just ordinary people's blogs

You can take any content from here, quite simply by including the source...

Rabu, 05 Oktober 2011

BUMI MAKIN PANAS

HANYA KARENA MEREKA TAK SEBERUNTUNG KITA?   
  Gusblero

Masih belajar untuk memahami perilaku wakil rakyat indonesia sekarang ini, bagaimana sebenarnya mereka melakukannya?

1.    Sebagai ilustrasi awal silakan simak REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Pimpinan dan anggota DPR RI dilarang ke pelacuran dan perjudian. Namun, mereka baru diperbolehkan ke tempat pelacuran dan perjudian untuk kepentingan tugas resmi sebagai anggota DPR. Itulah salah satu peraturan dalam  kode etik yang disetujui dalam rapat paripurna DPR RI di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Selasa (29/3). Tugas dinas apaaa???

2.    Sementara banyak nasib rakyat sekarat dan  terancam  masa depannya, DPR malah ngotot membangun gedung mewah. Klo yang ini mah udah jelas, ya untuk bermewah-mewahan! Mungkin untuk mewujudkan ruang privasi yg nyaman agar kondom tidak tercecer di mana-mana (spt dikisahkan om Radhar Panca dahana di Metro TV), nonton video bokep di ruang spa, dan membargaining konstituen di ranjang aspirasi libidonya??? Auk ah elap...itu baina-baina. Yang jg sulit dipahami adalah bagaimana kemudian anggaran pembangunan gedung itu bisa drop dari angka 1,8 triliun lalu jadi 1,2 triliun begitu saja, padahal dg maket pembangunan yg sama. 600 miliar itu trus tadinya buat apaaa???

Mungkin banyak anggota dewan kemudian tahu dan lalu cemburu, bahwa ternyata dr rangkaian kasus pajak sj sudah begitu banyaknya ternyata duit negara dikorup, lalu mereka latah dan harus mendapat bagiannya. So, mereka melakukan penggarongan terselubung? Lhah kalo emang begitu, kenapa tidak kita melakukan penggarongan itu bersam-sama saja? Ato mungkin ada baiknya negara ini kita jual sepenuhnya saja kepada siapa penawar tertinggi, lalu kita sama-sama pindah dan hidup di luar negeri???

Ada suatu masa ketika moral dianggap sebagai sebentuk kitab tak tertulis, mediasi bagi proses inisiasi manusia menuju pencerahan akan hidup yg lebih baik...ada masa ketika pamali dan tabu yang tumbuh sbg traktat justru kemudian lebih menyelamatkan dlm segala relasi sosial yg ada, ketimbang hukum yg penuh dg sanksi dan diwarnai jual beli....pada sesi ini kita melihat moral masih berdiri dengan karakternya yang kuat dan benar-benar menolak dosa....bahwa kejahatan thd nilai-nilai moral adalah juga kejahatan terhadap Tuhan...

Tapi itu duluuuu. Dan hari ini di dunia yg sama....dalam kurun jauh yg sungguh berbeda kita menganggap semua kejadian2 itu...seluruh kisah2 moralistik itu...tetap berdiri hanya sebagaimana bentuknya kisah yg tak meninggalkan pelajaran apa-apa....

Dan yang paling ironis, kita melakukannya dengan pemikiran bahwa hal itu tak membuat dampak apapun terhadap hidup, karena kita tak selamanya melakukannya. Padahal, entah selamanya ataupun tidak, kita tetap melakukannya. Seperti dalam kitab kebaikan tertulis “BARANGSIAPA SETIA DALAM PERKARA-PERKARA KECIL, IA JUGA SETIA DALAM PERKARA-PERKARA BESAR. DAN BARANGSIAPA TIDAK BENAR DALAM PERKARA-PERKARA KECIL, IA TIDAK BENAR JUGA DALAM PERKARA-PERKARA BESAR...” (Lukas 16:10)

So, semenit atau bertahun-tahun bukanlah alasan kita untuk melakukan dosa. Dan sangat berdampak pada masa depan dan panggilan kita, karena Tuhan takkan mempercayakan suatu perkara yang besar, jika menjaga kekudusan atas diri kita saja tak bisa kita lakukan....

Sy teringat kasus Anis Matta. Lalu isu itu belum juga reda muncul kelakuan parno Arifinto dalam sidang, yg kemudian secara jitu oleh Metro TV diberi tajuk Sidang Pariporno. Lalu bagaimana sy bisa percaya ato tidak percaya. Dalam Matius 6:22-23, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;  jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Jelas sekali menyebutkan bahwa terang atau gelap hidup kita bergantung pada apa yang kita lihat, jika kita melihat setumpuk dosa tak akan ada masa depan untuk kita. (mohon maaf meski sy muslim, namun sy merasa lebih nyaman menggunakan ayat-ayat ini utk membandingkan hukum causa).

Banyak kesalahan sudah yg dilakukan para anggota dewan, pun begitu mereka tetap arogan, dan menganggap kritikan hanya sebatas ketidaksamaan kedudukan dg mereka yg sekarang : MEREKA HANYA TAK SEBERUNTUNG KITA???

Ya. Banyak memang kelas masyarakat tak beruntung di negeri ini. Mereka yg menyuarakan pendapat dianggap menghambat program, mereka yang mengingatkan satu dan lain hal dianggap hanya refleksi kecemburuan. Hingga mengingatkan anggota DPR yang sekarang itu ibarat menambal selembar kertas usang yang sudah rusak dan layak dibuang. Mo direkatkan bagaimana, mo ditambal bagaimana....lagi????

Vox populi vox dei? Taik kucing! Mereka yang berkuasa justru kini lebih memilih memegahkan diri...maaf!!!

 _________________________________________________________________
* 9 April 2011, ditulis dipagi hari saat wajah presiden sudah hilang sama-sekali dari layar tivi....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar