apa, Moon?"
"Nggak usah repot-repot, Swan."
"Aku bikinin kopi ya? Sekalian. Aku nggak bisa ngapa-ngapain sih kalau bangun tidur belum minum kopi,”
"Terserah kamulah, Swan."
"Santai aja, Moon. Kamu boleh baca tulisanku sesuka hati."

Swan. Perubahan pada perempuan itu sungguh sangat drastis. Saat ini Swan terlihat begitu ‘no comment' terhadap sesuatu yang prinsipil. Perem­puan itu nampaknya sudah menemukan jati dirinya.

"Semalem Rose juga ke sini. Sampai malem, mungkin juga sampai pagi. Aku malah nggak tahu dia pulang jam berapa," ucap Swan sambil menyorong-kan minuman.
"Minum dulu, Moon. Mumpung masih hangat."

Tanpa menunggu ditawari dua kali Moon lang­sung mencicipi kopi yang telah dibuatkan Swan. Betul, hangat dan nikmat.

"Trus, apa kesibukanmu sekarang?" tanya Moon.
"Ya masih seperti dulu, plus sesekali main iklan" jawab Swan sambil meraih remote control untuk menyalakan CD player di sudut ruangan.
"Main filmnya?" mata Moon menyelidik.
"Kapok, Moon. Takut kasus lagi," jawab Swan seraya menggulung rambutnya.
"Baru pertama saja sudah mutung," olok Moon sambil senyum.
"Aku pengin kembali nulis, kembali ke dunia lamaku," jawab Swan tanpa mempedulikan komentar Moon.
"Aku lihat tulisan kamu makin bagus."
"Artinya?"
"Kita lihat saja nanti, Swan. Eh, kamu sudah ketemu Rain? Kabarnya dia sudah balik dari pentas di luar negeri."
"Ah, Moon..." Swan menyergah.
`Ya sudah, aku balik dulu. Ntar kalau ada sesuatu aku kabari," ujar Moon sambil melangkah keluar pintu.
"Nggak main-main dulu?"
"Aku ada acara. Eh, tulisan kamu cepat kelarin ya?"
"OK, Moon."

Swan mengantar Moon sampai hilang dari tikun­gan. Gerimis masih turun perlahan. Swan mengge­liatkan badannya, mulutnya kembali menguap. Ups! Hari-hari tidur kembali dimulai.□
........................................................................................................
hari tak bernama....


Swan menutup pintu. la terlihat merenung, me­langkah gontai dalam ruangan. Disebutkannya nama Rain membuat segala kenangan yang nyaris terkubur kembali terbayang. Ada getaran rasa yang tiba-tiba saja memukul-mukul sangat keras di dalam dadanya. Swan mendesah, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas pembaringan.

"I feel the beat, aku merasakan ada debaran di jantungku. Rain, kenapa nama yang satu ini selalu menjadi persoalan bagiku dalam menjalani semua­nya? Cinta telah datang dengan begitu mudahnya, cinta yang fana namun mempesona. Aku tak peduli…….


Taburan seribu kenangan tidak boleh menjadi satu langkah sesal yang akan memberatkan langkahku. Namaku Swan, aku penulis. Yang telah terjadi biarlah terjadi. Aku akan menggenggam kepastianku, aku akan tetap menulis…..."

Di luar rumah gerimis mulai reda. Swan menim­buni tubuhnya dengan selimut dan bantal. la mencoba meredakan sebuah gejolak rasa yang terus berdentum-dentum dalam jiwanya. Namun tak mampu, sia-sia semua itu ditolaknya. Swan merintih, ia merasa tersiksa, "Rain ...ah Rain....!"□

bersambung........
___________________________________________________________________
DAUN GUGUR DI MANGGARAI, GUSBLERO © 2000
Naskah ini pernah diterbitkan Focus Grahamedia (2006)
Jl. Sepakat II No. 73 Cilangkap – Cipayung, Jakarta Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar